
Setelah mengobrol banyak dengan ketua rumah kucing tersebut, Edgar dan Mentari berkeliling untuk melihat langsung suasana hunian para anak-anak bulu itu.
Edgar mengulum senyum sembari mengangkat salah satu kucing berwarna oren, generasi kucing terkuat di bumi.
''Lucu sekali kamu.'' puji Edgar dengan suara menggemas tanpa ia sadari.
Mentari yang juga mengangkat salah satu kucing pun langsung terkekeh gemas dengan ekspresi wajah suaminya itu.
Beberapa orang disana pun ikut tertawa, tetapi mereka tahan karena sadar siapa yang ia tertawakan.
Edgar masih belum menyadari, ia menguyel-uyel kucing tersebut dengan sangat gemas sembari terus melangkah ke tempat lain.
Mentari menyenggol lengan Edgar karena tingkahnya membuat orang-orang jadi tidak fokus menjelaskan perkembangan rumah kucing tersebut.
''Hmm, apa sayang?'' jawab Edgar.
''Eh, sorry ... sorry.'' ucap Edgar.
Edgar langsung tersadar dan menurunkan kucing yang mulai berontak itu.
Mengenai makanan, obat-obatan, perlengkapan mandi untuk rumah kucing tersebut, Edgar pastikan tidak ada yang kekurangan. Karena jika sudah berkomitmen memelihara hewan apapun, harus siap untuk mengurusnya dengan baik. Jangan sampai membuat hewan tersebut tidak terawat, apalagi sampai mati karena kelaparan.
Mentari juga senang melihat tempat tersebut yang luas dan juga bersih.
Sudah hampir satu jam Edgar dan Mentari berada disana, mereka akhirnya berpamitan.
''Terima kasih telah mengunjungi kami, Tuan.'' ucap ketuanya.
''Terima kasih, Nona.'' imbuhnya.
''Sama-sama.'' jawab Edgar dan Mentari secara bersamaan.
Edgar dan Mentari pun langsung meninggalkan tempat tersebut. Tak lupa mereka mencuci tangannya terlebih dahulu di wastafel yang di sediakan dekat pintu masuk.
__ADS_1
''Are you happy?'' tanya Edgar.
Keduanya sudah kembali masuk ke dalam mobil.
''Of course.'' jawab Mentari cepat lalu tersenyum manis seraya menatap suaminya.
''Kiss-nya dulu dong.'' pinta Edgar.
Mentari langsung tertawa terlebih dahulu. Namun, permintaan Edgar langsung ia penuhi, cium pipi kanan dan kiri, kening, hidung, lalu diakhiri dengan menciium bibir sang suami.
Sementara itu, dari luar menatap penasaran kenapa mobil Edgar belum juga jalan. Mereka menduga ada kerusakan pada mobil sang bos. Tapi, melihat tidak ada yang keluar dari mobil itu untuk meminta bantuan membuat mereka masih tetap berdiam diri dengan benak yang bertanya-tanya.
''Samperin aja apa gimana? kok belum jalan-jalan?'' bisik salah satu dari mereka.
''Nanti dulu.''
Benar saja, tidak lama kemudian mobil tersebut membunyikan klakson sebelum meninggalkan rumah kucing tersebut.
''I love you.'' ucap Edgar setelah membalas ciuman dari sang istri.
''Terima kasih ya suamiku sayang.'' ucap Mentari.
Edgar menoleh sekilas sembari mengangguk dan mengusap rambut sang istri, karena ia sedang fokus menyetir, jadi tidak ingin bermacam-macam. Apalagi depan belakang ada kendaraan lain.
''Bumil mau kemana lagi?'' tanya Edgar.
Mentari langsung berpikir sejenak, ini sudah menuju jam makan siang. Perutnya juga sudah mulai keroncongan. Ia mengusap-usap perutnya dengan wajah yang memelas.
''Sudah lapar ya, Nak?''
''Papaa, kita cari nasi Padang yuk.'' ajak Mentari.
''Nasi Padang?'' balas Edgar.
__ADS_1
''Emmm, okay!! let's gooo!!'' seru Edgar.
''Nasi Padang langganan Mama sama aunty Rita ya?'' pinta Mentari sedikit menurunkan volume suaranya.
''Apa sih yang nggak untuk kesayangan?''
Mentari langsung tersenyum lebar.
''Kasih tau supir tampan ini harus ke arah mana?'' canda Edgar.
Mentari pun langsung tertawa kecil. Ia menunjukkan arah tempat yang hendak dituju. Hanya sedikit petunjuk yang Mentari jelaskan, Edgar langsung paham.
Sepuluh menit perjalanan akhirnya mereka tiba di rumah makan Padang yang sudah Mentari rindukan itu. Akhirnya ia bisa kembali datang langsung kemari bersama sang suami.
''Suasananya masih seperti dulu, Mas. Rinduku akan terobati hari ini. Tapi, tetap tidak bisa mengalahkan rinduku padamu saat kita tidak bertemu satu detik saja, haha''
Ntah apa yang dikatakan oleh Mentari. Ia spontan mengatakan hal itu, dan mengakhirinya dengan tawa kecil karena geli sendiri. Edgar pun juga langsung tertawa.
''Sayang, kamu baik-baik saja, 'kan?''
''Apa tadi pagi aku salah buatkan susu untuk kamu?'' Edgar tak kalah mengeluarkan candaan.
Keduanya langsung terkekeh bersamaan.
''Ah, aku lapar, nanti lagi becandanya.'' potong Mentari.
...****************...
Hai-hai Kakak-kakak semuanya π
Sambil nunggu Cimai up part selanjutnya, yuk baca karya yang keren banget punya Kak LICHALIKA π
__ADS_1
Terima kasih π