
''Oh ya Pi, Mi.. besok rencananya aku akan atur pertemuan dengan keluarga Dini, teman Mentari yang memberikan bukti cctv itu.'' ujar Edgar setelah semua selesai makan.
Tuan Erick mengusap bibirnya dengan tisu.
''Oh ya ya.. Papi hampir saja melupakan hal ini. Papi sama Mami juga sudah merencanakan hal ini, ntah kenapa jadi lupa. Untung saja kamu mengingatkan, Edgar.''
Edgar dan Mentari langsung tersenyum.
''Dimana acaranya Nak?'' tanya mami.
''Rencananya di resto mereka Mi, nanti biar kita hubungi dulu. Soalnya baru tadi juga kami bahas itu.''
''O begitu.. ya sudah kami ikut saja dengan kalian.'' ujar papi.
''Iya Pi.''
Tuan Erick hari ini akan berkunjung ke kantor Raymond pusat. Edgar dan ayahnya berangkat ke kantor dengan satu mobil, sementara Jimmy tidak bertugas menjemput Edgar. Ia langsung berangkat ke kantor dari apartemennya.
''Pagi..'' balas tuan Erick ketika berpapasan dengan beberapa karyawan yang menyapanya.
Jimmy sudah bergabung dengan mereka karena kedatangannya bersamaan.
''Oh ya Pi, aku dan istriku rencananya juga mengundang bu Maryam dan keluarganya untuk turut hadir besok.''
''Ide bagus.'' jawab tuan Erick.
Pintu lift terbuka
Ketiga pria itu langsung keluar menuju ruangannya.
Sementara itu, Mentari tengah mencoba menghubungi Dini. Namun, dering pertama tidak mendapatkan jawaban. Mentari mencoba berpikir positif. Seorang istri dan ibu yang memiliki anak kecil pasti sangat sibuk di jam-jam yang tidak bisa ditentukan. Belum lagi kalau ada kegiatan lainnya.
Mentari meletakkan ponselnya di sebelah setelah mengirimkan pesan kepada Dini agar mengirimkan pesan kembali ketika sudah memiliki waktu luang untuk dihubungi. Mentari tidak mau mengganggu dengan melakukan panggilan berkali-kali.
__ADS_1
Mentari menatap bonsai pohon buah-buahan yang ia beli beberapa waktu lalu untuk ia letakkan di balkon. Selain buah-buahan, ada beberapa bunga yang membuat pandangan semakin segar.
Setelah sarapan, Edgar dan papi pergi ke kantor. Sedangkan mami sudah memiliki agenda untuk bertemu dengan teman-teman lamanya yang sudah jarang bertemu. Erin masih sibuk dikamarnya.
Mentari sendiri selain sungkan bertemu orang-orang kaya yang merupakan teman-teman ibu mertuanya, kehamilannya juga membuatnya tidak diizinkan keluar kalau tidak bersama Edgar.
Tak lama kemudian, ponsel Mentari berdering. Mentari segera memeriksanya dan ternyata panggilan masuk dari Dini. Mentari langsung menjawabnya.
''Hallo Din..''
''Hallo Kak, maaf tadi telfonnya nggak aku angkat.''
''Nggak papa, santai aja Din.. gimana kabarnya?'' tanya Mentari.
''Kabar baik Kak. Gimana Kakak juga baik-baik saja kan?''
''Kakak selalu baik-baik saja.'' jawab Mentari.
''Oh ya Din, sesuai janji Kakak waktu itu. Kakak sudah bicara sama suami untuk mengatur pertemuan kita, dan juga keluarga kamu ya. Bisa kan?'' ujar Mentari.
''Oh gitu? dengan senang hati Kak. Suatu kehormatan untuk kami..'' jawab Dini terdengar senang.
''Kapan dan dimana Kak?'' imbuhnya.
''Kalau besok malam di resto kamu, bisa?''
''Besok? serius di resto kami Kak?'' balas Dini.
''Dua rius nih..'' canda Mentari.
Dini terdengar tertawa kecil.
''Wah benar-benar tidak menyangka akan kedatangan tamu agung.'' ujar Dini.
__ADS_1
Mentari terkekeh kecil mendengar kata tamu agung. "Kebetulan besok ada pak Agung juga."
Dini terdengar tertawa, tetapi tiba-tiba terdiam.
"Pak Agung siapa, Kak?" tanya Dini penasaran setelah tersadar dari tawanya.
"Pemilik yayasan X Din."
"Ohh ya, ya.."
''Kalau begitu aku jadi nggak sabar pengen cepat-cepat besok malam."
"Oh ya Kak, tapi, resto yang di X sudah di booking. Jadi bisanya yang di X.'' jelas Dini menunjukkan lokasi restonya.
''Ya sudah nggak papa Din. Kakak minta tolong banget nih merepotkan kamu dan karyawan-karyawan kamu. Soalnya rencana besok bawa rombongan banyak hihi..''
Dini kembali terdengar sangat antusias. Kehidupannya sudah masuk kalangan berada, apalagi perkembangan pesat di dalam bisnisnya. Tetapi jika di sejajarkan dengan keluarga Raymond tentu saja dirinya sangat jauh berada di bawah. Untuk itu, ia sangat antusias dan merasa hal ini suatu kehormatan.
''A.. itu aman. Kami pasti sangat senang sekali. Baik Kak, aku akan langsung mengatur agenda ini.'' ujar Dini.
Mentari disini tersenyum.
''Terimakasih banyak ya Din..''
''Ya sudah Kakak mau kasih kabar ke yang lain dulu soalnya baru banget tadi pagi rundingan ini.''
''Oh iya Kak Mentari. Makasih banget..''
''Sama-sama. Sampai ketemu besok ya.''
Sengaja Mentari tidak menghubungi Rita terlebih dahulu karena menunggu kepastian dari Dini, apakah restonya sudah ada yang booking atau belum. Dan Dininya sendiri sedang sibuk atau tidak.
Benar saja, satu resto Dini sudah ada yang booking. Untung saja restonya nggak hanya satu, sehingga bisa dialihkan ke resto yang masih free.
__ADS_1