
Edgar langsung bengong saat di dalam ruangannya. Lalu menarik nafas panjang. Setiap kata yang disampaikan oleh Mentari selalu terngiang-ngiang di dalam benaknya.
''Istriku memang benar.'' gumamnya.
''Apa salahnya dengan Jimmy?''
''Bukankah seharusnya aku bersyukur.''
''Jimmy sangat setia denganku, dia juga pekerja keras.''
Edgar terus bergumam, bayang-bayang tentang Mentari yang terus memintanya untuk tidak marah. Bayang-bayang sang adik yang menangis tersedu-sedu saat berhadapan dengan restu yang tidak didapatkannya dengan alasan masih kecil.
Edgar menjadi terenyuh.
Selain bekerja untuk Edgar, tentu saja Jimmy sudah mempersiapkan untuk segala masa depannya kelak. Gaji yang ia dapatkan selama ini tidaklah sedikit. Raymond pun sangat loyal karena dedikasi tinggi yang sudah diberikan oleh Jimmy. Terutama saat masa-masa terpuruk dari seorang Edgar.
Jimmy sudah memiliki beberapa aset, salah satunya bisnis properti dan juga produksi perlengkapan olahraga yang sudah memiliki beberapa cabang.
Edgar tak berniat matrealistis terhadap calon pasangan sang adik. Tetapi ia tidak ingin melepaskan adik kesayangannya itu dengan pria yang tidak jelas.
Erin sudah tumbuh dengan kasih sayang dan juga segala fasilitas yang diberikan oleh kedua orangtuanya. Orangtua tentu saja berusaha memberikan yang terbaik.
''Apa aku harus mengatakan ... ''aku merestui kalian'' begitu?''
Edgar masih mempertimbangkan. Hati dan pikirannya pun masih saling beradu.
''Aarrgh!!''
''Aku belum siap melihat Erin di sentuh pria lain.''
Edgar langsung terdiam ketika ada yang terlintas di benaknya. Ia pun langsung menegakkan posisi duduknya.
''Wait ... berarti waktu wisuda Erin kemarin???''
''O, o.... aku paham sekarang.''
Edgar menghentikan pikirannya yang sedang berkutat tentang sang adik dan juga Jimmy. Waktu terus berjalan, ia memeriksa beberapa berkas yang memerlukan tanda tangannya.
__ADS_1
Jam 16.50 WIB, Jimmy baru bersiap-siap untuk meninggalkan kantor. Ia langsung menyelesaikan pekerjaan supaya tidak terjadi lembur nanti malam.
Jimmy meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Setelah selesai, ia langsung menyambar kunci mobilnya yang berada di atas meja.
Para karyawan lainnya sudah meninggalkan gedung tersebut. Jimmy berjalan dengan bersiul-siul lirih.
Saat yang bersamaan, Edgar juga baru saja keluar dari ruangannya. Jimmy pun langsung terdiam sejenak lalu membungkukkan badannya. Tak lupa untuk tetap memancarkan senyum, meskipun tipis.
Edgar membalas senyuman Jimmy meskipun hanya sangat tipis, lebih tipis dari senyum Jimmy dan hanya sekelibatan.
''Tidak salah kah tuan Edgar senyum?'' bathin Jimmy bertanya pada diri sendiri.
Edgar sudah mendahului meninggalkan Jimmy yang masih cosplay jadi patung.
''Waahhhh! hahaha''
Jimmy langsung sumringah, ia spontan tertawa sendiri.
''Pertanda baik.'' gumamnya.
Rumah Raymond
''Terima kasih, sayang.'' ucap Edgar yang langsung melebarkan kedua tangannya.
Mentari pun langsung duduk di atas paha Edgar dengan mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.
''Tadi tidak marah-marah, 'kan?'' tanya Mentari yang masih khawatir dengan nasib Jimmy.
''Sedikit, hehe''
''Kok sedikit, Mas? berarti masih marah?''
''Hmm, kasihan sekali uncle Jimmy.'' gumam Mentari langsung tertunduk.
Edgar tidak suka melihat ekspresi sang istri yang kasihan terhadap Jimmy. Apalagi hari ini keduanya sama-sama saling kompak merasa kasihan satu sama lain, rasanya semakin membuat dadanya bergemuruh dan mendidih.
''Aku sudah berusaha baik sama Jimmy, tidak perlu dikasihani.'' protes Edgar.
__ADS_1
Mentari kembali menatap mata sang suami dengan lekat.
''Kalau lagi cemburu juga semakin tampan.'' goda Mentari lalu menoel-noel hidung mancung Edgar.
Bagaimana bisa marah dalam waktu yang lama jika harus berhadapan dengannya yang selalu bisa membuatnya tersenyum. Ketika marah pun, juga tidak benar-benar terjadi.
''Tentu saja aku cemburu, sayang. Tadi Jimmy juga memintaku supaya tidak memarahimu. Dia juga membahas rasa khawatirnya terhadap kehamilan istriku, huuhhh bisa-bisanya kalian kompak seperti itu, saling melontarkan perhatian.'' gerutu Edgar.
Mentari terkekeh gemas melihat ekspresi wajah Edgar.
''Sama calon adik iparnya sendiri jangan cemburu dong, sayang.''
''Jangan bahas itu dulu." balas Edgar.
''Kapan-kapan double date, ya.'' goda Mentari.
Edgar langsung melirik sang istri. Permintaan macam apa ini. Meskipun dulu sering bersama, tetapi tidak terpikirkan untuk menjadi seperti ini diantara Jimmy dan juga Erin.
''Mas.'' panggil Mentari.
Edgar menoleh.
''Aku minta maaf, soal wisuda Erin. Itu memang ideku dan saat itu aku sudah tau tentang hubungan mereka.'' ucap Mentari.
''Iya, aku sudah menebak.'' jawab Edgar.
Edgar membelai rambut dan wajah sang istri. Ia menelusuri setiap inchi wajah yang menjadi chubby.
''Maafkan aku masih sering terpancing emosi.'' ucap Edgar.
Mentari tersenyum tipis lalu mengangguk.
''Keburu dingin, Mas.'' ujar Mentari menunjuk gelas di meja.
''Oh iya, maaf hampir lupa.'' ucap Edgar.
Mentari membalas dengan senyum. ''Aku turun dulu.''
__ADS_1
Mentari sudah beralih duduk di sebelah Edgar yang sedang menyeruput kopi hangat.