
Lenna sudah dibawa pulang ke rumah. Kondisinya sudah membaik sehingga tidak diperlukan rawat inap.
Mami, Mentari, dan Edgar juga sempat ikut ke rumah Lenna untuk mengantar. Setelah memastikan kondisi Lenna benar-benar tidak mengkhawatirkan, keluarga itu kembali ke rumah, karena tak terasa waktu sudah malam.
--
Keesokan paginya setelah mereka selesai sarapan.
''Mas ... Mami ... aku ingin bicara.'' ujar Mentari sedikit ada keraguan.
''Apa sayang? kenapa kamu seperti tegang begitu?'' tanya Edgar.
Mami juga menatap raut wajah menantunya.
''Sudahlah, Edgar. Dengarkan dulu istrimu mau bicara apa.'' sahut mami.
Mentari tersenyum menatap ibu mertuanya itu. Lalu menatap suaminya, ia menarik nafas dalam-dalam.
''Setelah dipikir-pikir lagi, saya pikir dengan matang, Mi.''
''Mas ... maaf.'' ucap Mentari.
''Aku ... ingin laporan Ardi dicabut.'' ungkap Mentari dengan kepala menunduk.
"Aku yakin tante Lenna akan segera membaik kalau Ardi berada didekatnya.'' sambung Mentari.
Edgar tidak begitu terkejut, hanya sedikit saja. Ia sudah bisa menebak isi pikiran dari istrinya itu. Sudah pasti Mentari tidak akan tega melihat Lenna.
Edgar hanya menarik nafas panjang dan belum mengeluarkan kata-kata apapun.
''Apa kamu serius, sayang? apa kamu tidak khawatir?'' tanya mami.
__ADS_1
Mentari mengangkat wajahnya, lalu menatap mami.
''Perasaan takut itu sulit untuk saya hilangkan, Mi. Tapi, melihat tante Lenna, saya semakin takut kalau terjadi apa-apa dengannya. Apalagi anak dan suaminya jauh.'' jelas Mentari.
Edgar juga dalam perasaan yang serba bingung. Sama halnya dengan Mentari, ia juga terus terbayang kejahatan Ardi yang nekat ingin memisahkan dirinya dan Mentari.
Mami menarik nafas panjang, mereka sama-sama dalam keadaan hati dan pikiran yang bingung. Tuan Erick juga belum mengetahui hal ini.
''Begini sayang, kita pikirkan dulu matang-matang. Sekarang Lenna sudah tidak kenapa-kenapa. Nanti kita pikirkan dan musyawarahkan setelah acara tujuh bulanan kamu selesai ya.'' ujar mami.
Mentari sendiri tidak ingin larut dalam perasaan bersalahnya karena sudah membuat orang lain bersedih. Namun, karena hal itu bukan hanya melibatkan dirinya, ia tetap pasrahkan pada suami dan juga mertuanya.
''Baik Mi, terima kasih.'' ucap Mentari.
Edgar bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Seperti biasa Mentari ikut ke depan. Edgar menghentikan langkahnya lalu memeluk sang istri.
''Jangan banyak pikiran ya, sayang.''
''Jaga kesehatan kamu dan anak-anak kita.''
Mentari hanya mengangguk dalam pelukan itu dan Edgar pun bisa merasakan.
''Ya sudah, aku berangkat kerja dulu ya sayang.'' ucap Edgar.
''Hati-hati dijalan, Mas.'' balas Mentari yang tak secerah biasanya. Hari ini, sinar mentari itu terlihat redup, padahal langit sedang cerah.
Edgar mengecup kening Mentari, lalu mengusap perut sang istri dengan lembut.
''I love you.'' ucap Edgar.
''I love you too.'' balas Mentari.
__ADS_1
Mereka saling melambaikan tangan, mobil itu sudah menghilang dari balik gerbang. Mentari kembali masuk ke dalam rumah.
Edgar yang baru saja sampai di kantor langsung duduk di kursi kebesarannya. Ia duduk menyandarkan kepalanya sembari memijat-mijat pelipisnya yang terasa pusing itu.
''Semoga tidak ada keputusan yang salah.'' gumamnya.
Edgar langsung duduk tegak, ia menghubungi Jimmy agar ke ruangannya. Ia harus kembali fokus dan profesional dalam pekerjaan untuk memberikan contoh yang baik pada para karyawan.
Tak lama kemudian, Jimmy masuk ke dalam ruangan Edgar. Jimmy datang dengan beberapa berkas yang hendak dibahasnya.
Sebelum Jimmy membahas pekerjaan, Edgar menyampaikan secara singkat soal hari kemarin tentang ibunya Ardi. Namun, ia belum mengatakan soal cabut laporan.
''Oh ya, Tuan ... saya kemarin mendapatkan laporan dari cabang yang di daerah X. Ada beberapa sekolah menengah kejuruan yang mengajukan proposal untuk praktik kerja industri disana pada pertengahan Desember. Masih cukup lama sih, Tuan.'' jelas Jimmy.
''Sudah kamu teruskan email-nya ke aku?'' tanya Edgar.
''Sudah Tuan.'' jawab Jimmy.
''Hmm, baiklah aku belum sempat membuka email. Ya sudah nanti aku baca dulu.'' balas Edgar.
''Baik Tuan.'' jawab Jimmy.
...****************...
Sambil nunggu Cimai up part selanjutnya, Cimai rekomendasikan lagi cerita yang seru banget nih. Jangan lupa siapkan tisu yang banyak karena mengandung bawang.
Karya dari author PIPIHPERMATASARI, yang berjudul "BERTAHAN TERLUKA" wajib untuk kalian baca dan langsung masukkan ke rak favorit kalian ya 😍
Terima kasih 🙏
__ADS_1