Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 77 : Bu.. Aku Sudah Menikah Lagi


__ADS_3

Edgar mengambil dua piring lalu menuangkan nasi goreng spesial yang sudah selesai ia bikin. Dua piring siap ia sajikan untuk menu sarapan pagi ini bersama orang tercinta.


''Silahkan Nona..''


Edgar menyuguhkan piring berisi nasi goreng untuk Mentari, lalu melepaskan celemek yang masih menempel ditubuhnya.


''Terimakasih Chef Edgar.''


''Heuumm.. sepertinya ini sangat lezat.''


Mentari menghirup aroma nasi goreng dihadapannya.


''Tentu saja.'' jawab Edgar yakin.


Edgar meletakkan kembali celemek ke tempat semula, lalu mengambil satu piring untuknya dan membawa ke meja makan bersama sang istri.


''Kok belum di coba?'' tanya Edgar.


''Nungguin kamu duduk.'' jawab Mentari.


''Aku coba sekarang.'' imbuhnya.


Mentari menyendok nasi goreng lalu memasukkan ke dalam mulutnya dengan hati-hati.


''Eummm..'' Mentari mengangguk-angguk menikmati menu sarapan paginya.


Mentari menelan terlebih dahulu makan yang sudah selesai ia kunyah.


''Enak sekali, Mas. Ini seperti nasi goreng yang ada di restoran.'' puji Mentari.


''Oh ya?''


''He'em.''


''Kamu juga makan dong Mas..'' titah Mentari.

__ADS_1


''Iya, sayang.''


Edgar mengulum senyumnya melihat Mentari sangat lahap menikmati nasi goreng buatannya.


°°


''Sayang, siap-siap ya.. aku mau ajak kamu ke suatu tempat.''


Mentari mengeringkan tangannya lalu berbalik menghadap Edgar.


''Kemana Mas?''


''Nanti kamu akan tau sendiri, sayang.''


''Nggak aneh-aneh kan?'' cemas Mentari.


Edgar tersenyum tipis.


''Percayalah padaku.''


''Iya Mas, aku percaya.''


Mentari segera bersiap-siap, ntah kemana tempat yang akan dituju oleh Edgar. Edgar juga menyusul, ia turut bersiap-siap dengan mengganti pakaiannya.


Setelah selesai, keduanya langsung keluar dari apartemen.


°°


Akhir pekan pada umumnya yang mulai ramai oleh pengendara dengan berbagai tujuannya masing-masing. Mentari menatap kaca disampingnya.


''Kok kesini Mas?'' tanya Mentari saat Edgar membelokkan mobilnya ke kios bunga yang belum jauh dari apartemen.


''Bukan kesini tujuannya, sayang. Aku turun sebentar ya.. tunggu disini.''


Mentari mengangguk, memperhatikan Edgar yang turun dari mobil.

__ADS_1


Dari dalam mobil, Mentari selalu memperhatikan Edgar yang sedang berbincang dengan seseorang yang ada di kios bunga tersebut. Terlihat Edgar menyerahkan uang merah beberapa lembar lalu menerima tiga bucket bunga segar berukuran sedang.


Mentari mengernyitkan keningnya, beberapa detik kemudian ia langsung menangkap kemana tujuan yang dimaksud oleh Edgar.


Terlihat Edgar berjalan ke arah mobil, kemudian membuka pintu belakang dan meletakkan tiga bucket itu disana, lalu menutup kembali dan kembali masuk di depan.


''Kenapa kamu nggak terus terang aja Mas?'' tanya Mentari.


Sebelum Edgar menghidupkan kembali mesin mobilnya, ia menghadap sang istri.


''Tadinya mau bikin kejutan, ternyata kamu paham hehe.'' ujar Edgar lalu tertawa pelan.


Mentari hanya menghela nafas tanpa melakukan protes, ia juga sudah rindu terhadap rumah terakhir ibunya.


''Nggak marah kan?'' tanya Edgar memastikan.


''Nggak Mas, aku juga rindu sama ibu.'' jawab Mentari menatap Edgar sekilas lalu kembali menghadap depan dengan tatapan mata sendu.


Edgar memahami itu, ia mengusap kepala Mentari dan langsung menghidupkan kembali mesin mobilnya. Menyusuri jalanan untuk segera menuju ke tempat pemakaman.


Setelah menembus perjalanan yang padat, akhirnya Edgar dan Mentari tiba di tempat pemakaman umum di daerah tempat tinggal Mentari yang dulu.


Tujuan pertamanya tentu di makam sang ibunda tercinta. Mentari langsung terduduk lemas, airmata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah di samping nisan ibunya.


Edgar mengusap lembut bahu Mentari dan menggenggam tangan sang istri untuk menguatkan. Mendengar Mentari berbicara, seolah-olah berbicara berhadapaan langsung dengan ibu.


''Bu.. maaf aku menjadi semakin jarang kesini, maafkan aku, Bu. Ibu disana jangan sedih lagi ya, jangan kecewa sama aku..''


Mentari menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan pelan.


''Bu.. aku sudah menikah lagi, sama bos tempatku bekerja. Oh iya lupa, dulu Ibu taunya tuan Erick. Ini anaknya Bu, namanya Mas Edgar..'' Mentari menatap Edgar dan disambut senyuman oleh sang suami yang semakin mengeratkan genggaman tangannya untuk memberikan kekuatan.


Kemudian Mentari kembali menatap batu nisan dengan tersenyum getir, membayangkan sosok ibu kandung yang masih berada dihadapannya.


''Aku berharap Ibu disana bahagia, bertemu dengan orang-orang baik lainnya.''

__ADS_1


Setelah selesai berbicara dan meletakkan satu bucket bunga, mereka melantunkan do'a sebelum meninggalkan makam sang ibunda.


__ADS_2