
Beberapa waktu kemudian
Setelah pencabutannya dari masa tahanan, Ardi sudah kembali fokus pada usahanya yang sempat ia tinggal. Untung saja orangtuanya bisa menghandle usahanya itu, sehingga sekarang kembali berjalan stabil setelah pernah hampir mengalami kebangkrutan.
Selama ini, Ardi selalu menghindari pertemuan dengan keluarga Edgar karena merasa belum pantas untuk bertemu. Rasa bersalahnya masih begitu besar, apalagi saat berjumpa dengan Edgar. Karena memang selama ini, yang baru ia jumpai hanyalah Edgar. Sedangkan dengan om dan tantenya, Ardi berkomunikasi melalui sambungan telepon, terutama saat mengucapkan maaf dan terima kasih.
Meskipun Edgar beberapa kali memintanya datang ke rumah saat kedua orangtuanya datang berkunjung, Ardi memiliki banyak alasan mengenai kesibukannya, hanya orangtuanya saja yang datang. Kebetulan Ardi juga tengah berada di kota lain, sehingga alasan itu bisa diterima.
''Bukankah ini sudah mendekati waktu Dira melahirkan?'' gumam Ardi sembari menatap pintu ruangannya.
Ardi terdiam, tangan kanannya memainkan pena sembari jempol tangan kirinya menekan-nekan dagu. Ingin rasanya ia bertemu, bagaimanapun juga benar apa yang dikatakan oleh Edgar, mereka tetaplah keluarga. Edgar dan keluarga sudah memaafkan kesalahannya.
Tapi, bertatap muka dengan Edgar dan keluarganya membuat Ardi masih berpikir keras. Ia takut perasaan lamanya kembali tumbuh seperti dulu. Ardi menarik nafas panjang.
''Bisakah kamu benar-benar berdamai wahai hatiku?'' gumam Ardi.
Di tempat lain
Mentari tengah memandangi hasil foto kehamilannya bersama suami tercinta dan keluarga. Ia yang menerima file dari suaminya terus menggeser-geser layar ponselnya.
''Sebentar lagi kita akan berjumpa ya, Nak.'' ucap Mentari lirih sembari mengusap lembut perutnya sendiri.
Drrtt drrtt
Nama ''My Husband'' tertera di layar ponselnya yang tengah melakukan panggilan video. Mentari tersenyum tipis lalu menjawab panggilan masuk itu.
''Gimana, sayang?'' tanya Edgar.
''Bagus banget, Mas, aku suka banget sama hasil foto-fotonya.'' jawab Mentari lalu diikuti senyum lebarnya.
Pasangan suami istri itu pun mengobrol ringan yang disertai candaan, apalagi Edgar baru selesai meeting dan belum ada kegiatan yang mendesak.
__ADS_1
Ada yang berbeda dengan meeting hari ini, ia hadir di kantor cabang seorang diri karena Jimmy sedang memiliki kepentingan ditempat lain.
''Sayang, sebentar ya, ada Jimmy.'' ujar Edgar di tengah obrolan mereka. Jimmy masuk ke ruangan Edgar dengan membawa sesuatu.
''Oh, iya-iya Mas, matikan aja.'' balas Mentari.
''I love you.'' ucap Edgar mendekatkan bibirnya ke layar ponsel agar tidak terdengar oleh Jimmy.
Mentari terkekeh kecil.
''We love you, Papaaa.'' balas Mentari yang ikut-ikutan berbisik.
Keduanya sama-sama tersenyum, lalu Edgar menyudahi panggilan video itu.
Jimmy mengambil nafas panjang, lalu menghembuskan pelan-pelan ke arah samping.
''Saya mendengar suara anda dengan sangat jelas, Tuan ... sudah biasaaaaa, aku rapopo, serius.'' bathin Jimmy yang kembali dengan wajah cool-nya. Tak lupa juga senyum santunnya ia keluarkan di hadapan bosnya itu.
Jimmy mengangguk lalu melangkah maju dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Edgar.
''Saya sudah mendapatkan informasi tentang orang itu, Tuan.'' ujar Jimmy yang kemudian menyodorkan map di atas meja Edgar.
''Saya juga sudah bertemu dengan orang itu.'' lanjut Jimmy.
Edgar langsung menghentikan jarinya yang baru menyentuh map itu.
''Bertemu?'' tanya Edgar dengan tatapan matanya yang tajam pada Jimmy.
Jimmy mengangguk. ''Anda bisa cek dulu isi dari map itu, Tuan.'' ujarnya.
Edgar langsung membuka map yang dibawa oleh Jimmy itu. Ia memulai membacanya, sorot matanya tiba-tiba menajam, lalu keningnya juga mengernyit. Jimmy hanya bisa menyimak sebelum dimintai pendapat oleh bosnya itu.
__ADS_1
Selain tulisan, map itu juga berisi beberapa foto yang membuat Edgar semakin menarik nafas panjang.
''Siang nanti tidak ada meeting, 'kan?''
''Iya, Tuan, tidak ada.'' jawab Jimmy.
''Kita kesana.'' ajak Edgar dengan yakin.
''Baik Tuan.'' jawab Jimmy.
''Kamu silahkan istirahat dulu, Jim. Nanti kita lanjutkan pembahasan ini setelah makan siang. Sepertinya aku masih shock.'' suruh Edgar sembari memijat-mijat pelipisnya.
''Baik, Tuan. Saya permisi.'' pamit Jimmy.
''Hmm.''
Jimmy langsung meninggalkan ruangan Edgar. Sementara Edgar yang kembali sendiri di ruangannya pun membuka ulang map yang berisikan beberapa lembar foto, surat yang merupakan tulisan tangan dan sudah terlihat kusut karena sepertinya dilipat dalam waktu yang lama, dan juga surat keterangan medis.
''Jadi, ini alasannya?'' gumam Edgar.
...****************...
Hai semuanya, Kakak-kakak readers tersayang πβ€οΈ
Mohon maaf karena dibuat menunggu lagi cerita ini dilanjutkan π
Terima kasih banyak atas dukungannya dan perhatiannya.
Terima kasih yang sudah mengirimkan pesan ke Cimai dan menanyakan keadaan Cimai. Alhamdulillah Cimai dalam keadaan sehat ya.
Alhamdulillah mbahnya Cimai juga sudah mulai membaik. Semoga kalian semua selalu dalam keadaan sehat juga ya πβ€οΈ
__ADS_1
Terima kasih sekali lagi untuk Kakak-kakak semuanya π