Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 285 : Waktunya Elang Masuk Kandang


__ADS_3

Edgar sudah mengirimkan pesan kepada istrinya bahwa ia sudah menuju pulang ke rumah. Tak heran jika Mentari sudah menyambutnya di ruang tamu seperti biasanya. Mentari sangat menantikan kepulangan Edgar dan sangat penasaran dengan respon Lenna dan juga Ardi.


''Cantiknya istriku.'' puji Edgar lalu menciium kening Mentari.


Seperti biasa, Mentari menciium punggung tangan suaminya. Mentari hanya tersenyum mendengar pujian dari sang suami.


''Kalau nggak cantik, kamu pasti nggak mau nikahin aku.'' jawab Mentari.


Edgar dan Mentari sudah berjalan menuju ke dalam kamar.


''Euummm, apa iya ya?'' balas Edgar nampak berpikir.


''Nggak mau berpikir, ah. Yang penting sudah nikah sama Ghadira Mentari-ku, dan sudah ku buat dia hamil.'' balas Edgar sedikit berbisik.


Keduanya cekikikan kecil sembari membuka pintu kamar, lalu menutupnya kembali.


''Sebentar Mas.'' ujar Mentari.


Edgar mengangguk. ''Iya sayang.''


Mentari kembali keluar dari kamar, ia akan membuatkan minuman untuk suaminya yang baru saja datang itu.


Dengan tangannya yang cekatan, Mentari meracik bahan minuman hangat yang sudah ia hafal takarannya untuk Edgar. Sembari mengaduk, Mentari menatap pintu kamarnya dengan menarik nafas panjang.


''Terima kasih atas cinta yang kamu berikan untukku, Mas.'' bathin Mentari.


Setelah selesai dibuat, Mentari segera kembali ke kamarnya.


''Mas.'' panggi Mentari sembari mengedarkan pandangannya karena tidak mendapati Edgar.


''Maas.'' panggilnya lagi.


Mentari meletakkan gelas itu ke atas meja depan televisi. Belum ada jawaban dari suaminya. Mentari melongok ke arah kamar mandi.


''Ohh, masih mandi.'' gumam Mentari.


Pakaian ganti Edgar sudah Mentari siapkan sejak tadi. Ia juga sudah membersihkan badannya sebelum Edgar kembali. Sekarang yang Mentari lakukan adalah duduk santai di sofa sembari membuka ponselnya. Ia sedang tidak tertarik untuk menyalakan televisi.


''Aktif sekali kalian, Nak.'' ujar Mentari senang.


''Happy ya tau papa sudah pulang.'' ujar Mentari lirih sembari mengusap lembut perutnya sendiri.


Tendangan-tendangan kecil itu membuat Mentari sedikit meringis karena sangat terasa. Tapi, hal itulah yang memang sangat dinantikan oleh para ibu hamil. Merasakan perkembangan janin yang sehat di dalam kandungannya.


''Mama juga happy 'kan kalau Papa sudah datang?''


Mentari langsung menoleh ke belakang.

__ADS_1


''Bikin kaget aja kamu ini, Mas.'' protes Mentari.


Edgar terkekeh kecil, lalu ikut duduk di sofa bersama sang istri.


''Bajunya kok belum di pakai, Mas?'' tanya Mentari ketika melihat suaminya hanya mengenakan celana pendek. Sedangkan kaosnya masih terlipat rapi.


''Nanti aja, belum pengin pakai baju.'' jawab Edgar dengan santai.


Mentari sudah paham kemana arah pembicaraan Edgar jika dilanjutkan. Ia memilih mengangguk-angguk kecil tanpa suara.


''Gimana soal Ardi, Mas?'' tanya Mentari.


''Sudah beres, sayang.'' jawab Edgar.


Mentari tersenyum lebar, ia langsung memeluk suaminya yang telanj4ng dada itu.


''Terima kasih, Mas.'' ucap Mentari.


Edgar mengangguk sembari memperdalam pelukan Mentari padanya.


''Yang penting jatah aman ya, sayang.'' bisik Edgar dengan suara yang sengaja ia buat menggodai Mentari.


Mentari pun langsung mengangkat wajahnya sembari mengusap telinganya sendiri karena sangat merinding mendengar bisikan Edgar.


''Masih merinding kalau dengar suaraku?'' goda Edgar lalu tertawa kecil.


''Kenapa sih memangnya?''


''Memangnya suaraku kenapa? perasaan biasa aja deh.''


Edgar bertanya dengan santai, padahal ia sudah paham kalau Mentari selalu seperti ini ketika mendengar suaranya yang sengaja dibuat untuk menggoda.


''Suara kamu kayak om-om genit, Mas.'' balas Mentari.


Buahahaha


''Kasian sekali Edgar Raymond yang tampan dan keren ini disamakan dengan om-om genit.'' balas Edgar.


''Papa kalian sangat percaya diri sekali ya, Nak.'' ujar Mentari sembari mengusap perutnya.


Edgar tertawa lagi, lalu memeluk Mentari dengan erat. Ia menghujani Mentari dengan ciiuman yang tidak ada jeda sehingga membuat pemilik wajah merasa engap.


''Mmmmm-mas!'' protes Mentari.


''Aku gemas.'' ujar Edgar kembali menciumi wajah Mentari yang kemudian semakin turun ke leher.


''NANTI MALAAAMMM!!'' protes Mentari dengan suara yang keras karena Edgar seperti menjadi vampir.

__ADS_1


Mendengar kata nanti malam, seketika membuat Edgar menghentikan aksinya.


Waktu yang sudah sore membuat Mentari melakukan protes.


''Serius ya nanti malam?'' tagih Edgar.


''Sudah waktunya elang masuk kandang.'' bisik Edgar sembari menunjukkan elang kebanggaannya itu.


''Elangnya aku pukul ah.'' balas Mentari dengan tawa yang ia tahan.


Mentari sudah siap mengangkat tangannya, sedangkan Edgar langsung beranjak dari sofa untuk menyelematkan aset berharganya itu.


Hahaha


Mentari tertawa terbahak-bahak melihat suaminya yang panik.


''Sayaaang, jangan macam-macam, kalau elangku kenapa-kenapa, gimana caranya kita memproses adik buat si kembar?''


Mentari langsung melotot. Lahir saja belum, sudah kepikiran adik.


''Damai, hehe'' rayu Edgar dengan mengangkat jari kelingkingnya.


''Siapa juga yang marah.'' balas Mentari kemudian merubah raut wajahnya menjadi senyum.


"Mau peluk lagi." pinta Mentari dengan suara yang berubah manja.


Edgar pun tidak menunda, ia langsung mendekati Mentari lagi dan memeluknya erat. Keduanya sama-sama berbicara kecil sembari mengusap lembut perut Mentari. Momen yang sangat membahagiakan bagi pasangan yang tengah menyambut kelahiran buah hati.


...****************...


Alhamdulillah, akhirnya Cimai kembali update lagi ya setelah lama libur, hehe 🙏


Update ini sudah Cimai cicil-cicil ngetiknya, Alhamdulillah hari ini bisa cukup untuk update part selanjutnya.


Cimai mohon maaf karena libur panjang, banyak rencana yang ternyata tidak sesuai dengan kenyataan yang dihadapi.


Melanjutkan bab pengumuman sebelumnya, Cimai 'kan pulang dari Jawa itu dalam kondisi kurang sehat. Nah, dirumah itu ada nenek yang kondisinya sudah semakin menua. Waktu Cimai berangkat, kondisinya masih baik-baik saja, kalau jalannya memang sudah harus di jaga. Beliau juga sudah pelupa parah.


Pas Cimai sampai rumah, bukan hanya Cimai yang kurang sehat. Ternyata kedua orangtua dan nenek juga kurang sehat. Tapi, alhamdulillah orangtua sudah lebih baik waktu itu.


Lalu, kenapa Cimai semakin mundur update-nya?


Alasannya itu karena mbah Cimai kondisinya semakin lemah. Pas Cimai pulang itu sudah nggak bisa jalan. Awalnya itu masih bicara, tapi, makin kesini makin nggak bisa diajak komunikasi. Pokoknya kondisi fisiknya itu sudah membuat kami khawatir.


Akhirnya kami mengabari anak-anak mbah, alhamdulillah mereka pada datang, sampai hari ini pun masih ada yang disini, paman dari Jambi. Jadi dirumah cukup ramai dan sibuk, sehingga sering tidak memegang hp.


Cimai mohon maaf yang sebesar-besarnya dan terima kasih sudah menunggu cerita ini dilanjutkan🙏

__ADS_1


__ADS_2