
Setelah mendapatkan undangan melalui sambungan telepon dari Dini, keesokan harinya Mentari dan Edgar berkunjung ke suatu tempat. Edgar menemui seseorang dan membicarakan sesuatu yang sudah ia sepakati bersama sang istri.
''Cantumkan inisial ANS.'' ujar Edgar pada seseorang itu.
''Baik, Tuan. Kami akan bekerja lebih keras untuk mewujudkan permintaan anda dan siap dikirim tepat waktu.'' jawab pria itu diikuti senyumnya yang sangat meyakinkan.
Mentari hanya tersenyum sembari mengangguk pelan, cukup suaminya saja yang berbicara.
Dini dan keluarga sudah memberikan hal yang sangat penting untuk hidupnya. Untuk itu, Edgar dan Mentari pun tak segan memberikan hadiah yang terbaik untuk Ashilla, putri Dini.
Setelah saling berjabat tangan antara Edgar dan pria yang berusia sekitar 40 tahunan itu, tanda permintaan akan dipersiapkan dengan baik. Edgar segera meninggalkan tempat tersebut.
Haaahh
Edgar menghembuskan nafas panjang setelah keluar dari gedung itu. Jam operasional yang sebenarnya sudah tutup, tapi, karena sudah memiliki janji dengan Edgar, manager mereka pun masih berada di tempat itu supaya tidak mengecewakan.
''Lega, sayang. Semoga bermanfaat untuk Shilla.'' ucap Edgar.
''Aamiin, Mas.'' jawab Mentari.
Edgar membukakan pintu untuk Mentari, lalu bergegas ke kursinya.
''Maaf ya, sayang. Kalian cape ya?''
''Kita ke satu tempat lagi ya, sayang.'' ujar Edgar sembari mengusap lembut perut Mentari. Meskipun tempat kedua juga bisa membuat lebih melelahkan lagi.
''Iya Papaaa.'' jawab Mentari.
Perut semakin membuncit, membuat Edgar semakin gemas. Rasa percaya dan tidak kerap menyelimuti hatinya. Ia sering menatap dalam diam dengan perasaan yang begitu teramat sangat bahagia. Tidak lama lagi ia diizinkan untuk menjadi seorang ayah.
''Mas, masih betah disini?'' tanya Mentari membuyarkan diamnya Edgar.
Edgar langsung mendongak, lalu menoleh ke arah depan. Ia langsung nyengir.
__ADS_1
Hehehehe
''Maaf, sayang. Mari kita jalan lagi.''
Edgar menciium kening Mentari, lalu kembali menghidupkan mesin mobilnya dan siap membelah jalanan kota yang ramai.
Mengisi waktu perjalanan dengan saling mengobrol agar tidak jenuh. Dan terutama supaya Mentari tidak mengantuk.
Akhirnya mereka tiba di tempat kedua, yaitu pusat perbelanjaan di tengah kota. Sebenarnya tidak harus datang kesini, Edgar bisa mendapatkan apa yang dicari dengan mudah. Tetapi Mentari menginginkan jalan-jalan ke mall, dan mencari pakaian yang akan mereka kenakan saat ulang tahun anak Dini nanti di mall.
Edgar tidak menolak, toh memang sudah cukup lama mereka tidak pergi sekedar jalan-jalan. Mungkin Mentari juga merasakan jenuh. Sebagai seorang suami, Edgar tidak ingin membuat wanitanya merasa tekanan bathin karena berada dirumah terus.
Tak henti Edgar mengawasi sekelilingnya supaya Mentari tidak di senggol maupun kesenggol.
''Mas, itu bagus, Mas.'' tunjuk Mentari.
''Yuk.'' balas Edgar.
''Hmm, bagus, sayang.'' puji Edgar. Ia mengakui pilihan sang istri itu terlihat cocok.
''Boleh dicoba dulu, Tuan ... Nona.''
''Oh, iya, baik.'' jawab Mentari.
Pegawai tersebut melepaskan pakaian itu dari patung manekin dan membantu membawakan ke ruang ganti.
''Silahkan Nona.''
Mentari mengangguk, ''Terima kasih, Mbak.'' ucap Mentari dengan ramah.
Edgar menunggu sembari membaca majalah.
''Mas.'' panggil Mentari setelah beberapa saat.
__ADS_1
Edgar langsung mendongak, sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Ia beranjak dari sofa untuk mendekati sang istri.
''Oke, like this. Kamu cantik sekali, sayang.'' puji Edgar tanpa ragu dengan suara yang tidak terkontrol itu.
''Hehehe, Mass.'' bisik Mentari dengan bibir nyengir. Ia menatap dua wanita yang menjaga store itu dengan wajah malu. Apalagi saat kedua wanita yang sepertinya masih gadis itu saling menyenggol lengan karena baper melihat Edgar memuji sang istri dihadapannya tanpa ragu.
Edgar tidak merasa terjadi apa-apa, ia tetap bersikap cool.
Mereka langsung menyelesaikan pembayaran setelah Mentari berganti pakaian kembali, dan beralih mencari pakaian untuk Edgar. Tidak ada pilihan lain, Edgar harus mencari t-shirt yang berwarna pink.
Tak butuh waktu lama, Edgar menerima pilihan yang didapat oleh Mentari. Kaos berwarna merah muda dan celana jeans warna putih.
''Aman, Maass. Jangan khawatir jadi cucok deh, hihi.''
Mentari paham apa yang ada dipikiran Edgar. Tapi, demi kebahagiaan, Edgar tidak bisa membantah.
''Yang penting semua bahagia.'' bisik Edgar lalu memberikan ciiuman sekilas.
''Mas, ih! dilihat banyak orang!!'' bisik Mentari.
Edgar tidak peduli, ia malah tertawa kecil, karena itulah yang ia mau, supaya orang lain tau bahwa Mentari itu miliknya.
...****************...
Sebelum lanjut ke part selanjutnya, Cimai rekomendasikan novel yang kalian bakal susah move on.
Karya othor OCYBASOACI, yang berjudul "CINTA BERSELIMUT DENDAM"
Jangan lupa mampir dan wajib banget masuk daftar favorit kalian 😍
Terima kasih 🙏
__ADS_1