
Pria itu menunduk lagi, tangannya memegangi dadanya yang terasa sangat berat. Ia terlihat menarik nafasnya dalam-dalam.
''Saya sangat berterima kasih pada tuan Edgar dan juga tuan Jimmy atas pertemuan yang sangat berharga ini.''
''Saya mohon maaf karena sempat berupaya untuk kabur dari sini.'' sambungnya.
Pria itu memberanikan diri untuk menatap Edgar dan Jimmy secara bergantian. Lalu, pria itu beralih menatap Mentari
''Saya mohon maaf untukmu, Ghadira Mentari, putriku yang sudah saya abaikan. Kamu cantik, kamu begitu kuat.''
Isak tangis pria itu kembali tidak bisa dibendung. Hingga ketiganya menunggunya supaya lebih lega dan mampu untuk melanjutkan kata-katanya. Sesekali Edgar dan Jimmy juga terlihat menyeka bulir bening di sudut mata mereka. Sedangkan Mentari tentu saja sudah tidak bisa membendung air matanya.
''Sebelum test DNA itu dilakukan, saya ingin berbicara sekarang, mumpung nafas saya masih belum begitu sesak.'' izin pria itu.
''Bicara, Pak. Katakan apa saja yang selama ini menjadi uneg-uneg Bapak.'' pinta Mentari sembari mengusap wajahnya dengan punggung tangannya sendiri.
Jimmy masih setia mengusap punggung pria itu agar lebih tenang untuk menyampaikan kata-katanya.
''Selama ini hidup saya selalu dipenuhi dengan penyesalan. Penyesalan yang tidak dapat menemukan ujungnya.'' ujarnya penuh sesal.
''Mungkin, ini adalah hari pertama dan terakhir kalinya saya bisa mengungkapkan semuanya yang saya ingat.'' ujar pria itu lirih, tapi, terdengar jelas.
''Jangan bicara seperti itu, Pak.''
''Masih ada hari-hari kedepan untuk kita bicara lebih banyak lagi.'' ujar Mentari.
__ADS_1
Mentari kembali tak kuasa menahan air matanya.
Pria itu hanya tersenyum tipis, lalu menatap Edgar.
''Putriku sangat pantas menjadi bagian hidupmu, tapi, tidak untuk saya. Jika nanti kedua orangtuamu mengetahui semua ini, tolong sampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya.Jangan benci putriku karena dia anakku.''
''Saya sangat senang melihat kalian yang tampak serasi, dan juga kalian sedang menyambut kelahiran buah hati yang pastinya sudah dinanti-nantikan.''
''Cintai anak saya dengan tulus, jangan pernah menyakitinya seperti saya yang sudah menyakiti hidupnya selama ini.'' pintanya.
''Jangan khawatir, Pak, saya sangat mencintai istri saya. Saya akan menjaganya dengan baik. Bertemu dengannya adalah hadiah terindah di dalam hidup saya.'' jawab Edgar.
Tiba-tiba Mentari langsung berdiri, ia menarik tangan kanan bapaknya. Ia mencium punggung tangan pria itu untuk pertama kalinya. Di sana air matanya semakin tumpah.
Pria itu tidak menarik tangannya, juga belum merespon apapun kecuali ikut menangis. Ketulusan hati dari Mentari yang tidak membencinya semakin membuatnya menjadi manusia paling berdosa. Hatinya begitu hancur karena gagal menjadi sosok cinta pertama bagi anak perempuannya.
Mentari sedikit mengalami kesulitan untuk memeluk bapaknya karena perutnya mengganjal.
Suasana semakin haru, pria itu membalas pelukan hangat Mentari. Edgar pun juga tidak mencegahnya. Justru ia lagi-lagi terlihat menyeka air matanya sendiri yang belum terlanjur mengalir.
Di tengah-tengah pelukan, pria itu mendongak, ia membuka satu tangannya dan meminta Edgar untuk masuk ke dalam pelukan itu juga. Tanpa keraguan, Edgar mengabulkan permintaan itu. Mentari yang membelakangi sang suami pun sedikit terkejut dengan pelukan Edgar.
''Berbahagialah kalian, tolong maafkan saya, agar saya bisa pergi dengan tenang.'' pinta pria itu.
''Pak..,'' lirih Edgar dan Mentari secara bersamaan. Mereka tak ingin pria itu berbicara yang terdengar ambigu.
__ADS_1
''Saya sudah lega, Nak. Bapak berharap bisa bertemu dengan ibumu.''
Tiba-tiba kedua tangan pria itu mengendur dan langsung menidurkan kepalanya. Tangan kanannya terus memegangi dadanya. Edgar, Mentari, dan juga Jimmy langsung panik.
''CEPAT PANGGIL DOKTER!'' seru Edgar pada Jimmy.
Setelah Jimmy keluar dari ruangan, pria itu sudah tidak memegangi dadanya lagi. Kedua matanya juga terpejam secara perlahan.
''PAK! BAPAK!''
''JANGAN PERGI, PAK!''
''BANGUN, PAK!''
Tangis Mentari kembali pecah. Dokter dan perawat langsung masuk ke ruangan itu.
Dokter memeriksa dengan alat-alat medisnya. Tak lama kemudian, dokter tersebut melepaskan alat yang menyangkut ditelinga, kemudian terlihat menghela nafas.
''Saya selalu dokter dan tim sangat menyesalkan semua ini. Tapi, kami hanyalah manusia yang hanya sebatas perantara, selebihnya adalah kuasa Sang Pencipta.''
Dokter juga merasa tidak tega untuk menyampaikan semua ini. Apalagi melihat Mentari yang sudah menangis dengan wajahnya yang sudah sembab.
''Beliau meninggal dunia, Tuan ... Nona.'' ungkap dokter tersebut.
Mentari langsung terduduk lemas, ia menutup mulutnya tak percaya. Hari ini benar-benar menjadi pertemuan pertama dan terakhir kalinya dengan sang ayah.
__ADS_1
Aku menanti setelah sekian lama, namun, takdir mempertemukan kita dengan waktu yang sangat singkat.