Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 213 : Membayangkan Sesuatu Yang Indah


__ADS_3

Edgar dan Jimmy kembali membahas mengenai pekerjaan. Edgar harus meninggalkan sang istri sendirian di ruangannya karena ia harus meeting bersama dengan HRD dan para manager untuk membahas pembukaan lowongan pekerjaan terbaru di perusahaan Raymond Group pada tahun depan.


''Sebentar, Jim. Aku pamit dulu sama istriku.'' ucap Edgar.


Jimmy mengangguk.


''Baik Tuan.'' jawabnya.


''Nanti aku juga akan merasakan hal yang sama. Pamit sama istri sebelum beraktivitas.'' bathin Jimmy sembari senyum-senyum sendiri.


Membayangkan sesuatu yang indah memang menyenangkan bagi semua orang, termasuk Jimmy. Usianya yang semakin matang matang membuat pikirannya semakin yakin mengarah tentang hubungan pernikahan.


Edgar langsung berjalan cepat menuju ruangan pribadinya. Mentari masih berdiri sembari membuka tirai jendela kaca untuk melihat keramaian kota dari ketinggian itu.


''Sayang, ngapain kok berdiri disini?'' tanya Edgar yang memeluk Mentari dari belakang.


''Lihat mobil lewat, Mas.'' jawab Mentari sembari berbalik menghadap sang suami.


Edgar terkekeh kecil mendengar jawaban sang istri.


''Aku mau meeting, jangan kemana-mana ya.'' ucap Edgar lalu memberikan kecupan manis di kening Mentari.


Mentari mengangguk.


''Iya Mas.''


''I love you.'' ucap Edgar.


''I love you too ... semangat ya, suamiku.'' balas Mentari.


Edgar membalasnya dengan memberikan ciiuman sekilas di bibir Mentari lalu keluar dari ruangan itu dan kembali bersama Jimmy.


Setiap tahunnya, Raymond Group selalu membuka lowongan pekerjaan di beberapa bagian. Dan setiap pembukaan lowongan pekerjaan resmi release, ribuan peminat langsung menyerbu untuk bisa menjadi bagian dari perusahaan tersebut.


Meeting di mulai ketika semua peserta sudah masuk ke ruangan itu. Jimmy langsung membuka dan menyampaikan poin utama dalam pembahasan pada meeting kali ini. Semua mendengarkan dengan seksama sebelum nanti bertanya jika ada yang harus dipertanyakan.

__ADS_1


Sementara itu, Mentari berjalan mendekati sebuah bingkai yang secara tidak sengaja pernah ia jatuhkan hingga pecah pada beberapa waktu yang lalu. Mentari mengambilnya dengan hati-hati dan menatapnya dengan tersenyum tipis.


''Kami akan selalu menyayangi kalian semua, anak-anakku.'' gumam Mentari menatap foto itu lalu mengusap perutnya.


Cukup lama Mentari berdiri disana, lalu berpindah ke sofa sambil menonton televisi. Karena menunggu sang suami sudah dipastikan tidak akan sebentar.


Setelah hampir dua jam Mentari ditinggal meeting, Edgar langsung buru-buru kembali ke ruangannya saat sudah mendekati jam makan siang. Ia sudah memesan makanan yang sebentar lagi akan diantarkan.


''Istirahat dulu, Jim.'' ujar Edgar.


''Baik Tuan.'' jawab Jimmy.


Edgar dan Jimmy langsung berpisah menuju ruangannya masing-masing.


''Oh, ya-ya kebetulan sekali, letakkan di meja saja.'' pinta Edgar pada office boy yang mengantarkan pesanannya dan keduanya berpapasan.


Office boy tersebut langsung mengangguk dan menyusunnya di atas meja.


''Sudah, Tuan, saya permisi.'' ucapnya.


Edgar menutup pintu ruangannya, lalu menatap ruangan khususnya. Ia melangkah cepat agar segera bertemu dengan sang istri yang selalu membuatnya rindu.


''Sa-yang.'' panggil Edgar dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu.


Kamar itu tampak sepi, Mentari tidak menjawab panggilan Edgar. Edgar menatap Mentari yang tertidur di sofa dengan posisi yang terlihat tidak nyaman itu, karena kepalanya miring dan posisi masih duduk.


''Kamu pasti bosan ya? maaf.'' ucap Edgar lirih sembari memindahkan kepala Mentari ke pelukannya.


Edgar mengusap-usap lembut rambut sang istri agar nyaman. Namun, justru sentuhan itu membuat Mentari langsung terbangun.


''Mas ... kamu sudah lama selesainya?'' tanya Mentari dengan wajah terkejut. Kedua matanya pun masih terlihat sipit khas bangun tidur.


Edgar menciium kening Mentari.


''Baru saja, sayang. Maaf ya sudah lama menunggu.'' ucapnya.

__ADS_1


Mentari mengangguk, ia melihat di sekelilingnya dan televisi pun masih menyala.


''Aku tadi masih nonton tv, malah ketiduran disini.'' ujar Mentari.


''Sekarang aku laper, Mas ... makan cemilan sama buah masih belum kenyang.'' ujar Mentari dengan malu-malu.


Edgar langsung tertawa kecil mendengar dan melihat raut wajah sang istri. Ia menangkup kedua pipi Mentari dengan gemas.


''Ya sudah kamu cuci muka dulu, aku ambilkan makanannya.'' tutur Edgar.


''Ambil dimana?'' tanya Mentari.


''Di depan, sayang. Tadi aku sudah pesan sama OB. Sebentar ya.''


Mentari mengangguk.


Edgar langsung bergegas memindahkan makanan yang sudah ia pesan saat Mentari ke kamar mandi. Ia menyusunnya di meja yang ia pindahkan ke dekat jendela kaca, agar sang istri bisa melihat pemandangan diluar sana.


Banyaknya kendaraan baik roda dua, roda empat, dan lebih pun saling memenuhi jalanan kota. Apalagi saat ini berada di jam makan siang.


Edgar menunggu Mentari yang belum juga keluar dari kamar mandi. Mungkin ada sesuatu yang harus dibuangnya.


''Mas, kamu yang sudah memindahkan itu semua?'' tanya Mentari yang baru keluar.


''Maaf aku lama.'' sambungnya.


''Iya, sini sayang.'' panggil Edgar.


Mentari langsung duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh Edgar dan menarikkan untuknya. Mentari tersenyum melihat itu. Makan siang romantis meskipun bukan di sebuah restoran mewah.


"Terima kasih, Mas. Kamu bisa aja bikin istrimu senang." ucap Mentari sembari mendongak menatap Edgar yang masih di belakangnya.


"Karena tujuan Edgar sudah pasti, akan membuat Mentari bahagia." jawab Edgar lalu memberikan kecupan sekilas dan duduk di kursinya.


Mentari mengangguk-angguk pelan.

__ADS_1


Dan keduanya mulai menikmati makan siang bersama dengan pemandangan langit cerah dan juga keramaian kota.


__ADS_2