
Edgar kembali ke ruangan istrinya, terlihat Mentari masih sedikit pucat dan belum membuka mata. Ia pun melangkah pelan, mami dan Erin menatapnya dengan diam.
''Apa yang terjadi dengan menantuku?'' tanya mami setelah Edgar semakin dekat.
Edgar menggeleng pelan.
''Baik-baik saja kok Mi.'' jawab Edgar.
Mami yang awalnya duduk di sisi ranjang, langsung berdiri agar putranya itu yang berada disana.
Setelah mendengar jawaban Edgar, mami belum berniat untuk bertanya apapun. Apalagi melihat Mentari yang masih belum sadar.
Edgar mengusap lembut kening Mentari, sedetik kemudian airmatanya menetes tepat mengenai wajah sang istri.
''Sayang, ayo bangun..'' ucapnya lirih.
''Sayang, please..''
Mami dan Erin ikut iba menatap putranya. Dibenaknya ingin berbicara, namun, masih ditahannya.
Jari-jari tangan Mentari bergerak pelan, Erin yang menyadari hal itu dan langsung mendekat.
''Tangan Kak Mentari bergerak.''
Edgar pun langsung memastikan, ia mengusap air matanya dengan cepat agar tidak ketahuan oleh Mentari.
''Sayang, sayang..''
''Panggilkan dokter..'' ujar Edgar menatap adiknya.
''Iya Kak, iya, sebentar.''
Erin langsung bergegas keluar dari ruangan itu untuk memanggil dokter. Tak lama kemudian, gadis itu kembali, dan dibelakangnya sudah ada dokter.
''Syukurlah istri anda sudah siuman.'' ucap dokter tersebut dengan senyumnya.
Mentari yang masih lemas pun hanya menyimak dengan senyum tipisnya. Tangannya masih di genggam erat oleh Edgar.
''Seperti yang saya sampaikan tadi, Tuan. Dan ini vitaminnya.'' ujar dokter tersebut.
''Baik Dokter, terimakasih..''
Setelah memeriksa kondisi Mentari, dokter tersebut kembali meninggalkan ruangan itu karena harus memeriksa pasien lainnya.
Mentari sudah duduk, wajahnya masih sedikit pucat.
''Aku kenapa Mas?'' tanyanya.
''Kamu abis nangis ya?'' selidik Mentari menatap kedua mata suaminya yang sangat dekat itu.
''Ah enggak, ini efek ngantuk, bukan nangis.'' jawabnya beralasan.
''Kamu baik-baik aja, sayang.''
''Maafkan aku yang sangat kurang menjaga kamu dan..''
Tiba-tiba ponsel mami berbunyi.
Edgar menghentikan kalimatnya dan menoleh ke arah mami.
__ADS_1
''Papi.'' ujar mami memberitahu siapa yang menghubunginya.
''Hallo Pi..''
''......''
''Iya Mentari baik-baik aja, sudah siuman kok, masih lemas.''
''......''
''Ya, ya, syukurlah. Kami nggak papa, yang penting urusannya cepat selesai, Pi.''
''.......''
''Iya..''
Papi menyudahi telponnya, mami kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas.
''Ada info apa Mi dari papi?'' tanya Edgar penasaran.
''Mereka sudah dibawa ke kantor polisi.'' jawab mami.
Mendengar hal itu langsung membuat semuanya bernafas lega.
''Kamu jangan khawatir ya sayang, kami tidak akan pernah membiarkan orang-orang membuatmu menderita.'' ujar mami kepada menantunya.
''Iya Mi, terimakasih.'' balas Mentari.
Mami mengusap lembut lengan menantunya itu.
''Kenapa aku bisa pingsan ya?''
''Kamu pasti sudah tau kan?'' tanya Edgar.
Mentari mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Edgar.
''Maksudnya?''
Mami dan Erin pun juga menatap Edgar dengan bertanya-tanya.
''Maksud pertanyaan kamu apa, Nak?''
''Iya ih, Kakak jangan setengah-setengah kalau bertanya.'' timpal Erin.
Edgar menatap ketiga wanita itu secara bergantian.
Tok tok tok
Lagi-lagi kalimat yang akan disampaikan oleh Edgar harus tertunda. Pintu ruangan itu ada yang mengetuk.
''Permisi..''
''Iya masuk.''
''Saya mengantar makanan untuk nona Mentari.'' ujar orang itu.
''Oh iya, terimakasih.'' jawab mami.
Setelah orang itu pergi, Edgar mengambil makanan untuk sang istri. Bagaimana pun, Mentari harus menjaga kesehatannya.
__ADS_1
''Kamu harus makan yang banyak, biar cepat sehat.'' ucap Edgar yang sudah siap memberikan suapan.
Edgar lebih dulu membantu sang istri untuk duduk, agar lebih mudah untuk makan.
''Aku sudah nggak kenapa-kenapa Mas, sudah sehat. Mungkin tadi pusing karena lihat kalian pada serem-serem, jadinya takut.''
''Ya masa mau cekikikan, ah istriku bisa aja. Ayo makan dulu..'' balas Edgar.
Mami semakin lega melihat menantunya bisa tersenyum.
Suapan demi suapan masuk ke dalam perut Mentari hingga habis. Ternyata selain takut, ia juga sangat lapar.
''Kamu nggak ikut Jimmy, Mas? aku sudah baik-baik saja kok.''
''Sudah ada papi. Abis ini kita ke..''
Edgar kembali teringat ucapannya tadi yang terpotong. Ia menggerakkan tangannya ke perut sang istri yang masih rata itu. Edgar mengusap pelan.
Edgar menciium kening Mentari dengan lembut tanpa melepaskan tangannya dari perut Mentari.
''Kamu pasti sudah tau kan kalau kamu sedang hamil?''
''Apa?!'' seru mami dan Erin bersamaan.
''Hamil?!''
''Kalian terkejut kan? sama.'' tutur Edgar.
''Benarkah itu, sayang?''
''Beneran Kakak hamil?''
Mami dan Erin langsung mendekat. Rona bahagia tidak bisa mereka sembunyikan.
''I-iya aku hamil.'' jawab Mentari lirih.
''Kenapa harus disembunyikan, sayang?''
''Aku tadinya mau kasih kejutan untuk ulangtahunmu yang sebentar lagi, Mas.'' ungkap Mentari.
"Maaf." ucap Mentari lirih.
Edgar langsung memeluk Mentari dengan erat dan memberikan ciiuman di kening sang istri.
''Terimakasih kado terindahnya, sayang. Kalian hadiah terindahku.''
''A... Mami sangat bahagia, sayang..''
Mami dan Erin pun ikut memeluk Mentari hingga yang dipeluk terasa engap.
''Iya, iya.. tapi, mohon maaf, aku nggak bisa bernafas.'' ujar Mentari jujur.
''Oh, sayang.. maaf.''
''Nanti kita ke dokter spesialis kandungan yang ada di rumah sakit X.'' ujar Edgar menyebutkan nama rumah sakit khusus ibu dan anak milik Raymond.
''Harus.''
''Mami sangat bahagia, ahh papi pasti akan sujud syukur kalau mendengar sebentar lagi akan menjadi kakek.'' ujar mami antusias.
__ADS_1
Tidak ada sakit yang parah, Mentari langsung di bawa ke rumah sakit yang dituju agar mendapatkan informasi yang lebih detail dan terpercaya.