
Edgar kembali melajukan mobilnya setelah mengambil pesanan berupa martabak manis dan martabak telur yang dulu pernah beberapa kali ia beli. Saat kembalinya lagi ke tanah air dan sebelum menikah dengan Mentari, Edgar sudah beberapa membeli lagi, rasanya tidak berubah, tetap lezat dan memiliki banyak pelanggan tetap.
''Apa yang bikin kamu berlangganan disini, Mas?'' tanya Mentari.
''Emmmm, yang pasti karena rasanya enak, dan yang paling utama itu pelayanan ke pembeli bagus, mereka juga menjaga kebersihan, meskipun tempatnya tergolong biasa aja, kamu lihat sendiri kan tempatnya cukup bersih.'' jawab Edgar.
Mentari mengangguk setuju, meskipun ia tadi tidak ikut turun karena dilarang oleh Edgar, ia bisa melihat dengan jelas dari dalam mobil.
''Bener Mas.'' ucap Mentari.
Setelah acara resepsi, sebenarnya Edgar ingin tinggal di apartemen, tetapi karena mengingat ia harus bekerja, rasanya tidak tega meninggalkan Mentari sendirian. Mungkin mencari waktu yang tepat yaitu saat akhir pekan.
Edgar dan Mentari turun dari mobil. Kebetulan ada seorang pekerja wanita yang sedang berada diluar, karena memang belum terlalu malam.
''Mbak, sini sebentar..'' panggil Mentari.
''Iya Non, ada apa?'' tanya ART tersebut.
Mentari mengambil alih dua plastik yang dipegang oleh Edgar dan menyerahkan ke mbak ART.
''Ini buat cemilan bareng-bareng ya..'' ucap Mentari.
''Ohh iya-iya Non, Tuan.. terimakasih.'' ucapnya sambil menerima.
Edgar hanya mengangguk seraya tersenyum tipis.
''Sama-sama.''
''Untuk Non Mentari sama Tuan saya antar kemana?'' tanyanya.
__ADS_1
''Oh tidak perlu Mbak, terimakasih. Itu buat kalian semua, Mas Edgar tadi sudah minta langsung buat kotak sendiri, masih di mobil, belum kami ambil.'' jawab Mentari.
''Baik Non, kalau begitu saya permisi dulu..''
''Silahkan, jaga kesehatan ya Mbak, jangan begadang..'' ucap Mentari ramah.
ART tersebut langsung menunjukkan senyum yang berbeda.
''Terimakasih banyak, Non..''
Edgar memperhatikan percakapan antara istrinya dengan ART tersebut, terasa ada kehangatan rasa sayang.
''Ayo masuk Mas..'' ajak Mentari.
''Oh, iya.. sebentar.'' Edgar kembali membuka pintu mobilnya dan mengambil sesuatu.
Tempat andalan yang selalu digunakan untuk menikmati udara segar di malam hari atau kapanpun. Edgar dan Mentari berada di balkon pribadi kamarnya sembari menyantap martabak manis dan martabak telur ya tadi dibeli. Suara air kolam renang dan kendaraan yang terdengar jelas menemani dinginnya malam ini.
''Mas, mau ngapain?'' tanya Mentari karena Edgar menatapnya lekat.
Edgar mengusap sudut bibir Mentari.
''Nih ada keju yang nggak ketelen.'' jawab Edgar santai sambil menunjukkan potongan keju yang sangat kecil itu.
''Oooo..'' Mentari langsung menoleh ke samping dan mengusap area bibirnya dengan tisu.
''Kenapa aku berfikir ke arah yang lain!! dasar Mentari!! sadar.. sadaaaarrr!!!'' Mentari merutuki dirinya sendiri dalam hati.
''Kenapa sayang?''
__ADS_1
''Hah? enggak, nggak ada apa-apa.'' jawab Mentari sedikit gugup.
Edgar hanya tersenyum, ia tau istrinya sedang memikirkan hal lain.
''Kamu kenapa senyum-senyum?'' tanya Mentari.
''Hmmmm, kira-kira kenapa ya?''
''Ya nggak tau, kan yang senyum kamu, Mas..'' ujar Mentari.
''Ohh gitu ya?''
Mentari reflek memundurkan tubuhnya, namun, Edgar dengan sigap menahan.
Tatapan lembut itu perlahan kembali menyatukan bibir mereka, menuntun secara perlahan untuk sama-sama menikmatinya.
Pertahanan yang semakin goyah membuat Edgar langsung membopong tubuh Mentari dan membawanya ke dalam kamar. Ia langsung menurunkan tubuh Mentari diatas ranjang dan melanjutkan kembali.
Menyadari pintu balkon masih terbuka, Edgar menghentikan sejenak.
''Sebentar, aku akan segera kembali.'' ucap Edgar dengan nafas beratnya yang berbisik di telinga Mentari, deru nafas yang masuk ke telinganya membuat Mentari merinding.
Mentari hanya bisa mengangguk lalu menutupkan selimut ke seluruh tubuhnya.
''Apa yang akan terjadi???'' batin Mentari gusar membayangkan tatapan mata Edgar yang seperti ingin menerkamnya.
Mentari mengatur pernafasannya agar kembali normal.
Edgar yang sudah kembali menyunggingkan sudut bibirnya ketika melihat sang istri menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Edgar mendekatinya lalu membuka selimut itu dengan perlahan.
__ADS_1
''Hehe Mas.. sudah kembali?'' tanya Mentari yang hendak duduk, tapi, langsung ditahan oleh Edgar.