
Keakraban Mentari dengan para pekerja wanita di rumah ini sudah semakin baik. Namun, ada satu pekerja yang menurutnya berbeda.
Mentari tidak mau memusingkan hal itu karena ia kerap memergoki pekerja yang juga masih gadis itu tengah menatapnya sinis secara diam-diam. Saat Mentari memergokinya, pekerja itu langsung salah tingkah. Mentari berusaha untuk selalu berpikir positif, bisa jadi dia orang yang pemalu dan memang begitulah ekspresinya.
Saat makan siang, meskipun Edgar berada di kantor, ia selalu melakukan sambungan video call untuk menemani sang istri yang dirumah. Ia juga sedang menikmati makan siangnya bersama dengan Jimmy.
''Nanti kalau saya sudah kaya, saya punya cita-cita baru yaitu mau bikin merk obat nyamuk, Tuan..'' ujar Jimmy saat melihat Edgar menyudahi panggilan video.
Edgar meletakkan ponselnya sebelum menjawab perkataan Jimmy.
''Bagus dong.'' jawab Edgar santai.
Jimmy mengaduk-aduk minumannya lebih kencang.
''Tuan tidak ingin bertanya apa nama merk-nya?'' tanya Jimmy.
''Oohhh, jadi merk yang sudah kamu rencanakan apa Jim?''
Jimmy menahan kekesalannya, tetapi ia juga tetap ingin mengatakan.
''Merk JIMMY.'' jawab Jimmy menekankan kata yang menyebutkan namanya sendiri.
''Waahhh keren dong Jim, nama kamu bakal semakin luas menyebar ke seluruh penjuru negeri, apalagi kalau tau owner-nya tampan, hmmmmmm.'' tutur Edgar yang sebenarnya tau Jimmy sedang kesal.
Jimmy menarik nafasnya dalam-dalam lalu menegakkan bahunya sebelum memulai berbicara lagi.
''Kenapa saya ingin memakai nama Jimmy?'' tanya Jimmy.
Edgar mengangkat kedua bahunya.
__ADS_1
''Karena sekarang saya sudah terlatih menjadi obat nyamuk anda dan juga nona Mentari.'' jawab Jimmy menahan geram.
''Wahhh bagus, baguuss.. kalau hal itu bisa membuatmu mendapatkan ide-ide brilian lagi. Aku akan lanjutkan.'' Edgar berdiri lalu menepuk pundak Jimmy.
Jimmy yang masih duduk menahan rasa geramnya dengan membuang nafasnya ke sembarang arah. Kemudian ikut beranjak menyusul Edgar yang sudah berjalan lebih dulu.
''Dasar bos tidak pengertian!'' bathin Jimmy kesal.
Bukan kesal yang berdasarkan kebencian, Jimmy sudah memahami bagaimana bosnya. Kali ini memang ia harus banyak bersabar, karena Edgar yang selama ini ia kenal dingin perlahan mencair setelah menemukan sosok Mentari.
''Sepertinya untuk proyek di kota B, kita harus meninjau langsung, Tuan..'' ujar Jimmy.
''Iya Jim, aku rasa ada kejanggalan di proyek ini. Dari mulai pendanaan, waktu yang ku rasa terlalu lambat.''
''Betul Tuan, kapan anda siap?'' tanya Jimmy.
Edgar menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya seraya berpikir.
''Baik Tuan, jadi apakah setelah anda melakukan honeymoon baru kita meninjau langsung?''
''Tidak, itu terlalu lama, nanti kejanggalan ini semakin banyak. Atur jadwal kita, kita berangkat besok.''
''Besok Tuan?'' Jimmy terkejut dengan hal tak terduga ini.
''Ya, kenapa? kau keberatan?''
Jimmy menggeleng, ia tidak keberatan, ia hanya terkejut Edgar akan meninggalkan Mentari.
''Tidak Tuan, baiklah saya atur jadwal untuk keberangkatan besok.''
__ADS_1
Edgar mengangguk, kemudian Jimmy permisi dari ruangan CEO-nya.
°°
Edgar menepati janjinya untuk tidak pulang malam, ia sudah kembali ke rumah saat sore hari, di jam normal para pekerja lainnya pulang.
''Aku mau berenang dulu ya..''
''Iya Mas.'' jawab Mentari.
Edgar melepaskan seluruh pakaiannya dan hanya menyisakan ****** *****. Mentari membuang pandangannya ke samping agar terhindar dari godaan di sore hari.
''Kenapa sayang?''
"Nggak papa." jawab Mentari.
Edgar sengaja menggoda istrinya dengan semakin mendekat dan menggesekkan senjatanya ke Mentari.
''Mas.. udah buruan sana berenang.'' ujar Mentari sambil mendorong dada Edgar yang berotot itu.
''Temenin ya..''
''Iya.. Mas nyemplung dulu.''
''Oke.''
Edgar mencium bibir Mentari sekilas lalu keluar kamar untuk segera berenang di sore hari.
Mentari menyimpulkan senyumnya sambil mengusap bibirnya dengan ibu jari.
__ADS_1
Edgar sudah mulai berenang, dari ujung hingga ke ujung. Ia melihat kedatangan Mentari yang langsung duduk di tepi kolam tersebut sembari melihatnya berenang. Edgar langsung menepi, menghampiri Mentari yang tengah duduk dan tersenyum padanya.