Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 194 : Ada Hati Yang Harus Ia Jaga


__ADS_3

Jimmy berdiri di depan pintu ruangan itu, dimana Rita sedang terbaring lemah. Ia menatap dari balik kaca pintu, melihat selang infus yang masih tersambung di tangan Rita. Sebuah helaan nafas panjang ia keluarkan. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan waktu yang mendekati subuh.


''Tidak ada siapapun di rumah itu, Tuan. Sepertinya dia tinggal seorang diri.''


Begitulah bunyi informasi yang didengar dari pengawal. Saat hendak menanyakan kepada tetangga, waktu sudah semakin larut malam. Tidak memungkinkan untuk mereka bertamu.


Saat Jimmy hendak menemui perawat, ia kembali menoleh ke dalam. Sekelibatan pandangannya mendapati Rita bergerak.


Jimmy langsung memanggil dokter kebetulan baru keluar dari ruangannya.


''Pasien sadar, Dok!''


Jimmy langsung buru-buru membuka pintu ruangan itu. Rita tampak terkejut dengan kehadiran Jimmy disana. Karena sejak pingsan, ini baru saja ia sadar.


''Saya dimana?''


''Tenang dulu ya, Mbak. Biar kami periksa dulu.'' ujar perawat yang mendampingi dokter.


Rita tidak menolak, ia melirik Jimmy yang berdiri tidak jauh dari ranjang tempatnya berbaring.


''Ada apa ini? kenapa tuan Jimmy ada disini?'' bathin Rita.


Rita mencoba mengingat kembali apa yang sudah terjadi semalam. Mulai dari rumah Mentari, ia masih mengingat membuka pintu gerbangnya dan menutup kembali. Ia masih teringat turun dari motor dengan kepalanya yang semakin terasa berat. Dadanya terasa sangat sesak, dan tiba-tiba pandangannya kabur. Setelah itu, tidak ada lagi yang ia ingat.


''Berarti aku pingsan?'' tebaknya dalam hati, lalu kembali melirik Jimmy sekilas.


''Saya tidak apa-apa 'kan, Dok?'' tanya Rita.


Dokter tersebut tersenyum ramah sembari melepaskan alat yang terpasang pada telinganya.


''Anda seperti sebelum-sebelumnya. Jaga kesehatan jika tidak ingin hal ini terus-menerus terulang.'' jawab dokter.


Deg

__ADS_1


Rita langsung terdiam, ia melirik lagi ke arah Jimmy yang juga sedang menatapnya dengan tatapan serius.


''Kalau begitu, saya permisi dulu ... saya harus memeriksa pasien lain.''


''Terima kasih, Dok.'' ucap Rita.


Dokter tersebut mengangguk lalu meninggalkan ruangan itu.


Di ruangan itu tinggal Jimmy dan juga Rita. Rita langsung menunduk karena sungkan dengan keadaannya yang seperti ini.


''Terima kasih sudah membawa saya ke rumah sakit, Tuan. Maaf sudah mengganggu waktu akhir pekan anda.'' ucap Rita menatap Jimmy sekilas lalu kembali menunduk.


''Hmm.''


''Saya sudah mendengar penjelasan tentang kamu dari dokter.'' ujar Jimmy yang langsung berhasil membuat Rita mengangkat wajahnya.


''Ja-jadi, anda sudah tau tentang saya?'' tanya Rita sedikit gugup.


Jimmy mengangguk lagi.


''Seperti yang sudah saya sampaikan tadi. Saya memiliki keperluan paling lama satu jam. Tolong jaga dia, pastikan dia makan dan meminum obat-obatnya.'' ujar Jimmy.


''Baik Tuan.'' jawab perawat itu.


Rita langsung duduk ketika mendengar percakapan itu.


''Anda harus istirahat dulu sebelum benar-benar fit.'' ujar perawat itu.


''Saya merasa baik-baik saja, Mbak.'' ujar Rita.


''Saya akan langsung pulang ke rumah.'' sambungnya.


''Tidak!'' sahut Jimmy.

__ADS_1


''Kamu tetap berada disini sampai nanti saya kembali lagi.''


''Anda pasti sangat sibuk, Tuan. Saya tidak apa-apa disini sendiri dan saya akan mengurus semuanya sendiri.'' ujar Rita kekeh.


Jimmy menghela nafas berat.


"Jangan pernah menutup-nutupi dengan kata tidak apa-apa. Jadi, menurut saja apa yang sudah dikatakan oleh dokter dan perawat." ujar Jimmy tegas.


Rita langsung menunduk dan terdiam. Apa yang harus ia lakukan sekarang disaat Jimmy sudah mengetahui tentang dirinya yang selama ini ia simpan sendiri.


Jimmy menatap wanita itu dengan sorot matanya yang tidak tega.


''Jaga dia! jangan sampai kabur!'' ujar Jimmy yang disertai ancaman ke perawat itu.


''Baik Tuan.'' jawab perawat muda itu dengan bibir bergetar.


Jimmy meninggalkan ruangan itu dengan langkah panjangnya. Masih sangat pagi, lampu-lampu pun masih menyala untuk menyinari kegelapan bumi.


Rasa kantuknya masih terasa, beberapa kali bibirnya menguap karena hanya tidur ayam di bangku depan ruangan itu. Rita cukup lama untuk bisa sadar, membuat Jimmy merasa cemas.


Namun, ia tetap ingin menjaga jarak. Karena ada hati yang harus ia jaga. Pada Rita, ia hanya ingin membantu dalam keadaan mendesak ini. Ia tidak ingin salah satu diantara keduanya terjebak sebuah rasa. Bagaimana pun laki-laki dan perempuan, sangat rentan untuk memiliki kedekatan, apalagi ia bisa melihat ekspresi Rita yang terlihat gugup saat berhadapan dengannya.


''Mbak.'' panggil Rita pada perawat itu.


''Ada yang bisa saya bantu, Mbak?'' balas perawat muda itu.


''Apakah tuan Jimmy yang membawa saya kesini?'' tanya Rita yang sudah dibalut rasa penasaran.


''Iya Mbak. Tuan Jimmy yang membawa anda kesini.'' jawab perawat itu dengan ramah.


"Oh gitu, hehe''


Perawat itu hanya tersenyum.

__ADS_1


"Please, Rita! jaga perasaan kamu! jangan berlebihan mengharapkan apapun!" bathin Rita berusaha untuk memberikan kesadaran pada dirinya sendiri.


__ADS_2