
Pukul 02.00 dinihari, papi, mami, dan Erin meninggalkan kamar Edgar dan juga Mentari. Selain masih waktunya untuk beristirahat, mereka tentu saja mengingat kesehatan Mentari yang sedang hamil muda.
Edgar turun ke lantai bawah untuk memasukkan sisa kue tart ke dalam kulkas. Sedangkan Erin membawa piring-piring kecil itu ke wastafel.
''Cuci langsung Rin.'' ujar Edgar.
''He'em..'' jawab Erin nurut.
Erin pun langsung mencuci piring kecil itu.
''Abis ini langsung tidur lagi, jangan lanjut begadang.'' ujar Edgar lagi.
''Iya Kakakku sayang, cintaku, duniaku, i love you..'' balas Erin yang sudah selesai mencuci piring.
''Diihh malah kesambet.''
''Haha''
''Sssttt! jangan ketawa, Erin! suaramu gangguin orang tidur.'' protes Edgar setengah berbisik.
Erin langsung menutup mulutnya.
''Daaahh Kakakku sayang, cintaku, i love you.. muaaahhh.''
Erin benar-benar menciium pipi kakaknya dengan cepat dan langsung berlari menuju kamarnya.
Edgar seketika terdiam sembari memegang pipinya. Ia tersenyum melihat adiknya yang kini sudah menjelma menjadi gadis cantik yang menuju usia dewasa.
''Bagaimana pun, Kakak itu selalu menyayangimu, Rin. Kekhawatiran Kakak tidak bisa dijelaskan.'' bathin Edgar, dan langsung kembali ke kamar untuk kembali melanjutkan tidurnya.
Edgar kembali masuk ke dalam kamar, terlihat Mentari masih mengelap meja karena terdapat sisa-sisa potongan kue yang rontok disana.
''Sayang.'' panggil Edgar.
__ADS_1
Mentari menghentikan pergerakan tangannya, dan duduk di sebelah Edgar.
''Biar nggak ada semut Mas, sebentar aku selesaikan.''
Edgar mengangguk. ''Iya sayang.''
Tisu basah yang sudah bekas pakai itu Mentari buang ke dalam tong sampah. Ia langsung mencuci tangannya dan kembali duduk di sebelah Edgar.
''Kenapa senyum-senyum?'' tanya Mentari.
Edgar langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi cemberut.
''Haha nggak gitu juga, suamiku..''
''Hemmmm..'' Edgar menangkup pipi Mentari dengan gemas.
''Gimana sayang dengan umurku yang sudah 31 tahun? apakah masih terlihat tampan seperti yang kamu katakan waktu itu? tampan tapi nyebelin. Atau... sudah terlihat garis-garis tanda penuaan?''
''Nyebelinnya masih sih, kayaknya susah hilangnya.'' jawab Mentari dengan menahan tawa.
''Teruuss.. emmmmm''
Mentari meletakkan jari telunjuk di dagunya seolah sedang berpikir.
''Iya deh Mas, sudah terlihat garis-garis tanda penuaan, disini.'' tunjuk Mentari di samping mata suaminya.
''Masa sih? mana?''
''Maasss..''
''Kan nyebelinnya kambuh lagi.''
''Haha biarin.''
__ADS_1
Memang sudah niat dari awal untuk menggodai sang istri. Edgar mengangkat tubuh Mentari dan membawanya ke tempat tidur. Tak lupa lampu langsung di padamkan agar tidak di intip sama semut.
''Aku nggak perlu hadiah apapun, karena kehadiranmu sudah menjadi hadiah terindahku, dan ditambah calon anak-anak kita. Sekarang waktunya untuk memberikan kehang4tan.'' bisik Edgar membuat Mentari merinding tapi, tidak menolak.
Akhirnya dinihari mereka diisi dengan bermain dengan pelan-pelan agar tidak ada yang tersakiti.
Edgar menciium kening Mentari setelah selesai dengan mainnya. Meskipun masih kurang lama, tetapi ia tak ingin membuat sang istri kelelahan.
Keduanya saling menatap satu sama lain, Mentari menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Meskipun remang-remang, tetap saja masih bisa terlihat.
''Terimakasih sayang.'' ucap Edgar dan kembali mendaratkan kecupan manis di kening Mentari.
Beberapa menit kemudian, keduanya melanjutkan tidur agar besok pagi kembali fit untuk melakukan kegiatan lain.
°°
Mentari dan Edgar sudah berada di depan rumah untuk melakukan jalan pagi, dan diikuti oleh Erin yang suka melakukan jogging. Mereka berjalan sembari mengobrol santai. Sedangkan Erin di belakang sembari memegang ponsel dan juga satu botol air mineral.
''Lagi jadi obat nyamuk.''
''Ups hehe.'' Erin langsung menutup mulutnya.
Ia sedang membalas pesan, bukannya fokus mengetik, malah tanpa sadar mengeluarkan suara, sehingga membuat Mentari dan Edgar yang berada di depannya langsung menoleh.
''Hehe bener kan jadi obat nyamuk? lagi bikin video, iya video, niiih..''
Secepat kilat Erin beralih ke aplikasi kamera dan menekan tanda video.
''Jangan di unggah.'' larang Edgar.
''Iya Kakakku sayang, cintaku..'' balas Erin.
Erin bernafas lega karena kedua kakaknya tidak curiga, lagi-lagi ia melakukan hal yang ceroboh.
__ADS_1
Apakah memang begitu bagi orang yang sedang merasakan jatuh cinta?