Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 71 : Kau Mau Mati, Jim!


__ADS_3

Seperti biasa di pagi hari, Edgar dan Mentari melakukan sarapan bersama di meja makan. Semalam Edgar tidak meminta jatah karena tidak tega melihat istrinya yang sudah tidur. Ia pun juga langsung menyusul sang istri berkelana ke dalam mimpi. Perjalanan dan emosinya saat berhadapaan dengan Denny membuatnya lelah.


''Eh Jim, sini ikut sarapan.''


''Terimakasih Tuan, saya sudah sarapan.'' jawab Jimmy yang baru saja datang.


''Oke.'' jawab Edgar.


Jimmy duduk di sofa sembari menunggu bosnya yang masih sarapan.


Edgar meneguk minumannya hingga habis, lalu mengusap bibirnya dengan tisu.


''Sayang, aku berangkat dulu ya..'' Edgar bangkit dari duduknya.


''Iya Mas, hati-hati..''


Mentari mencium punggung tangan suaminya, lalu Edgar mencium kening Mentari tanpa mempedulikan siapapun yang ada disana.


Edgar menyambar jasnya dan langsung menghampiri Jimmy.


''Ayo Jim.''


''Baik, Tuan..''


Jimmy fokus pada kemudinya, menatap jalan raya yang sudah dipadati oleh para pengguna jalan untuk melakukan aktivitasnya masing-masing.


''Apa kau sudah punya pacar, Jim?'' tanya Edgar tiba-tiba.


Ciiiitttt

__ADS_1


''Kau mau mati, Jim!''


''Maaf Tuan, saya terkejut.''


Jimmy spontan menginjak remnya saat mendengar pertanyaan Edgar. Ia langsung mengatur pernafasannya yang sedang tidak normal itu.


Untung saja jarak mobilnya dengan kendaraan dibelakang masih lumayan sehingga tidak terjadi hal yang membahayakan.


Edgar kembali merapikan jasnya setelah Jimmy mengerem secara mendadak.


''Saya masih seperti dulu, Tuan.'' jawab Jimmy kembali melanjutkan perjalanan.


''Usiamu sudah tidak muda lagi, Jim. Dulu kau selalu beralasan menungguku mendapatkan pendamping, sekarang aku sudah menikah. Dan sekarang giliranmu.''


''Baik, Tuan. Saya akan segera mencari.'' balas Jimmy.


Keduanya hanya terdiam sampai tiba di kantor. Semua karyawan membungkukkan badannya saat berpapasan dengan Edgar dan Jimmy.


''Yang menggantikan pak Denny akan menemui anda nanti jam 9, Tuan..'' ucap Jimmy saat mereka didalam lift.


''Ok, atur saja jadwalnya.''


''Baik Tuan.''


Pintu lift terbuka, keduanya langsung menuju ke ruangan masing-masing.


''Baru saja sampai, aku sudah merindukan istriku..'' gumam Edgar sambil menggaruk-garuk kepalanya sendiri.


Edgar memandangi foto yang terdapat di mejanya. Foto resepsi pernikahannya dengan Mentari. Selain di meja, Edgar juga memasang foto mereka yang berukuran lebih besar di dinding ruangannya.

__ADS_1


°°


Sesuai dengan perjanjiannya, Jimmy mengantarkan seorang pria ke ruangan Edgar. Karena permintaan Edgar memang ingin bertemu langsung dengan sosok yang akan menggantikan Denny.


''Ya, masuk..'' jawab Edgar dari dalam.


Jimmy masuk terlebih dulu, dan dibelakangnya mengikuti seorang pria terlihat masih muda.


''Silahkan duduk.''


Pria muda itu duduk berhadapan dengan Edgar, sementara Jimmy berdiri di samping bosnya.


''Saya sudah melihat profil kamu, selama ini pekerjaanmu cukup bagus. Dengan menerima tawaran ini, saya harap kamu menjaga kepercayaan yang sudah saya berikan. Perusahaan sudah menyediakan fasilitas selama kamu bertugas disana, dan kamu akan berangkat besok.'' jelas Edgar.


''Baik Tuan.'' jawab pria muda itu mengerti.


''Silahkan baca baik-baik surat perjanjian ini, dan berikan tanda tangan untuk membuat kesepakatan.''


Pria itu menerima lembaran kertas yang berisi surat perjanjian. Ia membacanya dengan seksama, baginya tidak ada berat, semuanya hal yang wajar, ia pun langsung menyematkan tandatangannya diujung bawah. Lalu menyerahkan kembali kertas itu kepada Edgar.


''Simpan baik-baik, Jim..'' Edgar menyerahkan surat perjanjian itu kepada Jimmy.


Jimmy pun menerimanya.


''Baik Tuan.''


Bukan sembarang orang yang Jimmy bawa, ia mengambil dari karyawan yang sudah bekerja di Raymond group.


Setelah urusannya dengan Edgar selesai, Jimmy mempersilahkan pria muda itu untuk kembali dan bersiap-siap.

__ADS_1


__ADS_2