Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 64 : Let's Make a Baby


__ADS_3

Edgar menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh Mentari ke samping lalu melepaskan bajunya sendiri dan melempar ke sembarang arah. Roti sobek kotak-kotak itu berhasil membuat Mentari terbelalak dan menelan salivanya kuat-kuat, ia langsung membuang arah agar terhindar dari hal tersebut.


Edgar kembali menaikkan sudut bibirnya.


Postur tubuh yang sangat berbeda membuat Edgar sangat mudah mengangkat Mentari ke pangkuannya. Tentu saja Mentari sangat terkejut dan mengalungkan tangannya di leher Edgar.


''Mas..'' lirih Mentari.


Edgar menahan punggung Mentari yang sudah dipangkunya.


Edgar hanya tersenyum tipis lalu kembali mendaratkan ciumannya. Kesabarannya saat menunggu kesiapan Mentari seperti dihilangkan oleh hasrat yang sekian waktu ia tahan. Kali ini Edgar menciumi Mentari dengan sangat rakus.


Edgar menciumi seluruh wajah Mentari, ciuman itu semakin liar saat Edgar turun ke leher. Mentari hanya bisa menggigit bibir bawahnya.


''Keluarkan sayang.'' bisik Edgar disela-sela ciumannya dan mengharapkan d*sahan keluar dari mulut Mentari.


Mentari masih kokoh untuk menahan agar suaranya tidak keluar.


Tangan liar Edgar menelusup ke dalam pakaian Mentari, ia langsung melepaskan pakaian yang melekat ditubuh sang istri, sehingga terekspos dengan jelas tubuh atas Mentari.


Edgar tersenyum melihat pemandangan indah di depannya, sementara Mentari langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia yang masih berada dipangkuan sang suami tidak bisa bergerak karena Edgar terus menahannya.


Edgar memeluk Mentari dan membiarkan tubuh mereka bersatu saling merasakan detak jantung.


''Jantung kita sama-sama berdegup tak beraturan.'' bisik Edgar.


Mentari memejamkan kedua matanya lalu menarik nafas perlahan.


Seperti ada yang menuntun, Mentari menahan tengkuk Edgar dan ia memulai untuk mencium bibir suaminya.Tentu saja Edgar menerima sentuhan itu dengan senang hati meskipun ia terkejut karena Mentari yang memulainya.


Edgar langsung membalikkan tubuh Mentari agar dibawah, sementara Edgar mengungkungnya. Keduanya tersenyum dan sama-sama mengatur pernafasan.


Satu tangan Edgar membelai wajah Mentari dengan lembut, sementara satu tangannya menjadi penopang untuk menjaga keseimbangannya.


''Let's make a baby..'' bisik Edgar lalu memberikan tiupan kecil ditelinga Mentari.

__ADS_1


''Ka-kamu yakin, Mas?'' tanya Mentari gugup.


''Tentu saja, sayang..'' jawabnya dengan gerakan yang semakin turun.


Mentari meremas kain spray untuk membantu pertahanan yang berkolaborasi dengan ia menggigit bibirnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara.


Edgar membuang celananya dan melemparnya ke sembarang arah, begitu juga milik Mentari, ia melepaskan tanpa izin. Kali ini tubuh keduanya sama-sama terekspos dengan sangat jelas tanpa penutup sedikit pun.


Sesuatu menjalar diseluruh tubuh Mentari, ia melupakan rasa malunya. Yang ia rasakan saat ini menikmati sentuhan-sentuhan indah dari sang suami.


''Massss..''


''Oh sayang..''


Sebuah tembakan yang sangat tepat pada sasaran.


Burung elang itu menemukan rumah barunya yang gelap, awalnya terasa sempit. Mungkinkah ini efek dari lama tidak dihuni, Edgar tidak memusingkan itu, yang pasti elangnya bahagia mendapatkan rumah barunya, sehingga terlihat enggan untuk keluar, dan memilih bermain-main disana dan menunggu puncak kejayaan.


Edgar mengguncang panggung pribadinya bersama Mentari dengan goyangan maju mundur hingga berkeringat bersama. Mentari meringis kesakitan dan juga keindahan.


Edgar mengecup lama kening Mentari, lalu merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Edgar menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang polos tanpa motif.


Mentari masih terlihat malu-malu setelah melakukan hal itu, rasanya masih sangat belum bisa ia percaya kalau ini nyata terjadi.


Edgar menopang kepalanya dengan telapak tangannya. Mentari langsung menutup wajahnya karena semakin gugup saat melihat senyuman Edgar yang terus menatapnya.


''Udah Mas jangan seperti itu, aku malu..'' ujarnya dibalik selimut.


Ide jahil pun muncul dibenak Edgar karena Mentari terus menutup wajahnya.


''MAS!!''


Edgar terkekeh pelan lalu memeluk Mentari. Ia berhasil membuat Mentari membuka penutup wajahnya karena Edgar meremas bola kembar sehingga membuat pemiliknya terkejut.


''Aku sudah melihat semuanya, sayang.. jangan ditutup-tutupi lagi.'' bisik Edgar dengan suara yang menggoda.

__ADS_1


Mentari kembali menutupi wajahnya dengan telapak tangan.


Edgar menarik kepala Mentari dan membawa ke dadanya yang kekar itu. Mentari mendongak menatap wajah Edgar.


Edgar mencium kening Mentari lalu memeluknya lagi.


''Kita akan lebih sering melakukan ini, persiapkan dirimu.'' bisik Edgar.


Mentari langsung menarik nafas dalam-dalam lalu mengangguk. Bukan hal sepatutnya jika ia terus-menerus menolak hak dan kewajiban sebagai suami istri.


''Tapi, untuk malam ini cukup ya Mas.. badanku sudah sakit semua.'' pinta Mentari jujur.


Sorotan kedua mata Edgar masih mengisyaratkan keinginan yang lebih. Tetapi Mentari berkata jujur mengenai apa yang ia rasakan.


Giliran Edgar yang menarik nafasnya dalam-dalam dan mengiyakan permintaan Mentari. Sesuatu yang sudah sangat lama tidak digunakan tentu saja harus hati-hati dan dijaga sebaik mungkin.


''Iya, cukup.. sekarang kita bersihkan badan dulu.'' ajak Edgar.


Mentari mengangguk.


''Awwhh..'' Mentari meringis kesakitan.


Dengan sigap Edgar membopong tubuh Mentari dan membawa ke kamar mandi dengan keadaan sama-sama tanpa sehelai benangpun yang melekat ditubuh mereka.


''Maaf..'' ucap Edgar lirih.


''Iya, tidak apa-apa..'' jawab Mentari diikuti senyumnya yang masih berusaha menahan tangis.


Edgar menatap wajah Mentari dengan iba, meskipun Mentari sudah terlihat berusaha memejamkan matanya, tetapi terlihat buliran bening mengalir.


Edgar mengingat perbuatannya yang brutal, tanpa memberi ampun kepada sang istri. Rasa kasihannya tertutupi oleh nikmatnya berbuka setelah sekian tahun.


''Besok aku akan melakukannya lebih lembut lagi, maafkan untuk malam ini.'' ucap Edgar.


Keduanya tidur dengan saling berpelukan. Edgar masih terjaga, ia mendengar nafas Mentari yang sudah teratur didalam pelukannya, perasaannya lebih lega.

__ADS_1


''Sebenarnya aku masih ingin..'' ucap Edgar lirih, lalu perlahan berusaha memejamkan kedua matanya.


__ADS_2