
Wajah Mentari langsung berubah menjadi khawatir. Teman baiknya yang selalu ceria itu tidak biasanya seperti ini.
''Rita ... kamu baik-baik saja 'kan?'' tanya Mentari lagi. Ia benar-benar sangat khawatir.
''Iya ... aku baik-baik saja kok. Kenapa sih kok jadi tegang begini?''
Rita masih berusaha untuk tetap terdengar ceria. Meskipun sangat berbanding terbalik dengan apa yang tengah ia rasakan.
''Kamu cuti kemana, Rit? dari kapan dan sampai kapan?'' tanya Mentari.
Terdengar suara tawa lagi dari Rita.
''Sudah kayak emak-emak lu, ahaha''
''Rita!! aku serius, nih. Kamu jangan bohong sama aku, kalau ada apa-apa, ayo cerita.''
''Heyy, Nona Ghadira Mentari, anda ini istri dari seorang CEO, EDGAR RAYMOND. Ya kali nerima buat dengar celotehan orang nggak penting kayak gini.''
''Hey, hey, hey ... Rita nggak pakai Sugiarto!'' seru Mentari.
''Kamu sekarang lagi dimana?!'' tanya Mentari lebih tegas.
''Aku nggak kemana-mana kok. Aku masih disini, hanya sedikit bergeser ke kota sebelah.'' jawab Rita.
''Kamu cuti sampai kapan?'' tanya Mentari.
''Minggu depan, ada apa sih? mau ngajakin aku ketemu pria tampan berapa? hahaha''
Mentari menggeleng cepat. Meskipun dulu perkataan itu sudah menjadi hal yang biasa keluar dari mulut Rita. Tetapi kali ini nada suara itu terdengar berbeda. Suara itu terdengar hanya untuk menutupi rasa kesedihan. Ntah suaranya yang berbeda atau karena cara berpikir Mentari lah yang sudah lebih peka.
''Besok aku mau membuat acara syukuran di rumah lama. Aku pengin kamu datang, Rit. Tapi, kalau kamu masih cuti ya gimana lagi.''
''Aku nggak bisa berjanji untuk datang, maaf.'' ucap Rita penuh sesal.
Raut wajah Mentari berubah menjadi sedih. Padahal ia ingin bertemu dan melihat secara langsung bagaimana sikap Rita saat ia menyelediki apakah ada sesuatu yang sengaja disembunyikannya.
''Tanpa kehadiranku, kamu akan tetap bahagia, Mentari. Kamu bisa kembali merasakan bertegur sapa dengan tetangga-tetanggamu yang sudah lama kamu tinggalkan. Aku benar-benar minta maaf untuk kali ini. Selamat ya akhirnya tuan Edgar bersedia untuk kesana.''
Rita menggigit bibirnya dengan kuat. Ia tidak mau suaranya terdengar bergetar karena menahan tangis.
__ADS_1
Mentari berusaha untuk tersenyum.
''Ya sudah, tidak apa-apa kalau kamu tidak bisa hadir, Rit. Nikmati masa cutimu ya, kabari aku kalau kamu sudah di rumah.
Rita tidak sanggup berlama-lama. Rupanya ia tidak bisa semudah itu untuk mencurahkan isi hatinya saat ini. Niat awalnya menghubungi Mentari memang ingin mengurangi beban yang ada dipikirannya, tetapi setelah mendengar suara Mentari membuat mengurungkan niat itu. Apalagi ia harus menolak sebuah permintaan.
Mentari meletakkan ponselnya di atas meja. Ia menarik nafasnya dalam-dalam.
Rita gadis yang selalu ceria. Tidak jauh berbeda dengannya yang sangat minim mengumbar masalah pribadi. Namun, bedanya di antara mereka adalah Rita selalu menunjukkan ceria dengan tawa yang menggelegar meskipun dengan siapa saja, kecuali di hadapan bos. Sedangkan Mentari lebih kalem, ia hanya bisa tertawa lebih lebar ketika bersama dengan Rita.
''Mungkin selama ini Rita terlalu sungkan untuk bercerita, karena melihat aku yang tidak mudah bercerita.'' gumam Mentari.
Mentari merasa menyesal karena tidak bisa menjadi seorang teman yang baik dan peka. Sekarang setelah keadaan berbeda, baru ia menyadari hal itu.
Di tempat lain, Rita duduk melamun, tatapannya lurus dan kosong. Bibirnya yang tersenyum getir berubah menjadi bergetar karena isak tangisnya.
''Aku ingin belajar menjadi kuat dan mandiri sepertimu, Dira.'' gumam Rita dengan tatapan mata yang masih lurus ke depan.
''Aku tidak tau harus berbuat apa, aku tidak tau harus bercerita pada siapa. Aku sendiri, saat aku ingin bercerita denganmu, aku merasa lemah. Aku melihat takdir hidupmu jauh lebih berat dibandingkan jalan hidupku.'' gumam Rita lalu mengusap air matanya yang lolos dari pelupuk matanya.
Memang terkadang benar, seseorang yang tawanya terdengar sangat keras, biasanya seseorang itu sedang menyimpan kesedihan teramat dalam. Dengan tertawa, ia bisa melupakan kesedihannya meskipun hanya sejenak. Di sisi lain, orang yang seperti itu juga tak ingin membuat orang-orang di sekitarnya khawatir atas kehidupannya.
''Mereka saling beruntung.'' gumam Rita.
''Aku tidak pernah iri dengan banyaknya pria yang mencintaimu selama ini, Dira. Aku hanya iri dengan kekuatan hatimu, aku sangat iri.'' gumam Rita.
Pukul 11.20 WIB, Jimmy dan Edgar baru keluar dari ruang meeting dengan kolega yang datang dari Singapore. Mereka melakukan perbincangan bisnis singkat sebelum berpisah.
''Aku akan makan siang di ruanganku saja, Jim.'' ucap Edgar.
''Baik Tuan.'' jawab Jimmy.
Edgar langsung masuk ke ruangannya, sedangkan Jimmy ke ruangannya sendiri.
Soal Rita masih menjadi tanda tanya. Jimmy pun langsung kembali memeriksa aplikasi, dan dilihatnya nomor itu baru saja aktif.
''Eh, nanti dulu.'' gumam Jimmy. Ia hampir melupakan untuk urusan makan siang bosnya.
Jimmy langsung menelpon seseorang yang sudah biasa mengurus makan siang Edgar. Setelah menyebutkan menu untuk siang ini, Jimmy menyudahi panggilan telepon itu.
__ADS_1
Belum sempat Jimmy menghubungi Rita, ternyata gadis itu lebih dulu menghubunginya. Jimmy pun langsung menjawab panggilan telepon tersebut.
''Selamat siang, Tuan Jimmy. Maaf ponselnya baru saya aktifkan.'' ucap Rita dari sambungan telepon.
''Hmm ... saya hanya ingin menyampaikan pesan dari tuan Edgar. Besok beliau akan membuat acara syukuran di rumah lama nona Mentari. Dan beliau meminta saya untuk menyampaikan pesan ini ke kamu supaya bisa datang ke acara besok.''
Rita langsung bingung sendiri. Ia sudah menolak saat Mentari yang memintanya langsung. Dan sekarang hal yang sama diminta oleh Edgar melalui Jimmy.
''Hallo..! apa masih ada orangnya?!'' seru Jimmy.
''Eh, iya, hallo, maaf Tuan.'' ucap Rita gelagapan.
''Maaf, sebenarnya Mentari, maksud saya nona Mentari sudah menyampaikan hal ini tadi. Tapi, berhubung saya masih cuti jadi tidak memaksa untuk hadir.'' ucap Rita yang semakin merasa tidak enak atas permintaan ini.
''Cuti?'' tanya Jimmy.
''Iya Tuan, saya sedang cuti, Minggu depan baru kembali bekerja.'' jawab Rita.
''Apa kamu sedang sakit?'' tanya Jimmy.
''Oh, tidak, Tuan. Saya baik-baik saja, saya sedang di rumah salah satu keluarga di daerah X.'' jawab Rita.
Jimmy sedikit lega, ntah kenapa ia merasa ada sesuatu.
''Apa tidak bisa mengusahakan untuk hadir? tuan Edgar berharap kamu datang untuk nona Mentari.''
Rita langsung terdiam sejenak.
Mentari selalu menganggap dirinya penting. Setiap kali ada acara, dirinya selalu dilibatkan layaknya keluarga, bukan lagi teman ataupun sahabat. Setelah penolakan yang ia sampaikan pada Mentari, kini permintaan Edgar melalui Jimmy akan ia tolak lagi. Tiba-tiba Rita berpikir ragu untuk kembali menolak.
Rita menarik nafasnya dalam-dalam.
''Saya akan mengusahakan untuk hadir, Tuan.'' jawab Rita.
Jimmy pun langsung tersenyum tipis.
''Baiklah, terima kasih atas jawaban positif ini. Saya berharap bukan hanya diusahakan, tapi, memang yakin akan datang.
Rita memberikan anggukan kepala yang tentu saja tidak terlihat oleh Jimmy.
__ADS_1