Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 91 : Nanti Ada Lalat Masuk


__ADS_3

Edgar merengkuh punggung Mentari. Mentari hanya menoleh sekilas ke arah tangan Edgar, sesaat kemudian ia langsung tersenyum dengan bergerak maju. Kemudian wajahnya tertunduk dengan raut wajah yang merasa bersalah.


''Maafkan aku Mas, aku masih suka terkejut dengan hal-hal seperti ini sehingga masih kerap spontan untuk menghindar. Maaf..'' ucap Mentari lirih dengan rasa bersalahnya.


Setelah mengucapkan kata maaf, Mentari langsung memeluk suaminya dengan erat, lalu sedikit mendongak.


Edgar pun semakin mengeratkan pelukan itu juga, ia menundukkan kepalanya untuk membalas tatapan Mentari yang berharap akan penerimaan maaf darinya.


''Tidak perlu meminta maaf, kalau kamu menghindar, aku semakin tertantang.'' ucapnya.


Malu-malu Mentari berusaha menahan senyumnya, ia menunduk kembali untuk menghindari tatapan mata Edgar.


''Sayang..''


''Hemm? iya Mas..'' jawab Mentari.


Keduanya saling bertatapan.


''I love you..'' ucap Edgar.


''I love you too..'' balas Mentari.


°°


Perempuan itu berjalan cepat menuju kamar saat ponselnya yang berada di dalam saku terasa bergetar, bola matanya mengedar ke setiap sudut untuk memastikan tidak ada yang mencurigai pergerakannya.


Ponsel yang kini di genggamannya itu masih menyala tanda panggilan masuk. Namun, suara dering telepon itu memang ia matikan.


Ia kembali memastikan keadaan aman sebelum menutup pintu kamar. Lalu cepat-cepat menjawab telepon masuk itu.


''Iya, hallo.. maaf saya harus melihat situasi dulu..'' ucapnya dengan nafas yang tersengal-sengal.


Di seberang sana seseorang hanya tersenyum tipis.


''Tidak apa-apa.'' jawabnya.

__ADS_1


''Ada apa?''


''Kemana mereka pergi?'' tanya perempuan di seberang sana.


''Ke negara X, tidak tau juga kalau ke negara lain. Sepertinya mereka akan mengunjungi beberapa negara.''


Perempuan disana terdengar membuang nafas.


''Apa wanita itu sudah hamil?''


''Sepertinya belum.''


''Baguslah, saya harap tugas yang harus kamu lakukan tidak gagal. Buat wanita itu menderita!''


''Ba-baik.'' jawabnya sedikit gugup.


Tanpa mengatakan apa-apa lagi, perempuan disana memutuskan sambungan telepon itu.


''Huuhh..''


°°


Mentari dan Edgar sudah tiba di negara tujuan setelah melalui perjalanan yang sangat lama. Orang suruhan tuan Erick pun sudah siap menunggu kedatangan Edgar dan Mentari.


''Apa kau sudah menunggu dari tadi?'' tanya Edgar.


''Tidak Tuan, baru sekitar lima menit.'' jawabnya.


Edgar mengangguk.


Pria itu segera memasukkan barang-barang yang dibawa oleh Edgar dan Mentari ke dalam mobil.


''Silahkan Tuan, Nona..''


Edgar dan Mentari pun langsung masuk ke dalam mobil tersebut.

__ADS_1


''Kemana Papi?'' tanya Edgar.


''Tuan Erick sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, sedangkan nona Erin juga tidak bisa izin dari kampusnya.''


"Mami?" tanya Edgar lagi.


"Nyonya memasak, Tuan." jawabnya.


''Oohh, ya ya..'' Edgar mengangguk paham.


Mentari hanya terdiam menyimak percakapan dua pria ini. Ia merasa senang jika benar sang ibu mertua menyambutnya dengan membuat masakan hasil olahannya sendiri.


Sepanjang perjalanan, Edgar tidak menjaga jarak dengan sang istri. Tangan Mentari selalu dalam genggamannya dan meletakkan genggaman itu di pangkuannya. Sesekali Edgar menggoda Mentari dengan mengarahkan genggaman tangan itu ke senjata kebanggaannya. Untung saja Mentari masih bisa mengendalikan dirinya untuk tidak berteriak karena kaget. Meskipun hampir terjadi teriakan karena ulah Edgar.


Mentari melihat arah luar, pemandangan yang indah dan baru pertama kalinya ia kunjungi secara langsung, bukan lewat tayangan video.


''Sayang, tutup mulutnya, nanti ada lalat masuk.'' bisik Edgar menggoda istrinya.


Mentari langsung spontan menutup mulutnya sehingga membuat Edgar terkekeh kecil.


Pria yang membawa mobil itu pun hanya menggeleng-geleng pelan, tanpa bertanya apapun karena tugasnya hanya mengendarai mobil itu dengan baik.


''Mas Edgar ih!'' lirih Mentari.


''Ngences juga tuh, sini aku elap..'' ledek Edgar.


Dengan polosnya Mentari langsung mengusap bibir dan dagunya dengan cepat.


Pug!


Mentari menepuk pelan paha Edgar.


''Mulai iseng..'' protes Mentari tapi dengan sura yang pelan karena malu dengan pria yang di depan.


''Besok kita keliling sini dan tempat-tempat indah lainnya.'' rayu Edgar sembari mengusap wajah Mentari dengan lembut.

__ADS_1


Mentari mengangguk kecil, dan tatapan matanya sekarang lurus ke depan.


__ADS_2