Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 72 : Kita Terlihat Awet Muda


__ADS_3

Mulai siang itu setelah mendapatkan protes yang secara tidak langsung, sekarang Edgar memilih untuk makan siang diruangannya, ia tak ingin lagi membuat Jimmy seperti obat nyamuk. Edgar juga tak pernah lagi pergi ke restoran untuk sekedar makan siang.


''Nanti sore aku pulang cepat, akhir pekan ini kita nginep di apartemen ya, sayang..'' ucap Edgar di sambungan telepon video dengan istrinya.


''Iya Mas.'' jawab Mentari. Wajah ayunya memenuhi layar laptop Edgar.


Edgar sengaja memakai laptop agar wajah sang istri bisa lebih jelas.


Semenjak sudah merasakan jatuh cinta lagi, Edgar selalu ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya dan cepat kembali ke rumah untuk bertemu istri tercinta.


Keduanya sama-sama sedang makan siang, namun di lokasi yang berbeda. Edgar di kantor, sementara Mentari di rumah. Dengan seperti ini setidaknya bisa berduaan meskipun secara virtual.


°°


Sesuai janjinya dengan Mentari untuk pulang cepat, Edgar sudah menaiki anak tangga tanpa memberitahu Mentari terlebih dulu, sehingga Mentari tidak menyambut kedatangannya.


''Loh Mas kok sudah sampai?'' tanyanya dengan tangan kanan mengulur.


Edgar menerima uluran tangan Mentari dan membiarkan sang istri mencium punggung tangannya. Lalu bergantian ia memberikan kecupan manis di kening Mentari.


''Iya, sudah selesai cepat.''


''Ohhh..'' balas Mentari sambil manggut-manggut.


''Oh ya Mas, aku tadi sudah bilang sama mbak-mbak buat nggak usah nyiapin makan malam kita.''

__ADS_1


''Bagus deh, yaudah ayo siap-siap sekarang.'' ajak Edgar.


''Langsung sekarang? kamu nggak mau istirahat dulu Mas?''


Edgar merapatkan tubuhnya pada Mentari.


''Melihatmu membuatku semangat, nggak perlu istirahat.''


Tubuh Mentari seperti terkena sengatan listrik yang menjalar diseluruh tubuhnya ketika tubuh kekar yang masih berbalut kemeja itu menempel ditubuhnya.


Edgar meluumat bibir itu sekilas lalu mengusap ujung bibir Mentari dengan ibu jarinya.


''Mau jalan sekarang atau besok?'' tanya Edgar memecah bengongnya Mentari.


''Ah iya sekarang, aku sudah mandi kok.''


''Sepertinya harus ditambahkan kemeja lengan panjang atau hoodie.'' saran Mentari saat melihat otot lengan Edgar berhasil membuatnya menelan salivanya.


Namun, sayangnya Edgar lebih cepat mencekal lengan Mentari, sehingga membuat langkah wanita itu terhenti.


''Tidak perlu, aku ingin terlihat santai seperti ini, sesuai dengan pilihanmu kan?''


''Sepertinya pilihanku salah.'' sergap Mentari.


''No.. pilihanmu selalu tepat, kita jadi terlihat awet muda haha''

__ADS_1


Mentari hanya nyengir sekilas lalu membuang arah pandangannya.


''Yuk..''


Mentari menjawab dengan anggukan.


Sebelum menuju ke apartemen, Mentari menginginkan nanti disana akan masak untuk makan malam. Karena disana tidak ada persediaan bahan, akhirnya mereka mampir berbelanja dulu disebuah supermarket yang kebetulan searah.


Setibanya disana, Mentari memilih bahan-bahan yang akan diolah selama menginap di apartemen, tentu saja dengan mempertanyakan terlebih dulu kepada Edgar apakah ia menyukai masakan itu atau tidak. Sedangkan Edgar yang membawakan keranjangnya, mengiyakan apa saja yang akan dibeli oleh Mentari.


Dua buah kantung plastik besar sudah ditangan Edgar, ia segera memasukkan ke dalam mobil. Sayuran, bumbu, daging, dan buah-buahan sudah lengkap.


Apartemen yang sangat jarang dikunjungi itu tetap bersih karena Edgar sudah mempercayakan kepada seseorang untuk membersihkannya secara rutin.


Mentari langsung mengeluarkan hasil belanjaan. Yang belum akan diolah, ia langsung simpan ke dalam kulkas.


Mentari masih gugup mengerjakan ini, tetapi ia tak punya pilihan lain. Ketika dirumah, saat memasak pun sudah biasa bersama dengan para pekerja, sedangkan kali ini disaksikan langsung oleh Edgar. Di dalam hatinya selalu berusaha memberikan dorongan semangat agar mendapatkan hasil yang maksimal. Supaya Edgar semakin percaya bahwa skill memasaknya tidak perlu diragukan lagi.


''Dih ngapain juga harus repot-repot kasih pembuktian?'' gumamnya sedikit menggerutu.


''Ada apa sayang?''


''Ah enggak Mas, nggak papa.''


Edgar mengulum senyumnya, ia masih fokus mengupas buah lalu memotong-motong dadu dan menatanya diatas piring agar terlihat semakin cantik.

__ADS_1


Mentari melirik suaminya dan berharap semoga telinga Edgar tidak mendengar apa yang ia gumamkan tadi.


__ADS_2