Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 59 : Aku Belum Siap, Mas


__ADS_3

Seluruh rangkaian acara akhirnya selesai. Mentari masih belum percaya dengan apa yang terjadi pada sampai detik ini. Menikah dan bersuamikan pria dari keluarga yang berada.


Edgar berusaha menghilangkan pikirannya tentang Ardi yang memiliki perasaan kepada istrinya. Bahkan sepupunya itu sempat memintanya untuk mundur.


''Ibu.. terimakasih banyak sudah menyempatkan hadir. Aku tau Ibu sangat sibuk mengurus anak-anak.'' ucap Mentari pada bu Maryam.


''Sama-sama Mentari.'' jawab bu Maryam yang sudah dilatih untuk membiasakan diri merubah panggilan Dira ke Mentari.


''Tentu saja Ibu hadir disini, menyaksikan kebahagiaan anak cantik Ibu ini..'' imbuh wanita paruh baya itu. Tak terasa bulir bening kembali memenuhi pelupuk matanya.


Mentari langsung memeluk bu Maryam.


''Aku akan bahagia Bu, jangan khawatir..''


Keduanya mengurai pelukan.


Keluarga Edgar menyaksikan momen haru ini.


''Ibu mohon jangan sakiti hatinya, sedikitpun..'' bu Maryam beralih berbicara kepada Edgar yang berdiri di samping Mentari.


''Saya janji, Bu..'' jawab Edgar yakin.


''Terimakasih..'' ucap bu Maryam.


Edgar mengangguk dan tersenyum lalu menatap Mentari.


°°


Hari ini sangat melelahkan, seluruh keluarga menginap di hotel. Sedangkan bu Maryam menolak untuk menginap karena berat terhadap anak-anaknya.


Pasangan pengantin yang baru menggelar acara resepsi ini baru saja masuk ke dalam kamar yang tentu berbeda dari kamar lainnya.


Meskipun sudah menjadi hari-harinya berada di dalam kamar yang sama. Perasaan Mentari terasa berbeda, apalagi ia masuk ke dalam kamar hotel dengan gaun pengantin yang masih melekat ditubuhnya.

__ADS_1


Edgar menutup kembali pintu kamar hotel lalu menatap intens kedua mata Mentari yang masih terlihat sisa menangis saat bu Maryam berpamitan.


''Mmmm-mau ngapain?!'' pekik Mentari sembari mundur pelan-pelan.


''Mas!''


''Jangan dulu Mas!'' celetuk Mentari membuat Edgar terkekeh.


Deru nafas Mentari berpadu dengan kepanikan ketika melihat tatapan mata Edgar yang tajam itu dan ia memilih untuk memalingkan wajahnya.


''Ada belek.'' jawab Edgar santai.


''Ha belek?'' Mentari langsung menghindar dan sedikit menunduk.


Edgar tersenyum karena berhasil mengerjai sang istri.


Mentari yang menyadari kalau dirinya sedang dikerjai langsung mengangkat wajahnya.


''Nggak ada beleknya!'' Mentari kembali melengos untuk menghindari tatapan mata Edgar.


''Mas! Mas! turunin! Mas!'' seru Mentari seraya menepuk dada Edgar berkali-kali karena tiba-tiba mengangkat tubuhnya.


Bukan hanya ala-ala bridal style, kali ini gendongan pengantin yang sesungguhnya.


Edgar mengangkat tubuh Mentari dengan sangat mudah, ia tidak menghiraukan dadanya yang terus ditepuk oleh sang istri.


Edgar menghentikan langkahnya disebelah ranjang dan menurunkan Mentari, namun, tetap memeluk pinggang sang istri.


''Tidak perlu takut, sayang. Aku suamimu, kita sudah saling memiliki, jangan pernah menganggap aku orang lain, ataupun orang jahat.'' ujar Edgar.


Mentari mengangguk pelan, ia masih berusaha mengendalikan deru nafasnya yang tak beraturan ini.


Sementara itu, Edgar mengambil ponselnya, ia mencari musik pengiring untuk dansa romantis bersama sang istri.

__ADS_1


''Kita ulangi adegan tadi..'' pinta Edgar.


Mendapatkan ciuman di depan orang banyak sangatlah membuat Mentari malu, namun, hal ini sudah lumrah dilakukan saat pernikahan orang-orang kaya.


Mentari langsung teringat saat tadi di acara bukan hanya sekali saja Edgar mencium bibirnya. Teriakan para tamu undangan yang terbawa suasana romantis itu tidak menyadari bagaimana gugupnya Mentari menerima itu semua, beruntung saja ia bisa menutupi kegugupannya sehingga bisa membuat acara berjalan lancar.


''Ta-tadi?''


''He'em.''


Edgar kembali melingkarkan tangannya di pinggang Mentari dan menariknya sehingga semakin dekat. Dengan sedikit keraguan, Mentari melingkarkan tangannya di leher Edgar.


Dansa romantis dimulai dengan gerakan ke kiri dan kanan, keduanya saling menatap intens. Hanya hidung mancung merekalah yang menjadi jarak.


Keduanya terbawa suasana romantis, Edgar mulai mendaratkan ciumannya dan langsung mendapat sambutan positif dari Mentari.


Mentari merasakan ada yang menarik resleting gaunnya sehingga membuatnya langsung melepaskan ciuman itu.


''Kenapa hem?''


''A-aku belum siap Mas.'' jawab Mentari gugup.


Edgar menarik nafasnya dalam-dalam.


''Aku nggak akan maksa sekarang, sayang. Baiklah sekarang kita ganti baju.'' tutur Edgar.


''Terimakasih Mas.''


Edgar berusaha untuk mengerti perasaan Mentari dengan tidak memaksa hal yang terlalu dalam.


Edgar melepaskan jas dan juga kemejanya, bahkan ia melepaskan celananya dengan sangat santai sehingga hanya tersisa celana pendek kolor yang melekat ditubuhnya. Sedangkan Mentari masih terlihat bingung karena tidak mungkin membawa gaun yang lumayan berat itu ke dalam kamar mandi. Selain itu juga, saat mengenakan gaun itu, Mentari harus mendapatkan bantuan.


''Sini aku bantu..'' ucap Edgar.

__ADS_1


Mentari langsung sedikit menghindar, ia hanya merasa takut.


''Apa kamu mau tidur dengan memakai gaun itu?'' tanya Edgar.


__ADS_2