Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 197 : Anggap Saja Saya Tembok


__ADS_3

''Kalau kamu mau kembali sehat, ikuti apa yang saya katakan. Kamu tidak perlu memikirkan bagaimana nantinya. Saya memastikan kamu akan tetap bekerja.'' ujar Jimmy dengan menatap Rita.


Rita menatap Jimmy dengan diam. Mengumpulkan energi keberanian untuk bertanya suatu hal.


''Lalu, bagaimana dengan nona Erin jika tau anda menolong saya? saya khawatir akan menimbulkan kesalahpahaman diantara kalian.''


''Saya tidak ingin niat baik anda membuka pintu masalah baru.''


Seketika Jimmy melongo, namun ia bisa mengontrol ekspresi wajahnya dengan cepat.


''Kamu tau soal saya?'' tanya Jimmy.


''Maaf Tuan, sebetulnya tidak ada yang memberi tau ke saya mengenai hubungan kalian. Hanya saja saya melihat kalian berdua tidak mungkin hanya berhubungan biasa. Saya hanya menebak, maaf.'' ucap Rita.


Jimmy terdiam. Ia juga belum mengatakan apapun pada kekasihnya itu. Yang dikhawatirkan oleh Rita juga tidak salah. Kekhawatiran itu memang bisa saja terjadi.


''Baiklah, saya mengerti rasa kekhawatiran kamu. Saya juga tidak ingin menimbulkan masalah baru.''


Rita mengangguk, kemudian tersenyum.


''Kalau begitu, tunggu Erin, disana masih malam. Saya memang sudah berniat untuk berbicara apa adanya. Saya juga tidak ingin membuatnya marah lagi.''


Rita memberikan anggukan kecil. ''Anda begitu sangat mencintainya, Tuan.'' bathinnya.


''Sekarang minum obat kamu.''


Rita mengangguk lagi.


Jimmy memberikan obat-obat tersebut pada Rita. Rita menerimanya dengan nurut.


''Tuan Jimmy sangat tampan. Ternyata dia juga sangat baik. Tidak salah aku tertarik padanya. Hanya saja kesalahanku karena tertarik pada pria yang sudah memiliki kekasih.'' bathin Rita.


''Sudah habis.'' ujar Jimmy.


Rita tidak merespon. Rita menatapnya tanpa berkedip. Jimmy langsung menggerakkan tangannya di depan mata Rita.


''Eh, iya, maaf Tuan. Berapa obat lagi?'' tanya Rita sembari menengadahkan tangan.


''Sudah habis.'' jawab Jimmy.


Rita langsung nyengir, lalu menurunkan tangannya yang kosong.


''Maaf, saya melamun.'' ucap Rita.


Jimmy tersenyum tipis. Sebentar lagi dokter akan mengontrol Rita.


Dan benar saja, dokter kembali dan siap memeriksa kondisi Rita pagi ini.


''Kondisi anda sudah lebih baik. Tapi, ingat, jangan menyepelekan suatu penyakit. Karena penyakit besar, awalnya juga dari penyakit kecil yang disepelekan.'' jelas dokter tersebut.


''Terima kasih, Dok.'' ucap Rita.


Dokter mengangguk.


''Saya permisi, Tuan.'' ucap dokter tersebut lalu meninggalkan ruangan itu.


Jimmy menatap pintu ruangan sampai dokter tersebut tidak terlihat dari pandangannya. Setelah menghilang, ia menarik kursi dan mendudukinya menghadap Rita.


''Boleh saya bicara?'' tanya Jimmy.


''Bi-bicara apa?'' tanya Rita gugup.


Jimmy menarik nafasnya dalam-dalam.

__ADS_1


''Saya mendapatkan informasi tentang kamu, tentang keluarga kamu.''


Rita langsung terdiam, lalu menunduk, menyembunyikan raut kesedihan.


''Apa perlu saya bercerita pada anda, Tuan?''


''Apakah anda peduli dengan hidup saya yang bukan siapa-siapa anda?''


Keduanya saling menatap.


''Perlu, sangat perlu.'' jawab Jimmy yakin.


''Disaat kamu mampu menyembunyikan rasa sakitmu pada siapapun, ternyata saya tau. Saya percaya dengan takdir, dan saya percaya kalau saya ditakdirkan untuk membantu di masa-masa sulitmu ini.''


Rita sudah tidak sanggup menjawab. Sebagai seorang wanita, ia memiliki hati yang lemah. Apalagi menerima sikap seperti ini. Ingin rasanya ia langsung memeluk pria dihadapannya itu sembari mengucapkan terima kasih. Namun, kesadarannya masih mampu menguasai dirinya untuk tau diri.


''Menangislah, tidak apa-apa. Nggak usah di pendam lagi. Anggap saja saya tembok.'' ujar Jimmy lagi.


Rita menjadi ingin tertawa mendengar kata tembok, tapi, tangisnya akhirnya pecah juga.


Tak ada hal lain selain sebuah senyuman yang terbentuk di bibir Jimmy. Ia melihat Rita melepaskan air matanya. Berharap gadis itu semakin optimis untuk meraih kebahagiaannya sendiri.


Tiga puluh menit Rita menangis hingga benar-benar selesai. Kedua kelopak matanya pun sudah tampak sembab. Namun, ia merasakan lebih lega.


Huuhhh


''Maaf.'' ucap Rita dengan sedikit tersenyum.


''Sudah lega?'' tanya Jimmy.


''Sudah lebih baik, terima kasih.'' jawab Rita sembari mengusap wajahnya dengan tisu.


''Lebih baik kamu istirahat saja dulu. Saya akan bicara nanti saja.''


Rita mengangguk lalu merebahkan tubuhnya.


Hal yang tidak ditinggalkan oleh Jimmy adalah laptop. Apalagi besok awal pekan, waktunya memulai hari seperti biasanya.


Rupanya rasa kantuk kembali mendera. Jimmy akhirnya menutup kembali laptop tersebut dan merebahkan tubuhnya di sofa. Tanpa menunggu lama, ia sudah terbawa ke alam mimpi.


Rita yang sedari tadi tidak bisa tidur menyadari tidak ada suara apapun. Ia langsung membuka matanya perlahan dan menoleh ke sofa. Bibirnya tersenyum tipis melihat Jimmy yang nampak sangat mengantuk.


''Maafkan saya, Tuan. Maafkan saya, nona Erin.'' bathin Rita.


Rita kembali duduk, ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan itu. Ia sedang berada ruangan VIP. Tentu saja sangat nyaman bagi pasien.


Waktu terus berlalu, Jimmy terbangun ketika ponselnya berdering. Ia yang dibuat kaget langsung duduk dan memeriksa ponselnya.


Foto kekasihnya muncul di layar ponselnya. Jimmy tersenyum sembari mengusap wajahnya yang baru saja bangun tidur. Tanpa di sadari, Rita memperhatikan setiap geraknya.


Tanpa melihat keadaan Rita, karena menganggap masih tidur. Jimmy menjawab panggilan itu sembari jalan keluar ruangan supaya tidak mengganggu istirahat Rita.


''Good morning.'' ucap Erin yang wajahnya sudah muncul di layar ponsel Jimmy.


''Di Indonesia sudah siang, sayang.'' jawab Jimmy lalu terkekeh kecil.


''Ohh iya, lupa.'' balas Erin.


''Bentar-bentar, itu seperti bukan di apartemen? seperti rumah sakit?'' tanya Erin ketika menyadari background tempat Jimmy duduk.


Jimmy langsung menoleh ke belakangnya. Lalu kembali menatap sang kekasih.


''Iya, Kakak sedang berada di rumah sakit, sayang. Kakak ..,''

__ADS_1


''Ada apa? siapa yang sakit? kak Mentari nggak kenapa-kenapa 'kan, Kak?'' cerca Erin tanpa menunggu perkataan Jimmy selesai.


Terlihat wajah Erin yang langsung cemas. Bahkan langsung duduk tegap, karena sebelumnya terlihat santai sembari sandaran.


''Kakak ipar baik-baik saja, sayang.'' jawab Jimmy.


''Lalu, siapa yang sakit?!''


''Untuk itu, biarkan Kakak berbicara sampai selesai ya.'' pinta Jimmy.


Erin menyadari karena sudah memotong kalimat Jimmy begitu saja.


''Maaf.'' ucap Erin.


Jimmy tersenyum gemas melihat ekspresi wajah Erin yang merasa bersalah itu.


''No problem.''


''Silahkan Kakak berbicara.''


Jimmy langsung bercerita tentang Rita menurut informasi yang sudah ia dapatkan. Ia tak ingin membuat sang kekasih cemburu buta. Karena yang ia lakukan adalah suatu tindakan yang dilakukan atas dasar kemanusiaan. Apalagi Rita tidak ingin kabar ini sampai di telinga Mentari.


Erin pun terdiam ketika Jimmy sudah selesai bercerita. Ia berusaha mencerna setiap kata yang disampaikan oleh Jimmy.


Perasaan cemburu tentu saja. Laki-laki dan perempuan tanpa adanya ikatan saudara di tempat yang sama. Namun, ia mempercayai Jimmy, pria itu tidak mungkin akan menyakitinya.


''Dia teman baik kak Mentari yang waktu itu?'' ujar Erin.


''Iya sayang.'' jawab Jimmy.


''Jika kondisinya sudah semakin memprihatinkan, aku mendukung Kakak untuk membantunya. Aku tidak mungkin menghalangi jalan kebaikan itu.''


Jimmy langsung tersenyum lebar. Begitu bersyukurnya ia mendapatkan respon yang positif dari sang kekasih. Meskipun ia tau, di benak gadis itu tetap saja menahan rasa cemburunya.


''Tapi, Kakak harus janji jangan khianati aku.'' pintu Erin dengan wajah cemberut.


Ingin rasanya Jimmy mencubit gemas hidung kekasihnya itu. Namun, sayangnya hanya bisa melalui ponsel.


''Seharusnya Kakak yang khawatir karena punya calon istri yang cantik dan berteman dengan bule-bule.'' balas Jimmy.


Erin langsung tertawa mendengarnya. Hatinya sudah mantap berlabuh pada pria yang bernama Jimmy itu, tidak ada yang lain.


Komunikasi sepasang kekasih itu harus berakhir ketika waktu sudah siang. Dokter hendak masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa kondisi Rita.


Setelah selesai memeriksa, dokter tersebut keluar lagi. Lalu menyusul datang makan siang untuk pasien.


''Kamu makan dulu.'' ujar Jimmy.


''Apakah Tuan sudah berbicara dengan nona Erin?'' tanya Rita mengalihkan pembahasan.


''Ya, saya sudah berbicara padanya. Tidak ada yang dipermasalahkan. Erin sangat memberikan dukungan.'' jawab Jimmy.


Rita tersenyum haru.


''Tolong sampaikan rasa terima kasih saya untuk nona Erin.''


Jimmy mengangguk. ''Nanti saya sampaikan.'' jawabnya.


Rita langsung menyantap makan siangnya. Ia ingin sehat, ia tidak ingin menyia-nyiakan kebaikan yang ia dapatkan dari orang-orang yang tidak pernah ia duga.


Pukul 14.00 WIB, Rita masih terjaga. Begitu juga dengan Jimmy yang berkutat di depan laptop.


Jimmy menutup laptopnya lalu berjalan mendekati Rita. Ia menarik kursi dan mendudukinya. Rita yang masih bersandar langsung duduk tegak.

__ADS_1


''Saya memiliki sebuah rekaman suara.'' ujar Jimmy.


''Rekaman?'' balas Rita yang mendapatkan anggukan kepala dari Jimmy.


__ADS_2