
Jimmy merencanakan makan malamnya bersama dengan Erin merupakan rencananya sepihak. Ia belum mengutarakan hal itu pada sang kekasih. Dan sekarang waktunya ia untuk mengatakan supaya besok saat dirinya meminta izin, Erin tidak terkejut.
''Aku lagi kesel sama kak Edgar.'' adu Erin pada Jimmy melalui sambungan video call itu.
Jimmy langsung menegakkan duduknya sembari menatap layar laptop.
''Ada apa dengan kakak kamu, sayang?'' balas Jimmy.
Dengan bibirnya yang mengerucut, Erin menceritakan kejadian sore hari tadi bersama sang kakak. Rupanya cerita mengenaskan versi Erin justru membuat Jimmy tergelak yang berusaha ia tahan. Bagi pria itu, ekspresi Erin saat bercerita benar-benar totalitas tanpa batas sehingga membuat Jimmy juga merasa gemas.
''Kenapa pada ketawa, sih?!'' protes Erin.
''Nggak Kakak, nggak kak Mentari, nggak papi, nggak mami, apalagi kak Edgar, huh!''
''Haha, maaf sayang.'' ucap Jimmy masih dengan tawa yang ditahannya.
''Mau bagaimana pun juga, kamu tetap cantik kok, sayang.'' puji Jimmy.
Erin langsung tersenyum sekilas. ''Bohong! mana ada acak-acakan dibilang cantik.'' protesnya.
Jimmy langsung terkekeh.
''Nggak usah khawatir, sayang. Bukankah nanti kalau kita menikah, bagaimana pun keadaan kita, mau rapi atau kucel, semua itu akan nampak, bukan?'' tanya Jimmy.
Erin langsung nyengir. Kenapa nyambungnya ke menikah, sih. Erin 'kan langsung jadi deg-degan.
''Lagian Kakak sudah melihatmu yang acak-acakan, nyatanya sekarang jadi cinta.'' tutur Jimmy sembari mengingat beberapa tahun yang lalu.
Erin langsung menutup wajahnya dengan boneka. Wajahnya sudah pasti berwarna merah seperti udang rebus.
''Sayang, Kakak mau bicara.'' ujar Jimmy.
Erin langsung menurunkan boneka tersebut. Wajahnya pun sudah tidak merah lagi. Kini berubah menjadi dahi yang mengernyit dengan tatapan mata curiga bercampur rasa penasaran yang tinggi.
''Kak Jimmy mau bicara apa? jangan aneh-aneh ya.'' ujar Erin yang sudah mewanti-wanti.
Jimmy tertawa kecil.
''Curiga mulu deh. Nggak kok, ini aman pakai banget.'' jawab Jimmy dengan senyum yang bertahan di bibirnya.
''Apa?'' tanya Erin semakin penasaran.
''Emm, sebentar lagi kamu 'kan balik ke luar negeri. Kakak akan izin ke tuan Erick untuk ajak kamu makan malam besok.'' jelas Jimmy.
Erin langsung terbelalak.
''Ha? mana mungkin bisa, Kak. Aku mana berani, nanti kak Edgar pasti bakal marah-marah juga. Terus curiga kalau ini akal-akalan kita aja buat pergi berdua. Kakak tau sendiri 'kan gimana kak Edgar.'' keluh Erin sembari membayangkan wajah sang kakak yang lagi mode galak. Seketika tubuhnya pun langsung merinding.
Jimmy justru tertawa kecil sehingga membuat Erin semakin mengernyitkan dahinya karena merasa tidak ada yang salah dari apa yang ia katakan, apalagi sesuatu yang lucu.
''Sepertinya justru kamu yang curiga sama kakak kamu, sayang.'' ujar Jimmy.
''Kok jadi aku?'' balas Erin dengan menunjuk pada dirinya sendiri.
Di layar ponsel Erin, tampak Jimmy tersenyum dengan manis menatap sang kekasih.
''Tadi waktu masih di kantor, Kakak sudah izin sama tuan Edgar. Dan kakak kamu sudah mengiyakan. So, besok pagi Kakak tinggal izin sama calon mertua, hehe''
''Kakak nggak bohong, 'kan?'' balas Erin memastikan.
__ADS_1
''Tidak, sayang. Boleh langsung tanyakan ke kakak kamu.'' balas Jimmy dengan senyum memberikan tantangan untuk kekasihnya itu.
Erin langsung terdiam, ia mengingat-ingat kembali sikap sang kakak akhir-akhir ini. Ingatan itu membuat bibirnya membentuk sebuah senyuman. Bahkan tadi sore Edgar tidak ragu membawa nama Jimmy di dalam candaan mereka. Apakah ini artinya Edgar benar-benar sudah siap untuk melepaskan masa lajang Erin?
Erin hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati. Untuk mengetahui jawabannya, nanti akan terlihat seiring dengan berjalannya waktu.
''Iya, sekarang aku percaya kok sama Kak Jimmy.'' ujar Erin setelah selesai mengingat-ingat.
''Tapi, kalau papi nggak kasih izin gimana?'' imbuhnya.
''Emm, itu urusan belakangan, sayang. Yang penting Kakak sudah mencoba dulu.'' jawab Jimmy.
Erin tersenyum tipis tanpa menjawab dengan perkataan.
''Kamu nggak mau pergi makan malam sama Kakak ya?'' tanya Jimmy dengan wajah sedih sehingga membuat Erin langsung panik.
''Loh, bukan gitu, Kak. Aku mau, mau banget malah. Maafkan aku..,'' ucap Erin.
Jimmy pun langsung tertawa kecil. Pancingan yang ia lakukan ternyata berhasil meskipun gerutuan langsung ia terima dari sang kekasih.
Sementara itu, di balkon kamar pasangan suami istri sedang menikmati malam hari ini sembari menatap bintang-bintang yang bertebaran di langit.
"Terasa cepat ya, Mas? tadi malam kita disana, sekarang disini lagi.'' ujar Mentari yang duduk dengan memangku kepala Edgar.
Malam ini Edgar bersikap sangat manja. Mentari memangku kepala Edgar dengan memberikan usapan lembut. Saking nyamannya, Edgar bisa memejamkan kedua matanya.
Edgar yang mendengar suara Mentari pun langsung membuka matanya. Karena sedari tadi kedua matanya ia pejamkan.
''Iya, sayang, sangat cepat sekali.'' jawab Edgar lalu duduk dengan tegak.
''Kok nggak tiduran lagi, Mas? kenapa?'' tanya Mentari.
Mentari pun tersenyum tipis. Sekarang gantian Mentari yang menyandarkan kepalanya di dada Edgar.
-
-
Keesokan paginya, Jimmy menepati janjinya untuk datang ke rumah Raymond. Meskipun perasaannya gugup, ia harus tetap yakin.
Ia sudah tiba di rumah tersebut tepat setelah keluarga itu selesai menyantap menu sarapan.
''Mohon maaf, Tuan, Nyonya ... ada hal yang ingin saya sampaikan.'' ucap Jimmy setelah selesai berbincang mengenai pekerjaan.
''Oh, iya, boleh. Silahkan, Jim.'' jawab tuan Erick.
Edgar sejak tadi sengaja membawa Mentari ke ruang keluarga karena Jimmy dan kedua orangtuanya berada di ruang tamu. Sementara Erin menanti respon papinya dengan perasaan dan pikiran yang sudah sulit untuk dijelaskan.
''Tuan ... Nyonya.''
Pasangan senior itu pun menatap Jimmy dengan rasa penasarannya. Karena raut wajah Jimmy sudah menggambarkan keseriusan.
''Sebelum anda kembali ke luar negeri, saya ingin mengajak Erin untuk pergi makan malam. Tepatnya nanti malam jika diizinkan.'' ungkap Jimmy dengan hati-hati.
Papi dan mami langsung tersenyum tipis. Mereka saling menatap untuk membuat kesimpulan, tak lama kemudian keduanya sama-sama mengangguk dan kembali menatap Jimmy yang sudah sangat menantikan responnya.
''Pergilah, Jim. Asalkan kamu tidak menjaga kepercayaan yang sudah kami berikan padamu.'' ujar mami.
Senyum Jimmy pun langsung menjadi lebar.
__ADS_1
''Terima kasih, Tuan. Terima kasih, Nyonya.'' ucap Jimmy.
"Saya berjanji tidak akan membuat kecewa.'' sambungnya.
Papi dan mami pun tersenyum.
''Dan jangan lupa untuk izin sama Edgar juga ya, Jim.'' ujar mami.
Jimmy mengangguk. ''Baik, Nyonya.'' jawabnya
Di ruang keluarga, Mentari bertanya pada Edgar. ''Mas, Jimmy ada perlu sama papi dan mami ya?''
''He'em, kemarin izin mau ajak Erin makan malam.'' jawab Edgar.
''Wow! oh ya?'' balas Mentari antusias.
''Kamu kelihatan santai, Mas. Tidak marah?'' tanya Mentari.
Edgar pun tersenyum lalu mendaratkan kecupan manis di kening Mentari.
''Tidak. Ya sudah aku keluar dulu ya, sayang. Mungkin Jimmy sudah selesai juga.'' jawab Edgar.
Keduanya pun langsung beranjak dari sofa. Seperti biasa Mentari mencium punggung tangan suaminya sebelum berangkat bekerja.
''Ssttt, Kakak!'' pekik Erin sembari berjalan ke ruang keluarga yang masih ada Mentari disana.
''Kamu darimana?'' tanya Mentari ketika adik iparnya itu sudah berdiri disebelahnya.
''Dari dapur, hehe''
''Ngapain?'' balas Mentari.
''Nungguin kak Jimmy mau bicara sama papi mami.'' jawabnya.
Mentari terkekeh kecil.
''Cie cieee, jangan lupa dari sekarang dipersiapkan pake baju seperti apa.'' goda Mentari.
''Kakak ih, jangan godain terus, aku malu.'' protes Erin.
''Hihi, nggak kok. Ya sudah sana ke kamar, siap-siap milih baju. Kalau nggak ada yang cocok, baju Kakak banyak yang belum kepakai tuh.'' ujar Mentari.
Perkataan Mentari langsung membuat kepala Erin muncul sebuah lampu.
''Sepertinya itu ide yang bagus. Aku akan pakai baju kak Mentari.'' jawab Erin dengan yakin.
''Let's go kita milih-milih baju sekarang.'' ajak Erin lebih semangat.
Tanpa menunggu informasi dari ruang tamu, kedua wanita itu langsung bergegas ke kamar Mentari. Erin pun dibuat melongo dengan lemari pakaian sang kakak ipar yang masih banyak pakaian barunya.
Pakaian-pakaian tersebut masih banyak yang sangat baru, itu dipersiapkan saat Edgar dan Mentari baru saja menikah. Dengan secepat kilat yang tentunya peran uang sangat besar, sehingga persiapan untuk menyambut istri barunya pun selesai dengan cepat dan tepat.
''Kenapa Kak Mentari senyum-senyum sendiri?'' tanya Erin.
''Hah, nggak papa, Erin. Lanjut saja mau pilih yang mana.'' jawab Mentari.
Erin mengambil beberapa lembar pakaian, hingga Mentari menatapnya sembari geleng-geleng kepala.
''Ternyata begini kalau orang kaya mau pergi jalan.'' bathin Mentari.
__ADS_1