
Edgar langsung terdiam.
''Nah, diam kan? haha''
Mami langsung tertawa.
''Tapiiiii..'' mami sengaja membuat slow motion perkataannya.
''Tapi, apa Mi?'' sahut Erin yang tidak sabar.
Mentari pun menantikan apa yang hendak dikatakan oleh ibu mertuanya itu.
''Tapi, begitu tadi Mami mendengar cerita Edgar tentang pertemuan pertama kalian. Mami jadi teringat hari-hari itu.'' ujar mami menatap Edgar dan Mentari secara bergantian.
''Papi ingat nggak?'' tanya mami pada suaminya.
''Oh tentu saja Papi mengingatnya, ketika putra Papi ini menanyakan bagaimana kalau jodohnya itu orang kalangan biasa.'' jawab papi dengan lancar.
''Pertanyaan itu kan maksud Mami?'' tanya papi memastikan.
''Wahh ternyata Papi juga mengingatnya.'' jawab mami bahagia.
''Iya benar, waktu itu. Itu sesudah pertemuanmu dengan Mentari. Oh manisnya putraku ini..'' ujar mami menatap putranya gemas.
Mentari pun malu-malu mendengarkan itu. Sedangkan Edgar terkekeh mengingat sikapnya dulu terhadap Mentari.
''Ya.. ya.. ternyata kalian mengingatnya.'' balas Edgar.
__ADS_1
''Edgar tidak akan mungkin semudah itu mengatakan pernikahan kalau tidak ada rasa dihatinya. Jadi, kalau suamimu waktu itu bilang itu hanya menolong, duh duuhhh.. omong kosong, sayang. Alibinya menolong, padahal dia kesenangan bisa mengikatmu biar nggak dimiliki orang lain haha.'' mami terkekeh dengan perkataannya sendiri, begitu pun dengan yang lain, ikut tertawa mendengarnya.
Wajah Mentari langsung merona malu.
''Dia sudah tertarik padamu, tapi, ya begitu deh.. gengsian orangnya.'' ujar mami menatap menantunya.
''Apa iya Mas?'' tanya Mentari menatap suaminya. Ia menatap dengan menahan tawanya.
''Mungkin begitu, sayang.. duh malu juga ya haha.'' jawab Edgar.
''Uhh sweet juga Kakakku, pertamanya sih jahat, sekarang bolehlah..'' ujar Erin.
''Anak kecil nyimak aja.'' protes Edgar.
Erin langsung cemberut karena lagi-lagi dikatai anak kecil.
''Dan ternyata yang Papi rencanakan tidak perlu kerja keras.'' timpal papi dengan santai.
''Maksudnya?'' tanya Edgar.
''Papi kalau bicara yang jelas deh..'' protes mami.
''Jadi, sebenarnya.. Papi memang sudah menyusun rencana untuk pertemuan Edgar dengan Mentari.''
''Hah?''
Semuanya langsung melongo terkejut mendengar ungkapan tuan Erick.
__ADS_1
''Maksudnya pertemuan yang mana nih, Pi?'' tanya Edgar.
''Tentang hutang-hutang itu, bukankah hal yang tidak masuk akal jika karyawan yang memiliki cashbon ke perusahaan bisa langsung berurusan dengan bosnya? seharusnya bisa saja Papi tinggal tandatangan membuat persetujuan atas pinjaman dana itu tanpa meminta pertemuan.''
Semuanya mengangguk.
''Maaf Pi, awal mengetahui cerita itu, aku sempat mengira kalau istriku merupakan simpanan Papi.'' ujar Edgar lirih.
Mentari langsung melotot, ia tak habis pikir dengan apa yang ada dibenak suaminya kala itu.
Erin pun langsung terkejut tak percaya jika Mentari menjadi wanita simpanan. Mami yang pernah menjadi korban pengkhianatan mencoba untuk tetap tenang di depan putri bungsunya itu.
''Bisa-bisanya kamu berpikiran seperti itu, Mas?'' protes Mentari tak terima.
''Iya sayang, maaf. Itu dulu.. karena seperti yang Papi bilang, hal yang tidak masuk akal. Tapi, setelah mendapatkan informasi tentang kamu, aku tidak berpikir negatif lagi kok, justru setiap hari semakin kepikiran tentang kamu, cuma kamu.''
''Malah ngegombal, Papi belum selesai bicara, Mas..''
''Hehe.. lanjutkan, Pi..''
''Jadi, beberapa waktu setelah suami dari Mentari meninggal dunia, dan dia mengajukan peminjaman sejumlah uang yang Papi pikir itu bukan jumlah yang sedikit. Hal itu membuat Papi penasaran, untuk apa uang sebanyak itu? sedangkan santunan kematian yang di dapatkan tidak sedikit jumlahnya.''
Semuanya mengangguk, termasuk Mentari sendiri yang kembali mengingat hari itu.
''Dan, Papi memanggilnya ke ruangan. Papi meminta Mentari untuk mengatakan yang sejujurnya alasan meminjam uang sebanyak itu, dan kemana uang santunan yang didapatkan kok sampai meminjam uang diwaktu yang belum lama setelah santunan itu diterimanya?''
''Dari situ, Papi teringat putra Papi yang belum move on. Hmm.. yaaa Papi waktu itu hanya ingin berusaha membuka jalan, Papi pikir Mentari sosok yang tepat untuk kamu.''
__ADS_1
Mentari menyimak penuturan ayah mertuanya.
''Papi hanya ingin dari urusan hutang itu kalian bisa rutin bertemu. Ntahlah, Papi yakin kalau Mentari bisa meruntuhkan tembokmu yang kokoh itu. Dan ternyata, belum berjalan di rencana Papi, ternyata kalian sudah menemukan jalannya sendiri. Definisi jodoh itu tidak akan kemana, jodoh pasti bertemu.''