
Mentari masih berdiri memandangi foto dirinya bersama sang ibu tercinta. Bibirnya membentuk sebuah senyuman rindu. Ia mengusapnya lembut pada kaca bingkai foto tersebut.
Edgar yang berdiri di depan Mentari langsung menghentikan langkahnya. Ia melihat Mentari yang masih fokus menatap foto. Ia membiarkan Mentari mengungkapkan rasa rindunya meskipun hanya melalui sebuah foto.
Ceklek
Edgar membuka pintu kamar dengan niat meletakkan koper disana tanpa mengganggu sang istri. Tetapi ternyata Mentari mendengar suara handle pintu kamarnya itu, sehingga tatapannya pun beralih.
Edgar tersenyum dan Mentari juga ikut tersenyum. Mentari langsung mengikuti sang suami yang sudah berdiri di tengah-tengah pintu dengan tangan yang masih memegang pegangan pintu kamarnya.
''Hey, Tuan Edgar Raymond! kenapa anda masuk ke dalam kamar saya?!'' pekik Mentari.
Ntah sejak kapan ide itu muncul, rasanya spontan saja terlintas di dalam benaknya.
Edgar terkekeh terlebih dahulu sebelum menjawab. Apalagi melihat mimik wajah Mentari persis saat was-was atas kedatangannya dulu.
''Ini kamar saya!'' pekik Mentari lagi dengan mendahului Edgar yang masih tetap berdiri di tengah pintu.
Mentari masuk ke dalam kamar yang sangat-sangat ia rindukan itu. Namun, demi melanjutkan aktingnya, ia menahan dulu.
Dua tangan Mentari sudah bertengger di pinggangnya, seperti emak-emak yang siap mengeluarkan omelan terhadap anaknya yang super aktif, apalagi yang menghilangkan wadah bekal mahal merk tuppy. Wah, bisa jadi kisah si anak kalau dibukukan bisa menghasilkan satu judul novel.
Bu Titi melintas di depan kamar Mentari sedikit bingung karena melihat Edgar yang masih berdiri disana.
Tapi, ia mengingat pesan dari Jimmy untuk tidak ikut campur urusan pribadi Edgar dan Mentari selaku bosnya. Bu Titi hanya membungkukkan badannya sekilas lalu melanjutkan langkahnya dengan cepat ke dapur.
Edgar juga sedikit tersenyum tipis, sehingga bu Titi tidak berpikir yang macam-macam. Lebih baik cuek saja.
Mentari sedikit melongok, setelah memastikan bu Titi berlalu, ia kembali siap melanjutkan aktingnya.
''Anda jangan macam-macam sama saya! ini kamar saya!'' ancam Mentari.
Edgar masih kuat menahan tawanya. Ia langsung maju dua langkah dan menutup pintu kamar tersebut.
''Heyy!! jangan macam-macam anda!'' pekik Mentari.
Mentari mundur satu langkah, sedangkan Edgar maju lagi dengan tatapan mata yang ingin menerkam mangsa.
Edgar meraih pinggang Mentari sehingga membuatnya tidak bisa berkutik. Tubuh keduanya sudah tidak ada jarak lagi. Edgar semakin menurunkan tatapan matanya sehingga semakin dekat.
''Aku suka bermacam-macam denganmu.'' bisik Edgar tepat di telinga Mentari.
Mentari langsung merinding dibuatnya. Hembusan nafas berat di telinganya membuat sekujur tubuhnya bergetar.
''Mau di mulai dari mana, hem?'' bisik Edgar lagi dengan suara yang lebih menggoda.
Edgar semakin menuntun Mentari untuk mendekati ranjang.
__ADS_1
''Maasss..! sudah ah, aku jadi merinding.''
Mentari akhirnya menyerah sendiri, namun, Edgar sudah terlanjur terpancing. Mentari terjebak oleh permainan yang dibuatnya sendiri.
Edgar mengangkat tubuh Mentari dan merebahkan di atas ranjang yang tidak sebesar dikamarnya itu.
''Aku tadi hanya becanda, Mas. Jangan sekarang.'' pinta Mentari.
Namun, sayangnya Edgar tidak peduli. Ia melanjutkan aksinya dengan menciumi bibir sang istri dengan perlahan. Saat aksinya bergeser ke bawah, terdengar suara adzan dari masjid yang tidak jauh dari rumah Mentari.
Memang saat di kediaman Raymond tidak begitu jelas mendengar suara dari luar. Mereka juga tidak pernah melakukan di waktu seperti ini. Sedangkan di lingkungan Mentari yang padat penduduk dan rumah tanpa kedap suara membuat apapun bisa mudah terdengar.
Edgar langsung tertawa dan menghentikan aksinya itu. Ia merebahkan tubuhnya di samping sang istri.
''Ini pertama kalinya aku akan tidur di kamar istriku.'' ucap Edgar lalu menatap Mentari.
''Tapi, kamar ini banyak mengalami perubahan.'' jawab Mentari dengan menatap sudut-sudut kamarnya.
''Tentu saja, aku tidak mau istriku terus teringat kenangan masa lalunya.'' balas Edgar.
Mentari langsung tertawa kecil.
''Ah, ternyata suamiku cemburu juga.''
''Jauh sebelum kita bertemu, aku sudah merombak susunan dan juga cat kamar ini, Mas.''
Edgar langsung memeluk Mentari.
Waktu petang menghentikan aksi nakal Edgar. Niat Mentari yang hanya ingin akting saja ternyata membangunkan pusat berkarya Edgar yang tengah tertidur. Mau tidak mau, Edgar harus menidurkan kebanggaannya itu.
Jam tujuh malam, Mentari keluar dari kamar bersama dengan Edgar juga. Bu Titi sudah mempersiapkan menu makan malam yang lengkap di meja makan.
''Silahkan, Nona dan Tuan.''
Edgar mengangguk.
''Terima kasih, Bu.'' ucap Mentari.
''Ibu sudah makan?'' tanya Mentari yang sudah berdiri di belakang kursi itu.
''Sudah tadi sore Non, biasanya akan makan lagi kalau malam, hihi.''
Bu Titi terlihat malu-malu mengungkapkan kebiasaannya makan pada malam hari. Karena biasanya orang yang sedang diet menghindari makan malam. Sedangkan bu Titi memiliki postur tubuh yang double XL.
''Jaga kesehatan ya Bu.'' ucap Mentari tidak ingin membuat wanita itu tersinggung.
''Terima kasih, Non. Semoga suka dengan masakan saya.''
__ADS_1
''Pasti saya suka.''
Bu Titi pun langsung meninggalkan Edgar dan Mentari. Setelah ditinggal bu Titi, di ruangan itu hanya mereka berdua.
Edgar terlihat kaku menggunakan peralatan makan yang sederhana itu. Sebenarnya ia ingin merenovasi banyak dan mengubah seluruh isinya. Tetapi hal itu langsung ia urungkan, karena hanya akan membuat rasa ketersinggungan Mentari.
Rumah yang memiliki banyak kenangan, tentu saja akan kehilangan nilai kenangannya jika semuanya di rubah.
Edgar hanya mempertebal warna cat dinding, menambahkan kamar mandi di dalam kamar Mentari. Karena ia tidak terbiasa harus mengantri kamar mandi dengan orang lain. Ia juga tidak bisa jika ingin melakukan sesuatu berdua bersama istri tetapi tiba-tiba ada yang menggedor-gedor pintu.
Oh no .... tidak ada dalam bayangan Edgar. Bisa gagal apa yang sedang berlangsung
''Maaf Mas, demi aku, kamu harus rela bermalam di rumah yang sederhana ini.'' ucap Mentari sembari menaruh lauk di piring Edgar.
''Aku yang seharusnya meminta maaf padamu, sayang. Kita sekarang makan dulu ya.''
Mentari mengangguk lalu menikmati makanan seperti biasa yang tanpa bersuara kecuali hanya perpaduan sendok dan garpu.
''Biarkan disitu saja, Non. Biar saya saja yang membereskan.'' seru bu Titi yang tergopoh-gopoh karena baru dari luar.
''Tidak apa-apa, Bu.''
''Jangan Non, maaf saya tadi habis ngobrol sama bapak di teras.''
Mentari tersenyum.
''Terima kasih ya Bu untuk makan malam yang sangat enak ini. Suami saya sampai nambah-nambah loh.'' ucap Mentari lalu melirik Edgar yang masih mengusap bibirnya dengan tisu.
Edgar hanya tertawa kecil.
''Wahh, syukurlah kalau Tuan Edgar dan Non Mentari menyukai masakan saya.''
Setelah selesai makan malam, keduanya kembali masuk ke dalam kamar. Tidak banyak ruangan disini. Sangat berbanding jauh dengan rumah Raymond yang sangat luas.
''Tidak ada televisi di kamar ini, Mas. Tidak ada balkon, tidak ada kolam renang, tidak ada sofa untuk bersantai, ruangannya pun sempit.''
''Kamu pasti tidak nyaman ya?'' tanya Mentari lirih karena merasa bersalah.
Edgar yang masih berdiri di depan cermin lemari itu langsung berbalik arah menatap sang istri. Ia maju beberapa langkah lalu duduk di sebelah Mentari.
''Aku nyaman asalkan bersamamu.''
''Justru dengan tidak adanya aktivitas lain, kita bisa fokus pada satu aktivitas saja, bukan?'' bisik Edgar lalu menciium bibir Mentari sekilas.
Mentari langsung membulatkan matanya. Pembahasan apapun kenapa larinya pada hal itu. Dasar mesum.
''Ah, iya, aku belum mengajak berbicara dengan anak-anakku.''
__ADS_1
Menghindari tatapan mata Mentari yang membulat sempurna, Edgar langsung mencari pengalihan. Dan perut sang istri lah yang menjadi objek sasarannya karena sesuai dengan kenyataan, malam ini belum di ajak ngobrol.