Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 233 : Jimmy Sedang Mode Cemburu


__ADS_3

Rangkaian acara peresmian hari ini akhirnya selesai. Waktu pun sudah berganti sore, mereka berada di rumah baru tersebut yang ukurannya tidak terlalu besar, tetapi, sangat nyaman dan lengkap.


''Kayaknya aku bakal betah kalau tinggal disini.'' ujar Erin memecah keheningan.


''Sehari belum ada sudah bilang betah.'' sahut Edgar yang siap mencibir sang adik


''Ya 'kan kayaknya, Kak..!'' protes Erin.


''Hahaha dasar!'' balas Edgar dengan mengacak-acak rambut Erin. Sepertinya ia sudah lama tidak melakukan itu sehingga rasanya sangat bahagia membuat sang adik emosi.


''Kak Edgar, ih!!'' gerutu Erin.


Edgar masih dengan tawa di bibirnya karena Erin sudah melotot sembari merapikan rambut dengan jari-jarinya.


Rumah itu berbentuk panggung dan hanya satu lantai, karena untuk menghindari ketika ada hewan buas yang tiba-tiba masuk ke pemukiman. Karena daerah tersebut tidak terlalu jauh juga dari hutan.


Waktu sore hari mereka gunakan untuk bersantai di halaman rumah sembari berbincang-bincang. Rumah tersebut juga sudah ditempati oleh sepasang suami istri yang bekerja sebagai penjaga yang wajib merawat rumah itu dengan baik.


Di sekeliling rumah tersebut juga cukup luas dan di tanami beberapa macam sayuran dan buah-buahan. Benar-benar sangat menyejukkan mata dan hati yang memandangnya.


''Yang punya ide konsep rumah ini siapa, Mas?'' tanya Mentari ketika mereka beristirahat di kamar.


''Mami, sayang.'' jawab Edgar.


Mentari yang tadinya menatap lurus ke depan langsung menoleh.


''Wahh, luar biasa ide mami.'' balas Mentari.


''Aku jadi ingat rumah impian almarhumah ibu.'' lirih Mentari.


Edgar mendengar dengan jelas suara lirih dari Mentari. Ia langsung merengkuh pinggang sang istri dan membawa ke dalam pelukannya.


''Apa yang di impikan sama ibu?'' tanya Edgar.


Mentari pun tersenyum tipis.


''Kamu dengar, Mas?'' tanya Mentari.


Edgar pun mengangguk.


''Tapi, sudah terwujud sekarang kok, Mas.'' ujar Mentari.


''Ibu itu punya keinginan waktu aku masih remaja. Nanti kalau sudah ada rezeki lebih, pengin punya rumah di kampung dengan pekarangan yang luas, rumahnya nggak perlu besar. Katanya hidup di perkotaan dengan mengandalkan gaji nggak bakal bertahan lama, jadi harus pintar-pintar menyisihkan untuk di tabung buat masa depan. Umur terus bertambah, tenaga juga pasti bakal menurun. Kalau hidup di kampung, bisa jadi pekebun. Sedikit-sedikit itu milik sendiri. Kalau kita telaten, ya kita bisa panen.''


Mentari tersenyum tipis. ''Tapi, aku sendiri nggak begitu ngerti kehidupan di kampung.'' pungkasnya.

__ADS_1


Tak terasa sudut matanya sudah mengeluarkan air mata ketika harus mengulang kembali cerita lama.


Edgar pun mengusap air mata itu, lalu menciium kening Mentari cukup lama.


''Jangan sedih ya.'' bisiknya.


Mentari mendongak menatap mata sang suami.


''Aku nggak sedih kok, Mas. Terima kasih ya." ucapnya lirih.


Edgar kembali mendaratkan kecupan manis di kening Mentari.


''Sungguh aku akan menjadi manusia terb0d0h jika menyakiti hati kamu, sayang. Kamu tumbuh dengan begitu kuat dan hebat.'' bathin Edgar.


Sore berganti malam. Setelah makan bersama, Edgar, Jimmy, tuan Erick, dan Erin menyambangi kantor. Sementara Mentari dan mami tidak ikut karena tidak memiliki kepentingan juga. Mereka memilih menggunakan waktu malam ini untuk istirahat. Apalagi besok akan kembali ke kota.


Tidak lama waktu yang di ambil oleh mami beserta papi dan Erin selama di tanah air. Sehingga waktunya pun di penuhi oleh kegiatan-kegiatan yang sudah tercatat di agendanya.


''Saya dengar, konsep rumah ini awalnya Mami yang punya ide ya?'' tanya Mentari memulai obrolan dengan mertuanya itu.


''Kok kamu tau, sayang?'' balas mami.


''Mas Edgar yang kasih tau, Mi.''


''Apalagi rumah ini juga ada yang nunggu, jadi biar mereka tidak jenuh juga, ada kegiatan setiap harinya. Kalau ada hasil juga bisa mereka olah sendiri. Mami juga melihat hasil kerja mereka jadi puas.'' jelas mami.


Mentari pun tersenyum.


''Iya Mi, saya juga merasakan rumah ini adem. Pantas saja kalau Erin bilang bakal betah tinggal disini.'' balas Mentari.


''Ya, ya, pada dasarnya Erin itu anaknya bisa betah dimana saja.'' balas mami.


Di kantor


Gedung tersebut masih tercium aroma perlengkapan kantor yang masih baru. Mereka memeriksa setiap ruangan.


''Apa Denny pernah datang kesini?'' tanya tuan Erick pada pria muda yang beberapa waktu lalu dipercayakan untuk berada disini menggantikan posisi pak Denny yang mengkhianati kepercayaan.


''Iya Tuan. Tapi, dia tidak sampai masuk, karena langsung di halangi dan di usir sama security.'' jawabnya.


Pria itu belum pernah bertemu apalagi kenal dengan sosok pak Denny. Tetapi, sebelum kepercayaan itu diberikan padanya, ia sudah ditunjukkan sebuah foto pak Denny dengan tujuan jika sewaktu-waktu dia datang lagi, sehingga pria itu bisa langsung bersikap seperti apa.


''Dulu, saya terlalu memberikan kepercayaan pada si Denny itu. Sekarang, saya harap kamu tidak mengkhianati kepercayaan yang sudah kami berikan.'' balas tuan Erick yang menyesali keputusannya itu.


Pria itu mengangguk.

__ADS_1


Tidak ada respon perkataan apapun dadi Edgar dan Jimmy, mereka hanya senyum tipis.


Mereka terus menelusuri setiap sudut ruangan. Dan Erin merupakan perempuan sendiri yang ikut.


Setelah menyelesaikan penelusuran setiap ruangan, akhirnya selesai juga. Ternyata cukup melelahkan berjalan dari depan hingga belakang, dan kembali ke depan lagi.


Erin mengedarkan pandangannya, ia menangkap pria itu menatapnya dengan senyuman. Gadis itu pun langsung gugup dan membuang pandangannya ke arah lain.


''Ehm!'' Jimmy berdehem pelan tapi, sengaja ia tekankan.


Erin spontan bergeser, dan pria itu langsung menatap ke arah lain.


Jimmy menelisik pria itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Sepertinya ia harus waspada. Apalagi janur kuning belum melengkung, ia harus semakin membuat Erin yakin agar tidak berpaling darinya.


''Kami mau istirahat dulu, silahkan kamu juga istirahat.'' ujar tuan Erick.


''Baik, terima kasih, Tuan.'' ucapnya.


''Mari..,'' imbuhnya sembari membungkukkan badannya.


Lokasi kantor dengan rumah tidak terlalu jauh, mereka sengaja tidak memakai mobil karena ingin menikmati udara malam. Ada juga yang bermalam di mess kantor. Namun, Jimmy ikut keluarga tersebut atas permintaan mami.


''Jaga pandangan.'' bisik Jimmy pada Erin.


Erin langsung menoleh dan mengernyitkan keningnya. Ia tidak menjawab karena takut di dengar oleh papi dan juga sang kakak.


Sepertinya Jimmy sedang mode cemburu karena melihat kekasihnya di tatap oleh pria lain. Apalagi sesama pria ia bisa mengartikan arti tatapan mata yang terlihat dalam itu.


''Istirahatlah, Jim. Aku juga mau langsung istirahat.'' ujar Edgar.


''Baik, Tuan.'' jawab Jimmy.


Erin tersenyum sekilas, ia langsung melangkah cepat menuju kamarnya. Ia juga tidak ingin memancing kecurigaan dari Edgar. Apalagi setelah adegan keceplosannya yang sangat ia sesalkan.


Mami dan Mentari tidak menyambut kedatangan mereka, sepertinya kedua wanita itu kelelahan sehingga menggunakan waktunya benar-benar untuk beristirahat.


Edgar membuka pintu kamar dengan pelan dan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Lampu kamar masih menyala dengan terang. Sesuai tebakannya, Mentari tidur dengan posisi duduk di sofa. Sepertinya Mentari menunggu kedatangan sang suami sampai ketiduran dengan posisi yang terlihat tidak nyaman itu.


Edgar berjongkok di depan sang istri, lalu menyingkap rambut yang menutupi wajah Mentari.


''Terima kasih sudah membuatku jatuh cinta di setiap hembusan nafasku, aku sangat mencintaimu, sayang.'' lirih Edgar.


Edgar langsung berdiri lalu membopong tubuh Mentari dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkannya.


Mentari tidak terbangun, sepertinya ia benar-benar merasakan lelah setelah mengikuti acara hari ini. Edgar menyimpulkan senyumnya, lalu mengelus perut Mentari. Ia memberikan ciiuman untuk mengucapkan good night pada calon anak-anaknya.

__ADS_1


__ADS_2