
Edgar dan Mentari sudah kembali ke rumah utama kemarin sore. Dua malam menginap di rumah lama sudah membuat rasa rindu Mentari cukup terobati.
Pagi hari sebelum berangkat ke kantor. Seperti hari-hari biasanya saat belum turun ke lantai bawah. Mentari memasangkan dasi untuk sang suami.
''Suamiku, nih.'' ujar Mentari setelah selesai memasang dasi.
Raut wajah Mentari menunjukkan bahwa ia sangat mengagumi sosok suaminya itu. Jika dulu ia bisa pasrah jika Edgar akan meninggalkannya, tidak untuk sekarang. Miliknya akan tetap menjadi miliknya. Hanya sang Pencipta yang bisa memisahkan keduanya melalui ajal.
''Istriku nih.'' balas Edgar lalu memberikan ciiuman di bibir Mentari dengan lembut yang perlahan menjadi menuntut untuk lebih.
Keduanya saling menatap lekat dengan senyuman setelah selesai. Edgar juga belum melepaskan pelukannya, ia justru kembali merengkuh kepala Mentari ke dalam dadanya.
''Sudah, Mas. Ayo turun, sarapannya pasti sudah disiapkan.'' ujar Mentari sembari mengurai pelukan itu.
Edgar masih enggan, ia kembali menghujani ciiuman bertubi-tubi untuk sang istri.
''Aku merindukanmu, sayang. Dari kemarin kita tidak muncul.''
Mentari terkekeh kecil. ''Biar tidak bosan, Mas, hihi.''
Mentari mendongak menatap wajah sang suami, ia menangkup kedua pipi Edgar. Hal yang biasanya dilakukan oleh Edgar padanya, kali ini ia ingin bergantian.
''Kerja gih, Mas. Cari cuan yang banyak. Biaya persalinan tidak murah, lho, Papaaa ... apalagi anaknya langsung dua. Mama juga perlu perawatan biar tetap cantik, haha.'' canda Mentari.
''Hahaha, istriku bisa saja.'' balas Edgar dengan mencubit gemas hidung sang istri.
Edgar langsung membungkukkan badannya, mengusap-usap lembut perut Mentari.
''Hey, sayang, anak-anak Papa. Mama kalian bisa aja ya.''
''Kalian jaga Mama ya, Papa mau cari cuan dulu.''
Edgar menciium perut Mentari lalu kembali berdiri tegak.
''Ayo turun.'' ajak Edgar.
Mentari mengangguk.
Setelah selesai sarapan, Edgar langsung ke kantor diantar oleh supir.
__ADS_1
Mentari yang masih berdiri di teras rumah, mencoba menghubungi nomor Rita. Tak lama kemudian, panggilan telepon itu di jawab.
''Rita, apa kabar?'' tanya Mentari.
Disana Rita mencoba untuk tersenyum. Ia sudah menyadari firasat itu. Mentari pasti mengkhawatirkannya.
''Aku baik-baik saja, Bu Bos. Ini mau berangkat kerja.'' jawab Rita.
Mentari menghela nafas lega.
''Syukurlah, ya sudah kalau mau berangkat kerja. Hati-hati di jalan ya.'' ucap Mentari.
''Terima kasih atas perhatianmu, Bu Bos.'' ucap Rita disertai cekikikan kecil.
''Iyaaa.'' jawab Mentari.
Jimmy sudah memberikan pesan pada kedua pengawal yang mengawal Rita supaya tidak menyampaikan hal itu pada bosnya, apalagi sampai terdengar oleh Mentari. Jika pun ada yang perlu disampaikan, itu akan menjadi urusannya.
Kantor Raymond
Edgar sudah di dalam ruang kebesarannya, ia mulai berkutat dengan laptop dan juga tumpukan dokumen yang ada diatas meja.
''Oh, Jim, masuk.''
''Apa ada perubahan jadwal meeting hari ini?'' tanya Edgar menatap Jimmy sekilas lalu kembali menghadap laptop.
''Tidak, Tuan. Pertemuan masih tetap di jam 14.00.'' jawab Jimmy.
Edgar menghentikan aktivitas mengetik. Ia menutup laptopnya lalu menatap Jimmy. Karena untuk apa Jimmy ke ruangannya jika tidak memiliki kepentingan.
''Ada hal penting apa yang mau kamu sampaikan?'' tanya Edgar.
''Duduklah.''
Jimmy mengangguk, lalu menarik kursi di depan meja Edgar.
''Maaf, Tuan, saya mengganggu aktivitas anda. Saya akan menyampaikan sesuatu hal yang penting.'' ujar Jimmy.
Edgar menyipitkan matanya menatap Jimmy penuh tanya.
__ADS_1
''Apa maksudmu? hal penting apa dan tentang siapa?'' tanya Edgar.
''Tentang Rita, Tuan.'' jawab Jimmy.
Seketika Edgar memundurkan tubuhnya dengan alis yang bertautan.
Setelah memikirkan bagaimana cara untuk membantu proses pengobatan Rita. Jimmy memutuskan untuk memberitahukan hal ini pada Edgar. Bagaimana pun juga ia akan mengalami kesulitan jika terus menerus menyembunyikan hal ini. Terlebih lagi, hal yang ia khawatirkan adalah jika tiba-tiba Edgar mengetahuinya sebelum ia yang memberitahu. Lalu muncul dugaan-dugaan yang tidak ia inginkan.
''Rita? ada apa? ada dia baik-baik saja? atau ada masalah?''
''Terus terang saja, istriku selalu mengkhawatirkan keadaan gadis itu, Jim.'' sambungnya.
''Ya, Tuan. Untuk itu, Rita memberikan pesan kepada saya untuk tidak menyampaikan hal ini pada nona Mentari. Sebenarnya juga pada siapapun, termasuk anda.''
''Apa yang kamu tau tentang dia? apa alasan yang membuat istriku tidak boleh tau?''
Jimmy sudah siap dengan berbagai pertanyaan ini. Ia menarik nafas panjang, lalu memulai cerita saat pengawal menghubunginya. Dan ia sudah melarang pengawal untuk meneruskan informasi ini pada Edgar.
''Dan ini saya menyimpan dua rekaman suara dari tetangganya dan juga dari Rita sendiri, Tuan.''
Jimmy langsung mencari file penyimpanan itu. Ia mengeraskan volume suara karena ia meletakkan ponselnya di atas meja. Edgar mendengarkan suara tersebut hingga selesai. Sesekali ia mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.
''Ya, tindakanmu sudah benar, Jim. Kita memang harus membantunya. Soal biaya biar menjadi tanggung jawabku karena istriku sangat mengkhawatirkannya.''
Jimmy langsung tersenyum lebar.
''Terima kasih, Tuan.'' ucap Jimmy.
''Tapi, saya mohon, Tuan berjanji untuk tidak membocorkan informasi tentang Rita kepada nona Mentari.''
''Hmm, tenang saja, aku juga tidak ingin istriku menjadi banyak pikiran. Khawatir sekali kamu ini, Jim.'' balas Edgar.
''Maaf, Tuan.'' ucap Jimmy.
Jimmy menarik kembali ponselnya dan menyimpan ke dalam saku jas. Edgar menegakkan posisi duduknya pada sandaran dengan memberikan tatapan pada pria yang selalu setia dengannya itu.
''Apa kamu tertarik dengannya?''
''Atau ... jangan-jangan kalian sudah resmi berpacaran di belakangku?'' selidik Edgar.
__ADS_1
Jimmy langsung terkejut, ia mengangkat wajahnya dan membalas tatapan mata Edgar yang tajam itu.