
''Mas ..,''
Edgar menatap Mentari.
''Mas ..,'' lirih Mentari lagi lalu meraih lengan Edgar.
''Duduk dulu, baru kita lanjutkan bicaranya.'' ujar Mentari.
Edgar langsung melangkahkan kakinya terlebih dahulu menuju sofa, sehingga tangan Mentari pun terlepas dari lengannya.
Mentari hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam sembari menatap punggung sang suami.
Setelah Edgar sudah duduk, Mentari menyusul dan duduk di sampingnya.
''Aku minta maaf.'' ucap Mentari sembari menatap Edgar.
Namun, Edgar masih tersulut rasa emosi. Ia menatap ke arah lain.
Mentari menghela nafas panjang.
''Aku memang tau kalau Jimmy dan Erin sudah berpacaran. Tapi, memang semua itu tanpa di sengaja.'' ujar Mentari.
Edgar menoleh dan masih belum memberikan jawaban apapun.
''Kalau pun mereka berpacaran, apa itu salah, Mas?'' tanya Mentari dengan sangat hati-hati.
''Mereka saling mencintai.'' imbuhnya.
Edgar menatap Mentari.
''Saling mencintai??''
''Erin masih kecil, dia masih anak kemarin sore. Belum pantas untuk membahas cinta-cintaan!'' ujar Edgar lalu menghadap arah lain karena masih kesal.
''Jimmy sudah dewasa! pikirannya pasti sudah ..,'' Edgar menggantungkan kalimatnya.
''Aaarrgh! ntahlah! aku tidak habis pikir bisa-bisanya ini terjadi.'' ujar Edgar yang masih pusing sendiri.
Hal ini memang masih sangat sulit di terima oleh Edgar. Mentari berusaha memahami kemarahan suaminya. Tapi, masih menganggap adiknya itu anak kecil adalah hal yang tidak disukai oleh Mentari.
''Mas ... Erin bukan anak kecil lagi. Dua sudah besar, jangan di kerasin terus menerus, Mas. Kasian mentalnya.''
''Kamu wajib tegas, tapi, kalau keras itu salah. Yang ada malah bikin adikmu takut sama kakaknya sendiri. Harusnya kamu bisa jadi sahabat yang dipercaya untuk mendengarkan setiap ceritanya.''
Edgar terdiam.
''Dengan merahasiakan hubungan itu pun sudah jawaban atas rasa takutnya selama ini.''
Edgar masih terdiam dengan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sembari menatap langit-langit kamar.
''Erin baru saja wisuda. Tidak ada anak kecil yang ikut wisuda, Mas.'' ujar Mentari mengingatkan. Siapa tau saja Edgar sedang lupa.
''Lagi pula, bukankah itu hal yang baik?''
__ADS_1
''Kamu tidak perlu capek-capek mencari tahu informasi tentang calon pasangan dari Erin seperti apa kesehariannya, seperti apa latar belakang pendidikan dan juga keluarganya. Ya, karena sosok itu selalu ada di dekatmu. Baik buruknya pun kamu juga sudah tau, Mas.''
Edgar masih diam, Mentari kembali menarik nafasnya.
''Selama ini mereka juga jarang bertemu, jangan khawatir terjadi apa-apa diantara mereka. Aku yakin mereka bisa menjaga diri.''
''Aku pribadi menyetujui hubungan mereka. Mereka bersama karena sama-sama saling mencintai, bukan memulai tanpa rasa seperti kita dulu.''
Edgar yang baru saja menarik nafasnya tiba-tiba terhenti ketika mendengar tanpa rasa. Ia langsung menegakkan duduknya sembari menghadap ke arah Mentari.
''Kalau Jimmy saja tidak kamu beri kepercayaan untuk bersama dengan adikmu, bagaimana dengan yang lainnya, Mas?''
''Kamu mau Erin menjadi perawan tua, hm?''
Edgar langsung meraih kedua tangan sang istri.
''Maafkan aku sudah terpancing emosi. Maaf.'' ucap Edgar lalu meraih bahu Mentari dan membawa ke dalam pelukannya.
''Aku minta maaf.'' ucap Edgar lagi.
Mentari tersenyum di dalam pelukan suaminya itu. Ia lalu mendongak menatap mata sang suami.
''Kamu pasti sudah marah-marah sama Jimmy, 'kan?''
Edgar menghela nafasnya.
''Aku benar-benar masih shock mendengar pernyataan itu, sayang.''
''Apa Jimmy sendiri yang bilang ke kamu, Mas?''
''Ya, gara-gara aku menebak kalau dia tertarik sama Rita, eh, Jimmy justru mengungkapkan hubungannya dengan Erin yang selama ini di rahasiakan.'' jawab Edgar sembari menekan-nekan pelipisnya yang masih pusing itu.
''Jimmy pasti kelepasan bicara soal hubungannya, hmm.'' balas Mentari.
Edgar langsung menatap sang istri.
''Jimmy mencintai Erin, untuk itu dia bersedia merahasiakan hubungan itu untuk saat ini. Dan karena kamu tidak sekali dua kali mengira Jimmy ada hubungan dengan Rita, akhirnya dia kelepasan karena tebakanmu itu benar-benar salah, Mas.''
''Itu bukti bahwa Jimmy tidak mencintai wanita lain selain Erin. Dan Jimmy pasti sedang kepikiran akan mendapatkan amarah dari Erin.''
Edgar masih terdiam menatap Mentari yang masih berbicara.
''Erin juga tidak salah, Mas. Coba kamu yang lebih peka terhadap adikmu. Untung saja dia mencintai orang yang tidak jauh dari kehidupannya, jadi, kamu tidak perlu khawatir 'kan.''
Apa yang Mentari katakan tidak salah. Untuk itu Edgar hanya bisa terdiam. Namun, ntah mengapa ia masih shock sehingga rasa kesal dan amarahnya belum hilang juga.
''Erin cantik, dan Jimmy juga tampan, sangat cocok.'' sambung Mentari dan langsung membuat Edgar melotot.
''Kamu bilang apa?''
''Erin cantik dan Jimmy tampan.'' jawab Mentari dengan santai. Ia sengaja untuk menggoda sang suami.
''Sudah ah jangan melotot gitu, nanti lepas loh matanya, ih syereemm.'' ujar Mentari sembari menaikturunkan kedua bahunya.
__ADS_1
Kalimat yang pernah dilontarkan oleh Edgar padanya kini ia balikkan.
''Aku tidak suka kamu bilang dia tampan, siapapun juga, kecuali suamimu.''
Mentari terkekeh kecil.
''Iya-iya suamiku yang paling tampan tanpa tandingannya. I love you ... stop ya marah-marahnya.''
''Jangan marah sama uncle Jimmy, jangan marah sama aunty Erin juga, jangan marah sama Mama.'' pinta Mentari dengan menirukan suara anak kecil.
Edgar langsung tersenyum lalu menciiumi perut Mentari.
''Maafkan Papa ya, Nak.''
''Untuk menghilangkan kemarahan Papa, sepertinya kita harus berjumpa.'' ujar Edgar lalu mendongak dan mengedipkan matanya ke Mentari.
Mentari paham apa yang dimaksud oleh suaminya itu.
''Kamu nggak ke kantor lagi, Mas?''
''Katanya ada meeting, 'kan?''
''Nanti ke kantor sekalian habis makan siang, meetingnya jam 2.'' jawab Edgar yang sudah berdiri dan melepaskan apa yang menempel di tubuhnya itu.
Demi kedamaian untuk semuanya, Mentari tidak menolak olahraga di jam saat ini.
Edgar sudah maju, namun, Mentari menutup mulutnya dengan tangan.
''Janji nggak akan marah lagi?''
''Dengan Jimmy ataupun Erin. Biarkan Erin fokus sama kegiatannya disana. Dan jangan marah sama istrimu.'' pinta Mentari dengan tatapan serius.
Edgar yang sudah tidak sabar langsung membopong tubuh Mentari. Namun, Mentari juga tetap mempertahankan menutup mulutnya.
''Iya, aku usahakan.'' balas Edgar dengan menurunkan Mentari dengan hati-hati di atas ranjang.
''Jangan-jangan dari tadi kamu cuma modus pura-pura marah ke aku?!''
''Ini cuma alibimu saja supaya lupa dengan kemarahanmu ke Jimmy dengan meminta jatah?!''
Gantian Mentari yang menatap serius pada Edgar yang sudah berada diatasnya itu. Sedangkan Edgar langsung terkekeh dan menurunkan tangan Mentari yang menjadi penutup bibir favoritnya.
''Aku sedang lupa dengan kemarahanku, sayang. Jangan bahas lainnya disaat kita sedang berdua.'' bisik Edgar.
Mentari hanya diam dan menerima setiap permainan itu. Akhirnya aktivitas nganu pun terjadi sembari menunggu waktu makan siang.
Sementara itu, Jimmy membolak-balikkan ponselnya, ia menjadi khawatir dengan Mentari.
''Apa kabar dengan nona Mentari?'' gumamnya.
''Bagaimana kalau tuan Edgar memarahinya?''
''Haduuhh!! lagian kenapa tadi pakai kelepasan segala!'' rutuk Jimmy.
__ADS_1