
Beberapa waktu kemudian
Kandungan Mentari kini sudah menginjak usia enam bulan. Sudah tidak merasakan ingin ini itu, ia mengkonsumsi makanan yang wajar. Keinginannya juga termasuk golongan yang wajar-wajar saja seperti sebelum hamil.
Saat-saat mengusap perut sang istri merupakan momen yang sangat disukai oleh Edgar. Pria itu tidak menyingkirkan tangannya dari perut Mentari. Ia duduk di lantai, sementara Mentari duduk di sofa sembari bersandar.
''Papa semakin tidak sabar untuk segera bertemu dengan kalian.'' gumam Edgar.
''Kalian jangan berantem ya di dalam perut Mama.''
''Nak, besok-besok kalau waktu USG, jangan ditutup-tutupi ya.''
Mentari hanya tersenyum sembari melihat sang suami yang sedang berinteraksi dengan calon anak-anak mereka.
Setiap kali memeriksa kondisi kandungan dan ingin melihat jenis kelaminnya, selalu saja belum berhasil terlihat dengan jelas. Dan Mentari selalu enggan memaksakan diri untuk mengetahui lebih cepat.
Mentari tidak mempermasalahkan hal itu, yang penting kondisinya dan kandungan selalu sehat. Soal persiapan nama-nama untuk calon anak mereka, Edgar dan Mentari sudah mempersiapkan nama bayi laki-laki dan juga perempuan.
Jika Mentari tidak mempermasalahkan, lain halnya dengan Edgar, ia kerap mengusap perut sang istri sembari melontarkan sebuah harapan untuk bayi berjenis kelamin laki-laki.
''Kalau anak pertama kita perempuan semua, gimana Mas?'' tanya Mentari yang membuat usapan tangan Edgar langsung terhenti, lalu mendongak menatap sang istri.
''Ya, nggak papa, sayang. Aku bersyukur untuk semuanya, yang penting kamu sehat, anak-anak kita juga sehat dan normal semuanya.'' jawab Edgar.
''Aamiin.'' balas Mentari.
Edgar pindah duduk di sofa agar bersebelahan dengan sang istri.
''Kamu pasti berharap anak pertama kita perempuan ya?'' tanya Edgar.
__ADS_1
Mentari menghela nafas panjang sembari mengusap perutnya sendiri.
''Kayaknya mayoritas perempuan, penginnya anak pertama perempuan. Begitu pula sebaliknya, laki-laki penginnya anak pertama laki-laki juga.'' jelas Mentari.
''Sepertinya benar seperti itu, sayang.'' jawab Edgar membenarkan.
Dari beberapa orang yang Mentari kenal, soal anak mayoritas seperti itu. Dan sekarang, ia merasakan hal tersebut. Di lubuk hati yang paling dalam, berharap ia melahirkan bayi perempuan.
''Semoga rezeki kita langsung dapat keduanya ya Mas.'' ucap Mentari lirih penuh harap.
''AAMIIN.'' jawab Edgar dengan suaranya yang lantang, menggambarkan bagaimana ia sangat menyetujui harapan dari sang istri.
Saudara kembar tidak semuanya berjenis kelamin sama. Tak sedikit pula yang kembar beda jenis kelamin. Bahkan, banyak juga yang kembar tapi, tidak memiliki kemiripan yang signifikan.
''Pokoknya nanti anak-anak kita tidak boleh pacaran sebelum dewasa.'' ujar Edgar.
Mentari sudah bisa membayangkan bagaimana protektifnya Edgar pada anaknya kelak. Apalagi jika benar-benar mendapatkan anak perempuan. Sikap Edgar pada Erin sudah memberikan gambaran pada Mentari bagaimana cara didik yang akan diterapkan oleh suaminya itu.
Edgar mengusap wajahnya, lalu kembali menatap sang istri. Seketika rasa emosinya sudah mereda.
''Kenapa istriku semakin menggemaskan kalau lagi hamil.'' puji Edgar.
Bukannya berhasil, justru pujian itu membuat Mentari melotot.
''Berarti kalau nggak lagi hamil, aku nggak menggemaskan, gitu?!'' pekik Mentari.
Edgar langsung terkekeh.
''Haha, sekarang semakin nambah, sayang. Kalau sudah melahirkan, langsung gaspol bikin adik ya.'' goda Edgar.
__ADS_1
Mentari langsung kembali melotot.
''Kalau anak kita nanti laki-laki dan perempuan, pabrik tutup!'' tegas Mentari.
''Mana bisa? lagi dong, sayang.'' goda Edgar lagi.
''Maaasss!'' seru Mentari.
''Mas Edgar, ih! minggir dulu, aku masih nonton penyanyi favoritku.'' usir Mentari pada Edgar yang terus menggodanya.
Edgar yang masih tertawa pun menghentikan aksi isengnya pada sang istri. Daripada nanti malam tidak dapat jatah, lebih baik ia sudahi saja.
"Bagus sekali suaranya." gumam Mentari.
Ditengah-tengah keseriusan mereka yang sedang menonton televisi, tiba-tiba ponsel Mentari berdering dan membuat keduanya langsung terkejut.
Keduanya justru saling menatap.
"Jawab saja, sayang." tutur Edgar.
"Oh, eh, iya Mas." Jawab Mentari.
"Iya, halo.." jawab Mentari melalui sambungan telepon itu.
...****************...
Jangan lupa, nunggu Cimai update part selanjutnya sambil baca karya punya author "SENJA_90"
Jangan lupa masukkan daftar rak favorit kalian 😍 Terima kasih 🙏
__ADS_1