
Pria yang sudah tidak muda lagi itu sangat terlihat jelas garis kerutan di bawah matanya. Kantong matanya pun semakin dalam, tubuhnya kurus, berbeda dengan foto yang Edgar terima. Foto bersama dengan mendiang ibu Mentari.
Sepertinya mendiang ibu Mentari sudah membuang jauh-jauh kenangan pahit itu, sehingga Mentari tidak mengenali ayahnya.
Bayangan Edgar beralih pada saat ia bersama sang istri menginap di rumah Mentari beberapa waktu yang lalu. Ketika Mentari tengah sibuk diluar dan ada Rita pada saat itu, ia melihat-lihat isi laci meja dikamar tersebut. Tatapan Edgar langsung tertuju pada sebuah buku yang sudah terlihat kusut dan sangat lama dimiliki oleh Mentari.
"Kenapa istriku masih menyimpan buku yang jelek itu?'' bathin Edgar saat itu.
Meskipun terlihat sudah jelek, hati kecil Edgar memaksanya untuk mengetahui isi dari buku tersebut. Seperti ada sesuatu yang harus ia ketahui dari sana.
Edgar menoleh ke arah pintu, setelah merasa aman, ia membuka buku tersebut dengan hati-hati. Perlahan ia membaca isinya dan ternyata langsung membuat Edgar semakin berkomitmen untuk tidak menyakiti sang istri. Tulisan-tulisan yang berbeda di setiap lembar itu membuatnya hampir menitikkan air mata.
Sepertinya, Mentari mulai menuliskan kalimat itu sejak masih kecil, dari tulisannya yang masih berantakan hingga rapi. Inti dari tulisannya pun sama, yaitu ingin bertemu dengan bapak.
''Bapak kapan pulang? Dira pengin ketemu.''
Tulisan pertama yang Edgar baca. Di buku itu, tertera tanggal, bulan, dan juga tahun, lalu dibawahnya dituliskan harapan seorang Ghadira Mentari. Tulisan itu selalu dibuat saat hari ulangtahun Mentari.
''Bapak kok belum pulang? kerjanya capek ya?''
''Ibu bekerja keras. Kata ibu, bapak bekerja, tapi, kenapa kita belum jadi orang kaya? mendingan bapak pulang saja''
__ADS_1
Edgar tersenyum getir mengingat kalimat-kalimat itu, mulai dari kata-kata yang tertuang dari pikiran anak kecil hingga Mentari tumbuh dewasa. Yang tadinya belum mengerti, menjadi sudah bisa memahami kondisi. Kalimat-kalimat yang dituliskan Mentari pun sudah berubah.
"Dira hanya ingin kita memiliki kesempatan untuk bertemu di dunia ini, Pak.''
Kalimat terakhir yang Mentari tulis di ulang tahunnya sebelum menjadi istri seorang Edgar.
Edgar hanyalah orang jauh yang baru tau cerita itu, tapi, ia bisa merasakan sakit hati yang dirasakan oleh sang istri saat itu. Bertahun-tahun menjalani kehidupan yang tidak mudah. Seorang wanita yang berjuang membesarkan anaknya seorang diri.
Edgar menatap langit-langit ruangan itu sembari menarik nafas panjang. Ia memejamkan kedua matanya sesaat dan bayangan Mentari langsung muncul.
''Saya akan bawa istri saya kemari, tapi, tunggu saat yang tepat, karena istri saya sedang hamil.'' ujar Edgar.
''Terima kasih, terima kasih banyak, Tuan.'' ucapnya sembari menunduk-nunduk hormat.
"Saya senang sekali mendengarnya. Kalian akan segera memiliki momongan."
"Cucuku." lirihnya.
Pria itu tidak berani bersikap antusias, meskipun dihatinya sangat ingin menunjukkan rasa bahagianya setelah mendengar kabar putrinya akan segera menjadi seorang ibu. Karena ia sangat sadar diri bahwa ikut berbahagia disaat yang sekarang rasanya memang tidak tau diri.
Edgar pun hanya mengangguk kecil saja. Antara kasihan dan juga emosional masih saling beradu di dalam benaknya.
__ADS_1
''Jika Tuan ingin bukti yang lebih, saya siap untuk melakukan test DNA.'' sambungnya.
"Tunggu saja." jawab Edgar.
"Jim, ayo balik sekarang." ajak Edgar.
"Oh, iya Tuan, siap."
Edgar langsung beranjak dari duduknya.
"Maaf Pak, kami tidak bisa berlama-lama disini. Saya harap anda tidak berani coba-coba lagi untuk kabur." ujar Jimmy.
"Ba-baik Tuan." jawab pria itu.
Di perjalanan kembali ke kantor, Edgar tak berbicara apapun. Jimmy pun juga masih belum berani untuk membuka percakapan.
"Nanti kalau sudah sampai kantor, aku langsung pulang ya." ujar Edgar yang akhirnya memulai percakapan.
"Baik Tuan." jawab Jimmy.
Perjalanan dari rumah sakit menuju kantor tidak terlalu jauh. Sesuai dengan yang dibicarakan tadi, Edgar hanya mengambil sesuatu yang ada di ruangannya sebentar lalu buru-buru keluar dan langsung melalukan perjalanan menuju pulang ke rumah.
__ADS_1