
Mobil mewah yang dikendarai oleh Edgar kini sudah memasuki area pemakaman mewah yang ada di kota ini. Pemakaman yang isinya tentu saja dari kalangan atas, mulai dari beberapa pejabat, pengusaha, ataupun artis.
Area pemakaman yang mewah tentu saja diimbangi dengan harga dan fasilitas yang seimbang. Tergantung kemampuan masing-masing tanpa harus memberikan komentar miring terhadap pilihan masing-masing orang.
Mentari sudah memastikan dirinya lebih rapi, untung saja di tas kecilnya ada bedak yang ia bawa sehingga bisa sedikit menutupi mata sembabnya.
''Pake kacamata ini.'' Edgar mengeluarkan dua buah kacamata hitam dari dashboardnya.
''Terimakasih Mas.'' ucap Mentari. Edgar langsung menjawab dengan anggukan.
Saat baru melangkahkan kakinya beberapa jangkah, Edgar mendapatkan sambutan hangat dari seseorang yang jelas mengenalinya. Keduanya sempat berbincang sebentar dan memberikan ucapan selamat atas pernikahan Edgar dan Mentari.
Karena tidak ingin berlama-lama, Edgar memilih pamit dan langsung menuju tempat yang menjadi tujuannya, menyudahi obrolannya dengan pria yang menyambutnya itu.
Tanpa mencari, tentu saja Edgar sudah paham dimana posisinya. Rumah mungil yang menjadi tempat peristirahatan terakhir sang buah hati tercinta.
Kini, posisinya bergantian, Mentari berusaha menggenggam tangan Edgar dengan mengusap lembut lengan pria itu.
Edgar menuntun Mentari agar duduk terlebih dulu, lalu ia duduk disebelahnya dengan menatap batu nisan itu dengan tatapan mata yang lekat. Memperlihatkan tatapan penuh cinta kepada anak pertamanya.
Sama halnya seperti Mentari tadi, Edgar pun tidak banyak berkata-kata, ia masih mengusap-usap batu nisan itu dengan sangat lembut. Tatapan sendu dan sudut bibir yang terangkat menjadi jawabannya. Ia berusaha menyembunyikan airmatanya, ia tak ingin menangis disamping Mentari.
''Nak, maaf untuk kesibukan Daddy akhir-akhir ini, jadi baru sempat kesini lagi. Maafkan Daddy yang tidak bisa menjaga mommy kamu, Daddy harap kamu disana tidak kecewa dengan keputusan Daddy dan mommy.''
''Nak, kenalkan wanita cantik disebelah Daddy, teman hidup Daddy yang sekarang dan selamanya, mama kamu juga, namanya Mama Mentari .'' Edgar menatap Mentari, ia melihat sang istri kembali menyeka airmatanya yang terlanjur jatuh.
__ADS_1
Mentari berusaha untuk tetap tersenyum supaya Edgar tidak melihat ia nampak menyedihkan sekali hari ini.
Setelah selesai mengunjungi makam sang buah hati. Edgar beserta Mentari langsung kembali ke dalam mobil. Edgar tidak langsung menghidupkan mesin mobilnya, keduanya terdiam seribu bahasa sembari menatap lurus ke depan.
Mentari merasakan posisinya yang kini sedang ditukar. Saat ia tadi bersedih dan sang suami berusaha menguatkannya, kini, giliran ia yang was-was untuk memulai pembicaraan. Bagaimana pun juga, seseorang yang bersedih akibat kehilangan itu menjadi sangat sensitif, apalagi jika menghadapi perkataan yang kurang tepat dan waktu yang tidak tepat juga.
''Maaf.'' ucap Edgar dan Mentari secara bersamaan.
Keduanya langsung tersenyum.
''Aku dulu ya Mas yang ngomong.'' ucap Mentari meminta izin.
Edgar langsung duduk menyerong agar menghadap ke Mentari. Mentari pun juga lebih leluasa untuk berbicara.
''Maafkan aku ya Mas..'' ucap Mentari.
''Aku merasa tidak pantas untuk berada di posisi ini, Mas.'' tutur Mentari langsung menunduk.
''No.. jangan pernah bilang seperti itu lagi, kamu pilihanku, jadi kamu sangat pantas berada di posisi ini, sayang.'' Edgar langsung memeluk Mentari. Kemudian melepaskan pelukan itu beralih menangkup wajah sang istri dengan memberikan tatapan yang lekat.
''Aku minta maaf untuk emosionalku tadi..'' ucap Edgar tulus.
Mentari mengangguk pelan.
''Kamu sangat mencintainya, Mas.. kembalilah jika masih bisa diperbaiki seperti dulu, jangan cemaskan aku.''
__ADS_1
Ungkapan Mentari membuat Edgar tidak habis pikir. Kenapa Mentari langsung terpikirkan ke arah sana.
''Hey sayang.. kamu bicara apa? stop ngelantur, semua itu tidak akan pernah terjadi. Sama halnya seperti kamu, kisah itu hanya ada di masalalu kita.''
Mentari hanya tersenyum sendu.
''Maaf Mas, aku hanya terbawa suasana.'' ucap Mentari lalu tertunduk.
Edgar mengusap wajah Mentari dengan lembut dan mengangkatnya agar kembali saling menatap.
''Sekarang saatnya kita berdua menatap masa depan. Dan.. menanti hadirnya buah hati kita berdua, disini..'' tutur Edgar lalu menunjukkan jari telunjuknya di perut Mentari.
Mentari mengikuti arah tangan Edgar, ia melihat perutnya diusap lembut oleh sang suami.
''Aku belum pernah merasakan menjadi ibu hamil, Mas..'' ucapan Mentari membuat Edgar mendongak.
''Terus?''
''Aku belum tau gimana cara menghadapinya, aku khawatir mengecewakan kamu, Mas..''
''Selama kita tetap berada di komitmen yang sama, all is well.''
Mentari langsung melingkarkan tangannya di pinggang Edgar. Ia menelusupkan kepalanya di dada Edgar. Edgar pun langsung memberikan kecupan di kening Mentari berkali-kali.
''Jangan pernah berbicara yang aneh-aneh lagi, aku tidak suka..''
__ADS_1
Mentari mengangguk, kemudian memejamkan kedua matanya untuk meresapi kehidupan yang sedang ia jalani.
°°