
Kantor Raymond
Seharusnya hari Minggu ini hari libur. Tetapi karena besok akan melakukan perjalanan ke daerah lokasi cabang Raymond yang siap untuk peresmian. Akhirnya penghujung akhir pekan ini digunakan oleh beberapa petinggi perusahaan untuk final meeting.
''Pastikan keamanan lokasi benar-benar terkendali." ujar Edgar dengan tegas.
Meeting tidak hanya dilakukan oleh mereka yang ada disini, tetapi juga secara virtual dengan pengurus yang ada di cabang.
Dari sehat persiapan sudah 97% selesai. Akan banyak acara dan juga hadiah-hadiah menarik. Dan terutama mendapatkan paket sembako gratis.
''Oke baik, saya harap besok acara berjalan dengan lancar, dan kita berdo'a semoga cuaca juga cerah.'' ucap Edgar.
AAMIIN.....
Semua menjawab dengan serempak.
Berkas-berkas yang akan dibawa sudah disiapkan dengan baik oleh Jimmy.
__ADS_1
Sementara dirumah, para wanitanya yaitu mami, Mentari, dan juga Erin sedang berkemas dikamarnya masing-masing. Keberangkatannya besok ke lokasi cabang akan menginap satu malam. Karena tidak ingin terlalu menguras tenaga, apalagi membawa ibu hamil yang sangat mereka jaga dengan sebaik-baiknya. Selain itu juga, mereka ingin menikmati udara di daerah tersebut.
Bukan suatu kota besar yang akan mereka datangi, tetapi mereka sangat antusias. Justru ini menjadi momen yang berbeda dan sangat mereka nantikan.
''Sayang ... istriku ... kamu dimana?'' panggil Edgar sembari celingukan mencari keberadaan sang istri yang tidak tampak dari pandangannya.
Mentari langsung keluar dari ruang pakaian setelah mendengar suara yang sangat ia pahami itu.
''Apa suamiku?'' jawab Mentari yang tidak kalah suaranya dibuat manja.
Keduanya langsung menertawai diri mereka sendiri. Edgar dan Mentari sama-sama melangkah maju, lalu berpelukan.
Memang sudah menjadi hobinya yang suka menjaili istrinya sendiri dan juga adik. Untungnya kedua wanita itu sayang pakai banget.
''Sudah selesai kah meetingnya?'' tanya Mentari.
''Sudah sayang.'' jawab Edgar.
__ADS_1
''Ooohhhh ... anak-anak Papa, hampir saja Papa lupa lagi. Habisnya Mama kalian tuh bisa aja mengambil perhatian Papa.'' ujar Edgar setengah berbisik karena hampir lupa tidak menyapa calon anaknya.
Mentari menatap Edgar dengan memicingkan matanya. Masih setia menyimak apa yang akan dikatakan lagi oleh suaminya itu.
''Nak ... sehat-sehat ya, sayangnya Papa. Mama kalian sudah pelototin Papa tuh, mau di sayang-sayang juga katanya.'' bisik Edgar dengan bibirnya yang ia tempelkan pada perut.
Mentari langsung semakin melotot tak terima karena telah mendapatkan fitnah.
''Nanti kalian jangan suka mengarang cerita ya, Nak ... cukup penulis Cimai saja.''
''Emm, kalau papa suka fitnah Mama, jangan ditiru, Nak.. itu tidak baik.'' Mentari mengusap perutnya sendiri.
Edgar langsung tertawa kecil.
''Aku bantuin buat siap-siap.'' ujar Edgar memberikan penawaran. Dan juga merupakan jurus agar tidak dipelototi lagi.
Tentu saja Mentari tidak menolak akan tawaran yang datang itu. Ia pun langsung mengangguk.
__ADS_1
Tidak perlu banyak untuk pakaian ganti yang akan dibawa, apalagi hanya menginap satu malam saja. Setelah pakaian Mentari dan Edgar sudah tersusun rapi di dalam koper kecil itu, Mentari lanjut mempersiapkan pakaian yang akan dipakai saat berangkat.
''Jangan capek-capek, sayang. Sini duduk sama aku." ujar Edgar yang ingin berduaan.