
Jimmy meninggalkan rumah sakit itu dengan mengendarai motor besar milik Edgar. Ia akan langsung menuju kediaman Raymond untuk menukar mobilnya yang masih berada disana.
Jalan raya masih lengang dari kendaraan, sehingga memperlancar perjalanan Jimmy.
''Terima kasih, Pak. Saya langsung saja.'' ujar Jimmy pada pak Dar yang telah menyambut kedatangannya sepagi ini.
''Maaf Tuan Jimmy, anda sedang tidak ada masalah 'kan?'' tanya pak Dar hati-hati.
Jimmy yang sudah membuka pintu mobilnya langsung berbalik badan menghadap pak Dar.
''Ohhh, tidak Pak. Semua baik-baik saja.'' jawab Jimmy.
''Oh ya, ini kunci motornya.''
Pak Dar mengangguk sambil menerima kunci motor yang diserahkan oleh Jimmy. ''Syukurlah.''
''Saya permisi.''
''Baik Tuan.'' balas pak Dar.
Pak Dar mundur satu langkah, memberikan celah untuk mobil Jimmy yang hendak meninggalkan rumah tersebut.
Tin
Jimmy membunyikan klakson mobilnya sebelum keluar dari halaman rumah itu.
Tidak ada waktu untuk tidur terlebih dahulu. Ia akan segera kembali ke apartemennya sebentar dan kembali ke rumah Rita sebelum ke rumah sakit. Rasa penasarannya membawa Jimmy untuk bergerak cepat.
''Apakah dia memiliki kehidupan yang tidak jauh berbeda dengan nona Mentari?'' gumam Jimmy sembari melangkah cepat menuju kamarnya.
Jimmy langsung menuju kamar mandi, badannya harus segera dibersihkan agar tidak lengket karena aktivitas yang belum berhenti. Apalagi saat acara di kediaman Mentari, cuaca yang cerah, padatnya warga yang hadir, membuat Jimmy merasa sesak dan mengeluarkan banyak keringat.
''Erin harus tau, tapi, bagaimana caraku memulai untuk memberitahunya? aaarrgh''
Jimmy menggaruk rambutnya sampai acak-acakan.
''Sayaang ... Kakak hanya ingin menolong, jangan marah ya.'' seru Jimmy saat sudah berada di dalam kamar mandi.
Tiba-tiba bayangan Erin hadir di langit-langit kamar mandi. Jimmy langsung melotot dan mengerjapkan kedua matanya berkali-kali, tetapi bayangan itu masih ada. Bahkan bayangan itu tengah menatapnya dengan sorot mata yang tajam dan bibir yang mengerucut.
''Hey!! siapa kamu!'' seru Jimmy sembari memberikan cipratan air pada bayangan itu.
__ADS_1
Bayangan itu sudah hilang. Jimmy langsung semakin mempercepat kegiatan mandinya, yang penting bau sabun.
Dengan langkah cepat, Jimmy mengeringkan rambut lalu berganti pakaian. Ia membuat kopi untuk mengurangi rasa kantuknya yang sedari tadi masih terasa.
''Ahh, setidaknya berkurang dua persen ngantuknya.'' gumam Jimmy setelah menyeruput kopi panas yang baru selesai ia buat.
Mengingat bayangan tadi, membuat Jimmy cemas. Ia terjebak dalam situasi rasa yang serba salah. Bersalah jika menyembunyikan hal ini pada Erin, dan merasa bersalah jika tidak membantu Rita, sedangkan Rita membutuhkan pertolongan.
''Lebih baik nanti aku terus terang saja, semoga Erin bisa mengerti bahwa yang kulakukan ini tidak lebih dari menolong.'' gumamnya lalu mencari nomor sang kekasih.
Di suatu negara dimana Erin berada, waktu masih malam. Jimmy memilih untuk mengirimkan pesan terlebih dulu. Ia mengucapkan selamat pagi waktu Indonesia dan menyampaikan pesan untuk memberitahunya jika sudah bangun dan tidak sibuk. Tidak lupa emoticon berbentuk hati menjadi penghujung kalimat pada pesan yang ia kirimkan.
Setelah pesan ia kirimkan, Jimmy menarik nafasnya dalam-dalam. Ia meniup-niup kopi yang masih panas, hal yang tidak baik dan tidak biasa ia lakukan. Semua itu karena waktu yang terburu-buru.
Jimmy menghabiskan segelas kopi dan langsung menyambar kunci mobil. Dengan langkah cepat masuk ke dalam lift.
Tujuan utama kali ini ke rumah Rita. Jimmy ingin mencari tahu sendiri bagaimana kehidupan lingkungan rumah tersebut. Jika dilihat, rumah tersebut cukup bagus, bangunan di sekelilingnya merupakan bangunan modern. Berbeda dengan tempat tinggal nona mudanya yang berada di gang sempit dan kebanyakan bangunan lama.
''Pak, Pak, maaf ... permisi.'' ujar Jimmy buru-buru turun dari mobil ketika melihat pria yang sedang berjalan santai.
''Iya.'' jawab pria itu sembari berbalik menghadap sumber suara.
''Oh, bukahkah anda Tuan Jimmy?'' tanya pria itu sedikit terkejut.
Jimmy tersenyum tipis.
''Oh ya, ada yang bisa saya bantu, Tuan?'' tanya pria itu.
''Begini, Pak, maaf mengganggu aktivitas pagi hari anda.'' ucap Jimmy.
''Ohh, tidak Tuan, saya baru saja pulang dari jogging. Rumah saya disitu.'' tunjuk pria itu pada rumah yang bertepatan dengan sebelah rumah Rita.
Jimmy pun mengikuti arah telunjuk pria itu.
''Kebetulan sekali.'' bathin Jimmy.
''Emm, apa anda mengenali pemilik rumah ini?'' tanya Jimmy menunjuk ke arah rumah Rita.
Bapak tersebut menatap rumah Rita, mengikuti arah yang ditunjuk oleh Jimmy.
''Saya tau sedikit, Tuan. Tapi, tidak begitu mengenal secara akrab. Karena pemilik rumah ini juga baru beberapa tahun tinggal disini. Dan, dengar-dengar ada permasalahan yang membuat mereka pergi lagi.''
__ADS_1
''Pergi lagi? masalah?'' tanya Jimmy heran.
''Rumah ini seperti ada yang menempati?'' sambungnya.
''Ohhh, iya, ada. Ada satu orang yang di tinggal. Menurut cerita dari istri saya yang mendapatkan cerita dari ibu-ibu komplek, dia anak angkat yang di ambil dari yayasan waktu masih bayi. Sedangkan adik-adiknya yang merupakan anak kandung orangtuanya tidak menerima itu ketika tau kakak sulungnya itu merupakan hanyalah anak angkat. Mereka tidak mau kakaknya itu mendapatkan hak yang sama, secara gamblangnya saya bilang warisan, Tuan.''
''Lalu? mereka sudah memutuskan untuk tidak menjadi satu keluarga lagi?'' tanya Jimmy semakin dibuat penasaran.
''Kalau itu, saya kurang paham, Tuan. Yang saya dengar kedua orangtuanya memberikan rumah ini untuk anak angkatnya itu. Dan mereka memilih pindah demi anak kandungnya. Konon katanya, mereka juga memiliki usaha di daerah lain yang lebih menjanjikan.''
''Saya juga kasihan sama anak angkatnya, mana anak perempuan lagi, dan masih gadis.''
''Ohh, iya, saya dengar juga, dia bekerja di perusahaan Raymond.'' ujar bapak itu.
Jimmy mengangguk. ''Benar Pak.'' jawab Jimmy.
''Lalu, ada perlu apa Tuan Jimmy menanyakan mereka?'' tanya bapak itu.
''Ohhh, begini, dia sedang cuti. Ada tugas yang tidak bisa dikerjakan oleh teman yang menggantikan dia. Dan, nomornya tidak bisa kami hubungi.'' balas Jimmy beralasan.
''Walah, masalah kerjaan to? hahaha, saya mohon maaf karena malah bercerita kemana-mana.''
Jimmy tersenyum tipis. Ia terpaksa berbohong karena tidak ingin menjadi perbincangan siapapun.
''Tidak apa-apa, Pak.''
''Kalau dia sedang cuti, mungkin juga tidak ada di rumah, Tuan. Semuanya tertutup rapat dan gerbangnya juga di gembok.''
Jimmy mengiyakan apa yang dikatakan bapak itu. Hari ini ia mendapatkan sebuah informasi baru tentang Rita. Hal yang membuatnya semakin yakin untuk menolong gadis itu.
''Kalau begitu saya permisi, Pak. Terima kasih.'' ucap Jimmy.
Bapak tersebut membungkukkan badannya.
''Baik Tuan.''
Jimmy langsung cepat masuk ke dalam mobil. Ia mengangkat ponselnya.
''Semua sudah ku rekam.'' gumamnya.
''Ternyata nggak nona Mentari, nggak temannya, mereka sama-sama menyimpan cerita pahit yang ditutup rapat.'' gumamnya lagi.
__ADS_1
Tujuannya sekarang langsung kembali ke rumah sakit untuk menemui Rita.