Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 225 : Hak dan Kewajiban


__ADS_3

Pagi ini mami sangat senang sekali karena akan ikut mengantarkan menantunya itu ke dokter kandungan. Wanita paruh baya itu sudah tidak sabar untuk melihat perkembangan calon cucunya yang masih di dalam perut Mentari.


Padahal waktu pagi ini masih menunjukkan jam 05.30 WIB. Sedangkan Edgar, Mentari, dan Erin juga sedang melakukan aktivitas rutin jalan pagi.


''Ada apa sih Mi kok senyum-senyum sendiri dari tadi?'' tanya papi yang akhirnya penasaran melihat ekspresi wajah sang istri. Tidak ada yang mengajaknya berbicara, apalagi becanda, tetapi mami senyum-senyum sendiri.


''Papi ini ya, nggak peka sekali deh. Mami itu lagi semangat mau ikut menantu kita cek kandungan, Pii.'' jawab mami.


Papi hanya menghela nafas panjangnya. Niat hanya bertanya malah dikatakan nggak peka. Begitulah laki-laki dan perempuan.


Satu jam lebih tiga puluh menit berlalu, mereka sudah selesai sarapan pagi ini.


''Jadi 'kan kontrolnya?'' tanya mami pada Edgar.


''Iya jadi, Mi.'' jawab Edgar.


''Mami siap-siap aja dulu, sepuluh menit lagi kita jalan.'' ujar Edgar.


''Oke sayang, tunggu ya.'' balas mami langsung melangkah cepat ke kamarnya.


Erin tidak ikut ke dokter, ia memilih untuk di rumah saja menikmati waktu istirahatnya sebelum nanti kembali beraktivitas.


Edgar, bersama Mentari dan juga mami sudah meluncur ke tujuan. Mereka segera menemui seorang dokter wanita yang tentunya sudah memiliki janji.


Dokter tersebut menyambut kedatangan mereka dengan sangat ramah. Apalagi dengan mami yang sudah semakin jarang bertemu. Banyak perbincangan yang hangat dari dua wanita itu.


''Silahkan, Nona.'' ujar dokter tersebut pada Mentari.


Mentari pun beranjak dari kursi. Penutup perutnya sudah dibuka, lalu sang dokter mengoles dengan gel, kemudian alat itu ditempelkan pada gel tersebut.


Di layar monitor sudah muncul pergerakan janin, mami langsung mengusap-usap rambut menantunya itu dengan kasih sayang. Sedangkan Edgar menggenggam tangan Mentari.


''Perkembangannya cukup baik ya. Tapi, sepertinya belum terlihat mengenai jenis kelaminnya.'' terang dokter tersebut.


Mereka langsung tersenyum lebar, melihat perkembangannya cukup baik saja sudah membuat hati lega. Sedangkan jenis kelaminnya, mereka tidak terlalu memikirkannya, laki-laki maupun perempuan sama saja. Kesehatan dan keutuhanlah yang mereka harapkan.


Dokter tersebut lalu kembali menjelaskan tentang proses tumbuh kembang janin. Meskipun mami sudah pernah merasakan, dan Edgar sendiri juga pernah mendampingi seseorang. Tetapi hal ini pengalaman pertama kalinya untuk Mentari.


Mami dan juga Edgar pun juga selalu antusias. Setiap kali melihat layar monitor itu bergerak, sudut mata Edgar selalu menitikkan air mata. Ia menggenggam erat tangan Mentari. Raut wajah bahagia tidak bisa ia sembunyikan.


''Terima kasih ya sayang, karena kamu selalu menjaga calon cucu-cucu Mami.'' ucap mami.


Mentari mengangguk dengan senyum, kemudian menatap Edgar yang belum mengatakan apapun karena dengan sorot matanya itu sudah memperlihatkan kebahagiaan.


.


.


Menjelang sore hari ini waktunya untuk mengabadikan momen wisuda Erin yang sudah beberapa waktu terlewati. Karena saat hari itu, keluarga tidak hadir secara lengkap. Sedangkan saat ini waktu yang tepat karena dengan formasi lengkap.


Seorang fotografer profesional dalam negeri beserta timnya sudah tiba di kediaman keluarga Raymond. Ia bersama tim dan juga mami sedang mengatur ruangan yang luas itu untuk digunakan sebagai tempat mengambil beberapa gambar nantinya.


Alasan mereka tidak datang langsung ke studio foto milik fotografer tersebut karena ingin mereka lebih nyaman dengan dirumah saja. Rumah Raymond juga memiliki ruangan yang luas di lantai dua. Dulunya sering digunakan untuk acara kumpul keluarga. Selain tempatnya yang luas dan nyaman, tempat itu terhubung langsung dengan balkon lantai dua. Saat malam pergantian tahun, disanalah mereka membuat acara barbeque-an dan menyalakan kembang api sembari menunggu waktu berganti tahun.


''Disini sepertinya akan sangat bagus, Nyonya. Pencahayaannya juga dapat dari luar kalau sesi pemotretan sore.'' ujar fotografer tersebut mengarah pada suatu tempat.


Mami mengangguk setuju. Seorang fotografer yang sudah tidak diragukan lagi untuk mencari angle yang bagus guna mendapatkan hasil yang maksimal.


''Ya, betul sekali. Kami nanti tinggal mengikuti saja.'' jawab mami.


Tema pemotretan yang akan dijalani bukan hanya momen wisuda Erin, tetapi juga foto keluarga dengan konsep pakaian yang lain. Mami tampak puas dengan tatanan ruangan itu. Tinggal menunggu tuan Erick, Edgar, dan juga Jimmy yang masih berada di kantor. Ada hal yang akan dikerjakan oleh tuan Erick sehingga ia memilih untuk ikut ke kantor.

__ADS_1


Sementara itu, Erin sedang berada di dalam kamar bersama Mentari yang sebelumnya ia culik terlebih dahulu saat masih menemani mami mengatur ruangan untuk berfoto.


''Permisi, Nyonya.'' ucap seorang art membawa nampan berisi minuman hangat. Di belakangnya juga menyusul Listi yang membawa makanan ringan dan juga kue.


''Ohh, ya, taruh disana aja, Mbak.'' pinta mami sembari menunjukkan meja yang sudah dipindahkan.


Kedua wanita itu mengangguk dan menyusun minuman dan makanan di atas meja.


''Silahkan istirahat dulu, saya mau make up dulu sambil menunggu yang lain datang.'' ujar mami pada fotografer dan timnya.


Fotografer dan timnya itu mengangguk.


Disaat mami dan kedua putrinya sedang memoles wajah, tiga pria yang baru beraktivitas di kantor sudah datang. Mereka langsung saling menyapa fotografer dan juga timnya.


Setelah menungggu para wanitanya berdandan yang tidak sebentar, akhirnya pemotretan itu siap di mulai.


''Cantiknya istriku.'' puji Edgar lalu menciium kening Mentari yang masih duduk.


''Terima kasih.'' jawab Mentari sembari mendongak.


Erin keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sudah sangat cantik. Saat yang sama, Jimmy juga menatap ke arah gadis itu. Erin langsung malu-malu kucing, sedangkan Jimmy menatapnya dengan senyuman yang lebar, membuat hati Erin berbunga-bunga.


''EHHEM!''


Dengan sorot matanya yang tidak tertuju pada Jimmy dan Erin, tetapi Edgar melihat adegan itu.


''Siap dimulai ya.'' ujar fotografer.


''Siap.'' jawab mami.


Sesi pemotretan pertama yang dilakukan adalah foto momen wisuda Erin bersama kedua orangtuanya dan juga kakak. Setelah itu baru bergantian.


''Cantik.'' lirih Jimmy saat keduanya berdiri bersebelahan.


''Mau ngapain tuh mereka.'' gumamnya dalam hati.


Meskipun begitu, pemotretan berjalan dengan lancar sampai tema lainnya. Mami sangat puas sekali melihat hasil yang diperlihatkan oleh sang fotografer.


Menjelang matahari terbenam, Jimmy duduk bersama dengan Erin di bangku yang ada di balkon. Edgar tidak berani menegur lagi, ia masih bisa menahannya selagi tidak ada yang berlebihan. Keduanya saling bersenda gurau, sesekali mereka tertawa kecil membahas sesuatu yang tidak di dengar oleh orang lain.


Mentari dan Edgar yang sudah berganti pakaian kembali ke luar dari kamar. Sorot mata Edgar langsung tertuju pada balkon. Ia melihat Erin bersama Jimmy. Tanpa disadari sudut bibirnya terangkat dan membentuk senyuman tipis.


''Terlihat sangat bahagia sekali.'' bathin Edgar.


Di saat yang bersamaan, Erin menangkap tatapan dari kakaknya. Senyum sumringahnya pun berubah menciut.


''Terima kasih karena Kakak sudah menerima permintaan mami untuk ikut pemotretan.'' ucap Erin.


''Dengan senang hati, calon istri.'' balas Jimmy.


Hati Erin seperti ingin melayang mendengar kata itu lagi.


''E... kak Edgar lihat ke arah sini, aku masuk dulu ya, Kak.''


Tanpa menatap ke arah dalam, Jimmy langsung mengangguk. Mereka pun langsung berdiri, dan Erin lebih dulu berjalan cepat menuju ke kamarnya.


Acara hari ini di tutup dengan makan malam bersama di kediaman Raymond. Tidak ada perlakuan yang berbeda, mereka tampak akrab.


Mentari memperhatikan ekspresi wajah Edgar yang tidak lagi menatap tajam pada Jimmy dan juga Erin. Ia tersenyum tipis dan berharap Edgar tidak lagi membuat adiknya sendiri ketakutan.


"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak karena sudah mengundang saya dan juga tim untuk pemotretan disini." ucap fotografer tersebut pada tuan Erick.

__ADS_1


"Sama-sama, mohon maaf kalau kami kesulitan untuk di atur pose, maklumlah namanya juga kanebo kering, haha." canda tuan Erick.


Mereka tertawa ringan. Dalam hati sang fotografer dan timnya mengiyakan kejujuran tuan Erick.


"Sudah bagian dari pekerjaan kami, Tuan." jawab fotografer tersebut dengan mencari aman.


Tidak terasa waktu semakin malam, fotografer tersebut sudah meninggalkan kediaman Raymond. Jimmy juga sudah kembali ke apartemennya tidak lama setelah fotografer tersebut pergi.


"Kamu pasti kelelahan ya, sayang ...


maafkan Mami." ucap mami saat mendapati Mentari tengah berdiri sembari menahan punggungnya.


"Oh, tidak kok, Mi. Kelamaan duduk aja jadinya begini kalau buat berdiri. Nanti kalau sudah di usap-usap mas Edgar bakal sembuh, hehe'' jawab Mentari malu-malu.


"Beneran?" tanya mami memastikan.


"Iya, Mi."


"Maka dari itu, kami akan ke kamar sekarang. Ada hak dan kewajiban yang wajib segera ditunaikan." timpal Edgar yang langsung mendapat cubitan kecil dipinggangnya.


"Mas Edgar!" protes Mentari dengan gigi yang ia rekatkan. Ia langsung nyengir menatap kedua mertuanya yang tengah menahan tawanya itu.


Papi dan mami langsung terkekeh karena mengerti maksud dari perkataan Edgar. Sedangkan Erin pura-pura tidak mendengar dan langsung izin meninggalkan ruang itu setelah melihat kakaknya di cubit.


"Ya, ya ... cepatlah segera ditunaikan, hati-hati ya." canda mami sembari menahan tawanya.


"Mas Edgar becanda, Mi." ujar Mentari.


"Mami bukan anak kecil, sayang." balas mami masih dengan tawa yang tertahan.


"Kami juga mau istirahat. Good night." ucap mami langsung menyeret lengan papi dan lebih dulu meninggalkan keduanya.


Mentari hanya nyengir menahan rasa malunya sembari menatap kedua mertuanya itu.


"Aku malu, Mas!" gerutu Mentari setelah mami dan papi tidak terlihat dari pandangannya.


"Yuk gas lagi." bisik Edgar tanpa mempedulikan gerutuan dari sang istri.


"Iya-iya aku pijitin dulu." imbuh Edgar kemudian menggoda sang istri dengan mendaratkan ciiuman bertubi-tubi.


Mentari menutupi wajahnya dengan telapak tangan karena ia geli dan juga malu.


"Ya Allah, pemandangan apakah ini?"


"Bolehkah hamba-Mu yang biasa saja ini meminta jodoh yang seperti tuan Edgar, Ya Allah?"


"Ya Allah, tolong, ya Allah.."


Gadis itu menatap arah ruang tamu saat lewat dan melihat kedua bosnya sedang bermesraan sehingga membuat hatinya langsung menginginkan mendapatkan jodoh juga.


"Listi, ngapain disini?" tegur Mentari.


"Hah? apa-apa!" seru Listi.


Mentari terkekeh melihat ekspresi kebingungan Listi.


"Jangan melamun, awas nanti kesambet." ujarnya lalu meninggalkan Listi yang masih nyengir sembari garuk-garuk kepala.


Hahahaha


Pekerja lain langsung menertawai Listi yang ketahuan melamun. Art termuda itu langsung berjalan cepat ke belakang mengambil pembersih meja dan kembali ke ruang tamu. Ia membereskan terlebih dahulu gelas-gelas kosong dan dibawanya ke dapur lalu.

__ADS_1


"Aku terzalimi, hiks hiks hiks." canda Listi sambil berjalan. Karena lebih tepatnya ia menahan rasa malunya.


__ADS_2