
''Kak! jangan, Kak!''
''Aku nggak mau sendirian di Amerika!''
Erin berusaha melepaskan cengkraman tangan Edgar yang sangat kuat. Sekeras apapun ia berteriak memohon sedari tadi, kakaknya tetap tidak peduli dan tetap akan membawanya terbang sekarang menuju benua Amerika.
''Mami, tolong aku, Mi!'' seru Erin.
Mami hanya menggeleng pelan dengan pelupuk mata yang sudah menggenang.
''Papiiii!!''
Papi sama saja seperti mami.
Erin semakin berteriak, antara tangisan dan juga amarah.
''Kak Mentari kenapa diam saja?!!''
Mentari pun sama dengan kedua mertuanya itu, ia tak bisa berbuat apa-apa.
Kaki Erin terseret-seret oleh tarikan Edgar yang kuat. Ia terus memohon untuk tidak dijauhkan dari Jimmy. Sedangkan Jimmy sudah lebih dulu diasingkan ntah dimana, tanpa sepengetahuan Erin.
Erin terus menangis keras dan memohon pada kakaknya yang sama sekali tidak peduli dengan hubungannya itu.
Sedangkan kedua orangtuanya dan juga kakak iparnya tidak bisa berbuat apa-apa.
''KAK EDGAR JAHAATTTT!!!!!!''' seru Erin lalu menendang kakaknya itu dengan sekuat tenaga yang ia miliki.
...GUBRAK!!...
''AWWWHH!!'' pekik Erin yang langsung membuka matanya sembari mengusap-usap jari-jari kakinya.
Erin membuka mata lalu mengedarkan pandangannya. Tidak ada siapa-siapa, ia masih di kamar kesayangannya. Tangannya pun masih utuh tanpa bekas merah karena cengkraman yang kuat.
''Hah? aku mimpi?!''
Erin menepuk-nepuk pipi kanan dan kirinya secara bersamaan. ''Aww sakit!!''
Mimpi indahnya yang sedang bergandengan tangan dengan Jimmy kenapa beralih menjadi pengasingan itu.
''Aku tadi bermimpi sedang ke menara Eiffel berdua dengan kak Jimmy, kenapa tiba-tiba jadi berubah dramatis ... arrgh! mungkin hanya bunga tidur saja.''
Erin langsung menghela nafas panjang dan lega. Semuanya ia anggap hanyalah mimpi yang menandakan sudah waktunya ia bangun.
Tapi, kakinya nyata terasa sakit. Sekarang posisinya pun sudah duduk di lantai yang beralaskan selimutnya yang lebih dulu jatuh, sehingga membuat pant4tnya aman dari benturan. Dan sepertinya Erin baru saja menendang nakas yang terletak di sisi ranjang. Kamarnya yang kedap suara dan terkunci rapat sehingga tidak ada yang mendengar suara itu.
''Sakit sekali kakiku.'' rintih Erin.
''Kenapa nggak pindah tempat sih!! biar nggak kena kakiku! huuffttt''
Erin terus mengomel pada nakas yang tidak bisa mengeluarkan respon itu.
Erin mengacak-acak rambutnya sendiri sembari membayangkan mimpinya tadi.
__ADS_1
''Kenapa jadi deg-degan begini, sih.'' gumam Erin lalu beranjak pelan sembari memungut selimutnya.
''Kalau mimpi itu kenyataan, gimana?'' gumamnya lalu terdiam membayangkan kemarahan dari kakaknya yang nyata.
Erin langsung mengerjapkan kedua matanya berkali-kali dengan cepat supaya bayangan itu hilang dari pikirannya. Setelah itu ia meletakkan selimutnya di atas ranjang. Tanpa mengecek ponselnya terlebih dahulu, gadis itu langsung membersihkan badannya.
''Kak Jimmy pasti sudah kirim pesan.'' gumam Erin dengan wajah sumringahnya setelah baru saja keluar dari kamar mandi.
Kakinya sedikit lecet, tapi, tidak parah. Dan untungnya juga tidak membuat jalannya pincang. Sehingga bisa menutupi rasa malunya itu pada kedua orangtuanya.
Erin membuka ponselnya dengan senyuman lebar yang memperlihatkan giginya. Namun, senyuman itu perlahan meredup, ia langsung menutup mulutnya karena tak percaya, kedua matanya langsung terbelalak.
''OH MY GOD''
''Ini tidak benar 'kan?''
''Jadiiii, mimpiku berdasarkan kisah nyata?''
''OH, NOOO!''
Erin masih menutup mulutnya. Ia langsung melakukan panggilan telepon pada kekasihnya itu.
Jimmy yang masih membolak-balikkan ponselnya langsung terkejut mendengar suara dering ponselnya yang tidak keras itu. Hanya karena ia sedang terbengong sehingga suara lain pun bisa membuatnya terkejut.
Jimmy menjawab panggilan telepon itu dan langsung mengalihkan ke panggilan video.
Tak lama kemudian muncul wajah keduanya di layar ponsel masing-masing. Jimmy langsung menyambut dengan senyuman tanpa dosa, sedangkan Erin masih dengan mode shock berat.
''Sudah.''
''Maksud dari pesan Kakak apa? Kakak hanya becanda 'kan? Kakak nggak serius 'kan?'' cerca Erin.
''Serius, sayang. Hari ini, kakak kamu sudah tau tentang hubungan kita.'' jawab Jimmy santai.
''Kok bisa sih Kak? why???''
''Apa yang terjadi?''
''Kakak sengaja ya ngasih tau ke kak Edgar?''
''Atau kak Mentari yang kasih tau ke kak Edgar?'' tebak Erin.
''Kak Jimmy sendiri yang sudah kasih tau.'' jawab Jimmy.
Erin semakin melongo tidak percaya. Jimmy mengerti perasaan kekasihnya itu. Sebuah rasa ketakutan sedang bergemuruh di dalam hatinya saat mengingat over protective dari Edgar pada adik satu-satunya.
''Kakak terpaksa mengungkapkan kebenaran hubungan kita, sayang.''
''Terpaksa??'' sahut Erin.
Jimmy mengangguk.
''Iya, karena saat Kakak mengatakan akan membantu proses pengobatan Rita, tuan Edgar justru mengira Kakak tertarik padanya. Padahal Kak benar-benar niat menolong. Untuk itu Kakak kelepasan bicara soal hubungan kita.''
__ADS_1
''Kamu jangan khawatir ya, tetap beraktivitas seperti biasa.'' ujar Jimmy.
Erin masih diam, ia kembali mengingat mimpinya.
''Terus, saat Kakak mengatakan hal itu, gimana respon dari kak Edgar?'' tanya Erin penasaran.
''Langsung gebrak meja dan sekarang pulang ke rumah.'' jawab Jimmy diikuti tawa kecilnya.
''WHAT?!''
''Kak Edgar benar-benar marah dong?!''
''Maafkan aku, Kak. Gara-gara aku, Kakak jadi kena imbasnya.'' ucap Erin.
''Aku tidak mau diasingkan. Aku tidak mau sendirian. Aku juga tidak mau berpisah dengan Kakak.'' racau Erin semakin meyakini mimpinya itu.
''Hey, sayang. Tenang ya ... Kakak yakin tuan Edgar hanya masih shock. Semua itu karena tiba-tiba dan tidak menyangka. Kita beri waktu untuknya.''
''Justru yang sedang Kakak khawatirkan itu keadaan nona Mentari, sayang. Kakak tadi menyebutkan kalau nona Mentari sudah tau tentang hubungan kita.''
''Apa?!''
''Terus apa respon kak Edgar?''
''Sama saja, shock, tidak percaya. Untuk itu Kakak sangat khawatir dan berimbas ke kandungannya.
''Kenapa harus bawa-bawa kak Mentari sih, Kak??'' sesal Erin.
''Maaf.'' ucap Jimmy.
Keduanya langsung diam dan justru beralih memikirkan bagaimana nasib Mentari.
''Do'akan saja tuan Edgar tidak tersulut emosi, dan ingat kalau istrinya sedang hamil.''
''AAMIIN.'' jawab Erin.
''Tapi, aku tetap saja khawatir, Kak. Kak Mentari sedang hamil, dia nggak boleh stress. Apalagi kak Edgar kalau sudah marah benar-benar meledak-ledak.''
''Iya, tapi, kita tidak boleh menduga-duga seperti itu, sayang. Kakak yakin kalau tuan Edgar tidak akan pernah menyakiti wanita kesayangannya itu.'' balas Jimmy.
Erin langsung terdiam, lalu menarik nafasnya.
''Nanti kami ada jadwal meeting jam 2, tuan Edgar sudah mengatakan akan datang sebelum tadi pulang ke rumah.''
Erin langsung bernafas lega.
''Serius Kak?'' tanya Erin
Jimmy mengangguk.
''Ya sudah aku mau siap-siap dulu ya, Kak. Semoga kak Edgar tidak terpancing emosi sehingga tidak membuat kandungan kak Mentari bermasalah, atau bahkan emosinya itu dapat melemahkan mental seseorang.'' ujar Erin.
''Aamiin.'' balas Jimmy.
__ADS_1