Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 147 : Jimmy Itu Sudah Tidak Jomblo


__ADS_3

Resto milik Dini hari ini sangat sibuk dibandingkan hari biasanya. Persiapan demi persiapan sudah dilakukan untuk acara nanti malam. Apalagi ada persiapan khusus yang sudah di rencanakan oleh nyonya Neeta.


''Saya pulang dulu ya, tadi pamit sama Shilla nggak lama.'' ujar Dini pada karyawannya.


Putrinya yang bernama Ashilla dirumah, sedangkan Dini harus keluar untuk memastikan tidak ada yang kurang.


''Iya Kak, hati-hati.''


Dini mengangguk lalu menyambar tasnya di atas kursi.


-


''Jim..''


Jimmy langsung menghentikan langkahnya..


''Iya Tuan.'' jawabnya.


''Dari cerita istriku, rumah Rita itu searah dengan apartemenmu. Bisakah nanti kamu sekalian jemput dia?'' tanya Edgar.


Jimmy yang semula sedikit menunduk langsung mengangkat wajahnya.


''Jemput?''


''Kenapa? apa kamu tidak bisa?''


Bibir Jimmy terasa berat untuk mengatakan sesuatu, ia tampak gugup.


''Bagaimana ini? kalau aku jemput Rita, berarti akan satu mobil dengannya? datang berdua bersamanya? terus? tapi, kalau aku menolak, pasti akan curiga. Aiissshhh.. semoga mengerti, nanti akan ku jelaskan terlebih dulu.''


''Jimmy, hellooo..''


Edgar melambaikan tangannya di depan mata Jimmy yang tiba-tiba melamun.


''Ah iya Tuan, saya akan jemput.'' jawab Jimmy.


Edgar menepuk pundak Jimmy. ''Thanks, Jim.''

__ADS_1


Jimmy mengangguk.


Sementara Edgar langsung berjalan mendahuluinya, meninggalkan Jimmy yang diam dengan kebingungan.


Aaarrgh


Jimmy langsung berjalan cepat menuju ruangannya. Ia harus segera memberitahu terlebih dulu agar tidak terkejut dan berburuk sangka.


''Susahnya hubungan sembunyi-sembunyi seperti ini.'' keluh Jimmy.


Jimmy langsung mencari nomor seseorang untuk segera ia hubungi.


Tak lama kemudian, deringan telepon sudah berganti tanda di jawab.


''Hallo Kak, sebentar aku ke kamarku dulu.''


Terdengar suara langkah cepat dari sambungan telepon. Jimmy menunggu dengan sabar.


''Hallo.''


''Iya, sudah di kamar?'' tanya Jimmy.


''Oh, sibuk dong?''


''Nggak kok, btw ada apa nelpon jam segini? bukannya ini masih jam kerja?''


''Apa tidak boleh pacarnya menelpon?''


Jimmy menahan senyumnya mendengar suara kekhawatiran itu.


''Bukan begitu, aku takut ketahuan.''


''Justru Kakak pengen kita cepat-cepat ketahuan, biar mereka tahu bahwa Jimmy itu sudah tidak jomblo lagi, dia punya pacar namanya E-RIN-KA.''


''Kakak ih!''


Hahaha

__ADS_1


Jimmy tidak bisa lagi menahan tawanya. Berpacaran secara diam-diam dengan anggota keluarga bosnya memang sangat menguji kesabarannya. Selama berpacaran, keduanya belum pernah pergi berdua karena jarak yang jauh. Selain itu juga, pacaran diam-diam membuat keinginan itu terpaksa harus ditahan.


''Jangan ketawa Kak!''


''Sudah nggak kok.'' jawab Jimmy langsung merapatkan bibirnya.


Sudah sejak lama Erin memendam perasaan kepada pria yang selalu setia mendampingi kakaknya itu. Dia yang selalu di nilai anak kecil memang tidak pernah di curigai memiliki rasa yang lebih. Manja dan centilnya selalu menggambarkan sosok adik kepada kakaknya.


Jimmy pun selalu menganggap Erin adalah adiknya sendiri, tapi, tidak untuk Erin. Dialah yang mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu, meskipun awalnya mendapatkan penolakan.


''Hahahaha apa Rin? jangan ngada-ngada, kita itu sudah seperti kakak beradik.''


Iya, tawa jawaban itu yang Erin dengar ketika mengungkapkan perasaannya pertama kali. Apalagi saat itu Erin hanyalah anak remaja yang jauh dari usia Jimmy.


Namun, lambat laun, pertumbuhan Erin menjadi gadis yang sesungguhnya membuat Jimmy tersadar akan perasaannya. Ternyata figure kakak yang selama ini ia sematkan untuk Erin salah, perasaannya juga tumbuh berbeda. Dan akhirnya, Jimmy lah yang mengatakan perasaannya kepada Erin.


''Kak, pasti ada sesuatu yang mau di bicarakan, kan?'' tebak Erin.


''Iya, sebetulnya ada yang mau Kakak bicarakan ke kamu.''


''Apa?''


''Tadi tuan Edgar meminta Kakak untuk menjemput karyawan yang namanya Rita, teman baik nona Mentari yang di undang juga untuk nanti malam, dan kebetulan karena kebetulan kami searah.''


''Apa? berarti nanti berduaan? terus?''


Jimmy langsung menghela nafasnya. Kekhawatiran yang ia rasakan benar-benar terjadi.


''Kakak juga ingin menolak, tapi, tidak bisa. Pasti tuan Edgar akan curiga karena dianggap tidak berat hanya untuk menjemput saja, terlebih searah.'' jelas Jimmy.


''Kak Edgar iihhh! nggak pengertian!''


''Ya sudah gimana kalau mulai sekarang kita kasih tau saja ke mereka? Kakak akan meminta izin langsung ke tuan Erick.'' tantang Jimmy menahan tawanya karena sudah paham akan respon dari kekasihnya itu.


''NOOOO! Kakak jangan ngada-ngada! kita harus nunggu waktu yang sangaaaatt tepat.''


''Apa sekarang belum tepat?''

__ADS_1


''Sangat belum tepat."


__ADS_2