
Mentari menikmati udara segar sore ini di balkon kamar, suaminya juga belum pulang dari kantor. Mungkin saja Edgar sangat sibuk mengingat besok akan kembali izin untuk beberapa hari kedepan.
Mentari berdiri di pinggir, menyandarkan tangannya di pembatas. Ia menatap perkotaan yang padat penduduk.
Di tengah diamnya, ponsel yang ia letakkan di meja berdering. Mentari segera melihat siapa yang memanggilnya.
''Nomor baru?'' gumamnya. Mentari kembali meletakkan ponsel tersebut karena tidak mengenal nomornya.
Namun, sesaat kemudian ia meraihnya lagi setelah mengingat mantan mertuanya.
''Hallo Dira, ini Mama..'' sapa dari seberang sana.
Mentari langsung menarik nafasnya dalam-dalam.
''Iya Ma..''
Wanita itu memulai percakapannya dengan sangat hangat. Mengungkapkan rasa rindunya yang terdengar sangat manis, Mentari mendengarkan dengan seksama dan menekan tanda rekam.
''Dira, ah maksud Mama Mentari.. Mama ingin kita benar-benar seperti dulu, menjadi satu keluarga yang baik, yang utuh.''
''Mama tau, Mama dulu sangat salah, begitu juga dengan suami kamu. Mama menyesali semua itu, sayang. Hari-hari Mama selalu dihantui rasa bersalah sama kamu.'' ucapnya dengan suara tangis yang tersedu-sedu.
Mentari masih mendengarkan dengan seksama, menantikan apa yang akan dikatakan lagi oleh mantan mertuanya itu.
__ADS_1
''Kamu mendengar suara Mama, Nak?''
''Aku mendengarkan semuanya, Ma.''
Ingin rasanya Mentari berteriak, menangis, dan memarahi wanita itu. Kenapa? kenapa baru mengucapkan kata maaf, kemana selama ini?
Permintaan maafkan sudah terasa ketidak adanya rasa ketulusan. Kekecewaan dan rasa sakit itu membuat Mentari bisa membaca seluruh bahasa tubuh dari keluarga mertuanya.
Namun, Mentari masih bisa mengendalikan dirinya agar tidak tersulut emosi. Ia harus tetap tenang, seolah menerima dan tidak mencurigai apa yang akan dilakukan oleh wanita itu.
''Aku sudah sampaikan kalau aku sudah memaafkan semuanya, Ma. Terkhusus itu untuk almarhum suamiku, bagaimana pun juga dia butuh ampunan untuk mempermudah jalannya disana.''
''Kamu memang anak yang baik, Mama menyesal, Mama boddooh telah menyakitimu.''
''Mama sudah kehilangan Nando, Mama tidak ingin kehilanganmu, Nak..''
''Mama ingin kamu menganggap Mama seperti Mama kandung kamu sendiri. Mama juga menganggap kamu seperti putri kandung Mama. Kapanpun kamu ingin bertemu dengan Mama, Mama sangat senang.''
Mentari kembali menarik nafasnya dalam-dalam.
''Terimakasih Ma. Tapi, seperti apa yang dikatakan suamiku, aku tidak bisa bebas. Bahkan kalau tidak ada urusan mendesak, aku harus keluar dari rumah ini hanya saat bersamanya.''
''Tidak papa Nak. Sementara ini, berbicara seperti ini lewat telpon, Mama sudah sangat senang. Akhirnya Mama bisa mengobrol lagi sama menantu Mama.''
__ADS_1
Mentari menyunggingkan senyumnya.
''Ma, sepertinya suamiku pulang, aku akan menyambutnya. Di sambung kapan-kapan lagi ya.''
''Oh iya Nak, terimakasih banyak atas waktunya.''
Wanita itu menyudahi telponnya. Mentari menatap layar ponselnya sendiri lalu meletakkan diatas meja.
Mentari juga tidak tau apakah suaminya sudah pulang atau belum. Itu hanya alibinya saja agar tidak berlama-lama berbicara dengan ibunda Nando.
''Sudah selesai nelponnya?''
Suara Edgar langsung membuat Mentari menoleh, suaminya sedang berdiri di tengah pintu dengan jas yang sudah di buka. Hanya menyisakan kemeja panjang yang lengannya ditekuk sampai ke sikut.
''Kamu dengar, Mas?'' tanya Mentari sembari beranjak.
Edgar berjalan maju.
''Tidak, aku baru saja datang. Siapa yang menghubungimu?'' tanya Edgar.
Mentari menatap suaminya sedikit takut. Ia takut ketika melihat suaminya sedang emosi.
Menyadari hal itu, Edgar langsung meraih tangan sang istri.
__ADS_1
''Aku tidak akan menelanmu hidup-hidup, jangan takut..''