
RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK (RSIA)
Persiapan menyambut kelahiran buah hati Edgar dan Mentari. Keluarga mereka sudah hadir di sana.
''Mi, Pi, Bu, Pak, maafkan saya kalau selama ini banyak kesalahan.''
''Saya mohon do'anya supaya proses operasi ini berjalan lancar.'' ucap Mentari yang sudah bersiap-siap menuju ruang operasi.
Semua keluarga inti, termasuk bu Maryam sudah datang di sana. Mereka akan menantikan kelahiran anggota baru di keluarga Raymond.
''Semangat, sayang. Kamu hebat, kamu kuat, Nak. Kamu pasti bisa melewati semua ini.'' ujar mami.
''Ibu selalu percaya bahwa kamu bisa, Mentari.'' imbuh bu Maryam.
Mentari sedikit tersenyum. Kalimat-kalimat itu membuat hati dan pikirannya lebih positif. Meskipun ketakutan itu tetap belum hilang.
Edgar mendampinginya menuju ke ruang operasi. Proses melahirkan secara operasi tentu saja memiliki waktu yang terencana. Mentari pun sempat menggunakan make-up untuk mengisi kegelisahannya. Apalagi rumah sakit ini juga menyediakan fotografer untuk proses melahirkan dan foto newborn. Semua dilakukan oleh wanita, sehingga Mentari lebih nyaman.
Tidak ada perjuangan yang mudah dalam melahirkan seorang anak. Baik secara normal, maupun sesar. Keduanya sama-sama memiliki resiko kematian.
Edgar pernah melihat maminya saat melahirkan Erin, tapi, ketika itu ia justru tertawa-tawa. Sementara sekarang, ia benar-benar akan menjadi seorang ayah untuk anak kandungnya sendiri. Perasaannya kini sudah tidak bisa dijelaskan. Ia takut, senang, dan juga khawatir dengan perjuangan sang istri.
''Mas.'' lirih Mentari.
__ADS_1
Edgar langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Mentari. Ia sedang menyembunyikan kesedihannya di atas kepala Mentari yang sudah tidak bisa menoleh-noleh.
''Jangan nangis, Mas, biar aku aja.'' pinta Mentari.
Edgar mengangguk sembari mengusap lembut kepala Mentari.
''Mas.'' panggil Mentari lagi.
''Iya, sayang.'' balas Edgar yang tidak kemana-mana.
''Kalau dalam prosesnya nanti akhirnya aku tidak panjang umur, tolong jaga anak-anak kita ya, Mas. Aku sayang kamu, Mas Edgar. Aku cinta kamu, Mas. I love you sedunia dan seisinya.'' ucap Mentari yang semakin ngelantur.
Dokter dan timnya yang sedang bersiap-siap pun seketika ingin tertawa mendengar kata-kata yang keluar dari mulut pasien mereka, tapi, mereka tidak melepaskan tawa itu. Membiarkan Mentari berkata apa saja untuk melegakan perasaannya yang pasti gugup.
Keduanya sama-sama menangis, proses operasi semakin dekat. Mentari sudah berada di dalam pengaruh obat bius.
Dokter yang mengenakan jilbab itu sudah mulai berkeringat, asistennya menyeka keringat-keringat yang menetes dengan tisu.
Di luar ruangan operasi
Para wanita paruh baya itu semakin tidak tenang, mereka berdiri sembari mondar mandir seperti setrikaan yang sedang digunakan.
''Mi, duduk aja, nanti juga selesai. Papi pusing lihat Mami mondar-mandir terus dari tadi.'' protes tuan Erick.
__ADS_1
''Ish Papi, bu Maryam juga mondar-mandir tuh.'' protes mami yang mencari pembelaan.
Sementara pasangan kekasih yang juga hadir di rumah sakit ini pun tak kalah khawatir. Erin yang duduk bersebelahan dengan Jimmy terus menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Sesekali ia buka, lalu di tutup lagi. Kedua kakinya ia hentak-hentakkan di lantai.
''Sstt, kakinya jangan berisik, sayang. Nanti ganggu.'' bisik Jimmy pada Erin.
''Aku nggak sadar, Kak, sorry.'' ucap Erin.
Jimmy pun tersenyum dan mengangguk kecil.
Kepulangan Erin ke tanah air membuat Jimmy sedikit bisa mengobati rindunya. Meskipun kepulangan keluarga bos dan juga calon istrinya itu secara mendadak karena kabar duka yang sangat mengejutkan.
''Maaf semuanya, saya baru datang.'' ucap Lenna dengan langkah tergopoh-gopoh mendekati mami.
''Nggak papa, Len.'' jawab mami.
Mereka pun saling menyambut dengan hangat. Lenna datang ke rumah sakit bersama suaminya.
''Do'akan Mentari lancar ya, Len.'' pinta tuan Erick pada adiknya itu.
''Pasti, Rick. Kita semua sangat excited banget. Mentari pasti bisa melewati semua ini.'' balas Lenna.
Setelah berbincang sebentar, mereka kembali serius menatap ruang operasi itu dengan tatapan mata yang serius.
__ADS_1