
''Ma-ma."
Ardi yang sudah tidak kuasa menahan tangisnya itu pun langsung bersimpuh di kaki ibunya. Suasana kian membuat haru, Edgar dan dan Jimmy sampai ikut menitikkan air matanya meskipun hanya sedikit.
Suara Ardi terdengar sangat bergetar, tangisnya dan Lenna langsung pecah. Baik Ardi maupun Lenna sama-sama tidak bisa berkata-kata. Lenna masih berusaha supaya putranya itu kembali berdiri. Wanita itu juga masih belum percaya dengan apa yang kini ada di hadapannya. Lenna takut ini hanyalah mimpi belaka yang berakhir kecewa.
Di dalam bersimpuhnya, Ardi melihat dengan jelas mamanya yang kian kurus. Tidak seperti biasanya yang segar.
"Ma..," Ardi beranjak berdiri. Ibu dan anak itu saling menatap lekat.
"Ardi? benarkah ini kamu, Nak?'' Lenna menangkup kedua pipi Ardi untuk memastikan.
''Edgar, benarkah ini Ardi anak Tante?'' tanya Lenna beralih pada keponakannya itu.
Edgar mengangguk.
"Iya, iya Tante. Mulai hari ini, Tante dan Ardi bisa sama-sama lagi.'' jawab Edgar.
Senyum dan tangis yang bersamaan. Lenna meraih tangan Edgar yang tidak jauh.
"Kenapa? kenapa bisa secepat ini? bukankah ini belum waktunya untuk kebebasan Ardi?'' tanya Lenna.
Bagaimanapun juga, Lenna tidak ingin membuat kecemburuan sosial pada tahanan lain yang masih belum bebas.
"Tante jangan khawatir, semua berdasarkan kesepakatan bersama. Mulai hari ini, Ardi berhak menghirup udara bebas lebih cepat.'' jelas Edgar.
"Apa karena kalian melihat Tante yang sakit sehingga kalian berpikir bahwa penyebabnya adalah Tante menahan beban pikiran soal Ardi?''
''Dan kalian merasa bersalah atas semua itu?'' imbuh Lenna.
Edgar lebih mendekati Lenna.
''Mama sakit?''
''Sakit apa, Ma?'' lirih Ardi langsung cemas.
__ADS_1
Belum sempat Edgar membuka mulut, Ardi sudah lebih dulu berbicara dengan mamanya sehingga bibir Edgar terkunci rapat.
''Ma-ma ... Mama baik-baik saja.'' balas Lenna.
''Mama jangan berbohong padaku.'' balas Ardi dengan tatapan yang masih belum bisa percaya.
Lenna menunduk dalam, lalu mengangguk kecil. Kemudian wanita itu mengangkat wajahnya perlahan menatap putranya dengan lekat.
''Maafkan Mama dan papa karena gagal dalam mendidikmu.''
''Sekarang, Mama dan papamu sudah lebih lega ketika mendapatkan laporan perkembangan tentang perubahan kamu, Nak.''
"Maafkan kami." ucap Lenna dengan suara yang bergetar.
Ardi kembali memeluk mamanya.
''Mama tidak pernah salah, kalian tidak pernah gagal dalam mendidikku. Semua ini hanya murni dari kebod0hanku. Ini semua karena kesalahanku, aku sudah bod0h." balas Ardi dengan penyesalan yang mendalam.
Lenna tidak bisa menjawab karena isak tangisnya sudah membuat tenggorokannya tercekat.
Ardi mengurai pelukannya itu. ''Tolong Mama jujur sakit apa?''
''Maaf, lebih baik kita berbicara dengan duduk dulu.'' timpal Edgar. Jimmy yang berada di sebelahnya ikut mengangguk pelan tanda setuju.
''Kamu benar, Edgar.'' jawab Lenna.
Mereka pun langsung pindah ke sofa. Asisten rumah tangga yang sedari tadi menunggu momen haru itu selesai pun langsung bergegas membuatkan minuman.
''Maaf, aku izin bicara terlebih dulu.'' ucap Edgar setelah mereka semuanya duduk.
''Silahkan, Gar.'' balas Lenna.
''Tante, lebih baik Tante bicarakan saja apa adanya ke Ardi, emmm ... soal sakit Tante waktu itu.'' pinta Edgar.
Lenna masih tampak mencerna, sedangkan Ardi menatap Lenna dan Edgar secara bergantian.
__ADS_1
''Aku hanya bisa mensupport dari sini, selebihnya kami semua berharap untuk Ardi, semoga kamu nggak membuat kami kecewa lagi. Bagaimana pun juga, keluarga tetaplah keluarga.'' ujar Edgar dengan menatap sepupunya itu.
''Sekali lagi, pencabutan laporan Ardi sudah dari hasil kesepakatan bersama. Tolong terima ini, karena ini upaya yang diminta oleh istriku. Istriku tidak ingin melihat kalian hidup terpisah."
''Ardi, tolong jaga kesehatan Tante Lenna, sekali lagi kamu mengecewakan kami, ingat! kamu tidak akan pernah hidup dengan tenang!''
Ardi mengangguk, sementara Lenna hanya terdiam karena Edgar tidak salah dalam melontarkan ancamannya itu.
"Aku akan selalu belajar dari masalalu burukku ini, meskipun sangat memalukan.'' balas Ardi.
Edgar mengangguk.
''Maaf, aku harus segera pulang, Tante dan Ardi bisa membicarakan hal yang tadi secara berdua." ujar Edgar.
''Tante jaga kesehatan ya, maafkan kami semuanya.'' ucap Edgar pada tantenya itu.
''Tante yang seharusnya meminta maaf pada kalian.'' balas Lenna.
Edgar tersenyum tipis.
''Sampaikan salam Tante untuk istrimu.'' pesan Lenna.
''Akan aku sampaikan, Tante.'' jawab Edgar.
Langsung pada intinya, Edgar membiarkan ibu dan anak itu melanjutkan perbincangan hangat secara berdua, atau menyambungkan telepon dengan ayahnya. Yang Edgar lakukan sudah cukup sampai disini.
Cukup lega, Edgar menarik nafasnya dalam-dalam ketika sudah berada di dalam mobil menuju pulang ke rumah. Ia merindukan istrinya yang beberapa jam ini tidak saling berkabar.
...****************...
Sembari menunggu update part selanjutnya, Cimai rekomendasikan lagi novel yang pastinya seru banget.
Kali ini cerita dari author LENNI MASLIANA NASTI, yang berjudul "PERJUANGAN SEORANG ANAK".
Jangan lupa untuk mampir dan langsung masukkan ke dalam rak favorit kalian ya 😍
__ADS_1
Terima kasih 🙏