
Edgar langsung menciium kening Mentari beberapa detik. Kedua matanya terpejam. Lalu keduanya sama-sama tersenyum dan mata yang saling menatap lekat.
"Udah Mas, aku bisa pingsan kalau kelamaan ditatap begitu.." protes Mentari seraya mengalihkan pandangannya.
Baginya, tatapan mata Edgar itu sangat tajam. Jika sedang serius, tatapan itu seperti ingin menerkamnya hidup-hidup. Namun, pada sisi yang lain, sorotan mata itu bisa meneduhkan. Bukan hal yang aneh tentunya, karena sang ayah, Erick Raymond, merupakan blasteran.
Edgar menarik dagu Mentari agar kembali menghadapnya.
"Mau pingsan atau mau cepat-cepat masuk kamar karena tidak tahan dengan suamimu yang tampan nan keren ini?" goda Edgar yang diikuti dengan kedipan mata.
Mentari langsung terbelalak, memberikan cubitan kecil di dada Edgar. ''Ishh! Masss!" gerutunya dengan suara pelan karena takut ada yang mendengar.
Yang mendapat cubitan tidak merasakan sakit, ia justru tertawa senang menggodai sang istri.
Tidak lama kemudian, seorang pramugari datang membawakan hidangan yang terlihat menggiurkan itu. Edgar dan Mentari langsung menegakkan posisi duduknya masing-masing. Mentari pun langsung tidak melanjutkan aksi kesalnya.
Setelah mengucapkan kalimat, pramugari tersebut meninggalkan mereka dengan memberikan senyuman yang ramah.
''Kalau mau nambah, bilang aja ya..'' ucap Edgar.
''Nggak ah Mas, porsi ini cukup.'' jawab Mentari sambil meraih sendok dan garpu.
''Yakiiin?'' bisik Edgar.
Mentari melirik sekilas, ia memilih untuk tidak menjawab karena suaminya sedang menggodanya lagi.
''Selamat makan, Tuan Edgar.. tidak boleh loh ya menunda-nunda makan yang makanannya sudah tersaji di depan mata.'' tutur Mentari tanpa menatap Edgar.
''Hahaha..''
__ADS_1
Cup
''Mmmmmhh''
Mentari terkejut karena tiba-tiba mendapat ciiuman mendadak di bibirnya.
''Awas garpu ini melayang..'' ancam Mentari.
''Haaaa... takuuuuuttt....'' balas Edgar meledek, lalu kembali mendaratkan ciiuman dibibir sang istri yang baru akan menyendok makanannya.
Kali ini tidak hanya sekilas. Edgar memainkan bibir itu sehingga membuat Mentari melepaskan sendok dan garpu dari tangannya.
Kedua tangannya pun seperti tertuntun untuk mengalungkan di tengkuk Edgar dan membalas permainan itu.
''Milikku.'' kata Edgar lirih setelah selesai, mengusapkan satu jarinya pada bibir Mentari.
Mentari tersipu, ia memalingkan wajahnya dengan tersenyum yang berusaha ia sembunyikan.
''Ok, sayang..''
Edgar kembali mendaratkan ciumannya, lalu fokus ke makanannya. Sesekali keduanya saling menyuapi. Makan tanpa berbicara harus tetap di terapkan, meskipun masih suka khilaf karena reflek akan sesuatu.
°°
Menikmati perjalanan dan keindahan udara, menunggu waktu tiba di tempat tujuan yang masih lama. Dari menonton film, membaca, menghabiskan beberapa buah-buahan dan cemilan yang tersedia. Mentari pun merasa pusing harus melakukan apa lagi. Sedangkan Edgar masih terlihat fokus menatap layar untuk menonton film action.
Kedua tangan mereka tetap saling menggenggam, kepala Mentari pun bersandar di bahu sang suami. Tetapi, karena durasi yang tidak sebentar menimbulkan rasa pusing. Apalagi untuk seorang Mentari yang belum terbiasa dengan perjalanan seperti ini.
Mentari sedikit mendongak untuk menatap Edgar, lalu menarik nafasnya dalam-dalam.
__ADS_1
''Mas, apa aku boleh tidur?'' tanyanya hati-hati.
Edgar langsung mengalihkan pandangannya untuk menatap sang istri.
''Tidurlah, kamu harus banyak istirahat, sayang.''
Edgar mengajak Mentari ke ruang dimana Mentari bisa merebahkan tubuhnya dengan baik. Transportasi yang berbeda tentu saja memiliki fasilitas yang berbeda juga.
Mentari pun nurut, ia beranjak dari tempat duduknya lalu menuju ruangan lain bersama Edgar.
''Jangan takut, aman sayang..'' ucap Edgar yang melihat kecemasan di wajah sang istri.
''Kamu jangan kemana-mana ya Mas..'' pinta Mentari.
Edgar memeluk Mentari dan menenggelamkan kepala Mentari di dadanya.
''Aku disini..''
Mentari duduk, diikuti oleh Edgar.
''Mas! stop!'' bisiknya dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir sang suami yang hendak menciiumnya.
Edgar mengerutkan keningnya. ''Kenapa stop?''
''Kalau ada kamera pengintai gimana Mas?'' bisik Mentari. Kedua bola matanya mengedarkan pandangan di setiap sudut.
Sementara Edgar hanya tersenyum menatap kekhawatiran sang istri.
''Tidak perlu khawatir tentang itu, aku tidak mengizinkan ada kamera pengintai di ruang ini. Karena aku mauu..''
__ADS_1
Mentari bergerak mundur, Edgar bergerak semakin maju dengan tatapan matanya yang tidak teralihkan dari sang istri.