Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 125 : Rita Anak Sholehah


__ADS_3

^^^Permasalahannya lanjut part selanjutnya ya🤭^^^


...•••••••...


''Permisi Tuan, saya sudah membawa Rita kesini dan membawa pesanan nona Mentari.'' ujar Jimmy.


''Langsung masuk, istriku sudah nangis-nangis.''


Jimmy menoleh ke belakang.


''Masuk.'' ujarnya pada Rita.


''Baik Tuan.''


Untuk pertama kalinya Rita berada di gedung itu, apalagi kali ini berada di ruang petinggi Raymond. Kedua kakinya terasa sangat gemetaran seperti tidak sanggup melangkah.


''I-ini pesanannya.'' ujar Rita.


Edgar menerima pesanan yang sudah dibawakan oleh Rita untuk Mentari.


''Terimakasih, silahkan duduk dulu..'' ucap Edgar.


''Baik Tuan.''


Di waktu yang sama, saat Edgar mau masuk ke dalam ruangan pribadinya, bersamaan dengan Mentari yang keluar dari ruangan itu. Sorot mata Mentari langsung tertuju pada sesuatu yang ada ditangan Edgar. Aroma khas masakan itu pun hampir membuat air liurnya menetes.


''Nasi Padang! waahhh!!''


''Sini..''


''Makasih ya Rit.'' ucap Mentari.


''Iya sama-sama Bu bos.''


Mentari menghampiri Rita yang duduk di sofa, ia tak mungkin meninggalkan Rita duduk sendirian disana.


''Kamu cuma beli dua ini?'' tanya Mentari.


Rita mengangguk. ''Pesannya cuma dua hehe.''


Mentari langsung bersedih.


''Kalau dibagi, nanti aku nggak kenyang. Kalau aku makan semua, kalian nggak makan, cuma lihatin orang makan.'' tutur Mentari sedih.

__ADS_1


''Nggak papa, nanti aku bisa beli sendiri, yang penting kamu nggak sedih lagi..'' ujar Rita.


''Beneran?'' tanya Mentari.


''He'em.''


''Yaudah aku makan ya, maaf ya semuanya.''


Edgar melihat sang istri menyantap nasi Padang itu dengan sangat lahap, sangat sesuai dengan realita yang katanya belum sarapan.


Rita yang sudah memahami selera makan Mentari hari ini dibuat heran. Mentari sangat lahap, benar-benar seperti belum pernah makan setahun.


Jimmy yang juga masih berada di ruangan itu terheran-heran, kecil-kecil isinya banyak juga.


Satu porsi pertama sudah Mentari habiskan, ia langsung melanjutkan porsi kedua. Padahal porsi nasi Padang jika di bungkus isinya sangat banyak. Tapi, kali ini Mentari terlihat masih kuat melanjutkannya.


Edgar langsung menelan salivanya, ingin rasanya menegur, tetapi takut karena Mentari masih sensitif. Akhirnya ia pun hanya mengusap lehernya sendiri.


''Pelan-pelan sayang.'' ujar Edgar melihat Mentari terburu-buru.


''Hmm..''


''Ini Bu bos nggak makan setahun apa gimana sih??'' bathin Rita.


Porsi kedua habis menyisakan tulang ayam dan bungkusnya. Mentari melipat bungkusan kosong itu dan memasukkannya kembali ke dalam plastik agar lebih mudah di masukkan ke tong sampah nantinya.


''Kalian pada kenapa sih?'' tanya Mentari.


''Ahh, nggak, nggak papa.'' jawab Rita.


''Aku senang lihat kamu makan sangat lahap.'' ujar Edgar.


''Sini, biar aku aja yang buang. Ini tisu basahnya.'' sambung Edgar.


Mentari menerima itu seraya mengucapkan terimakasih kepada suaminya.


Setelah diberikan waktu untuk Mentari mengobrol bersama dengan Rita, Rita pun merasa tidak nyaman berlama-lama disini.


''Aku balik ke kantor dulu ya Dir, eh Bu bos maksudnya.'' ujar Rita.


''Sebentar Rit, nunggu suamiku balik kesini dulu biar kamu diantar supir.'' jawab Mentari.


''Nggak usah, nggak perlu repot-repot, aku mau pulang naik taksi online aja. Lagian tadi motorku di rumah makan Padang itu, aku kesininya sama tuan Jimmy.'' tolak Rita.

__ADS_1


''Oh ya? cie cie..'' ledek Mentari.


''Apa sih Dir.. tuan Jimmy sudah punya pacar.'' bisik Rita.


''Tau darimana?'' tanya Mentari antusias.


''Hehehehe nebak aja sih, soalnya tadi pas di mobil, nggak sengaja lihat hpnya ada pesan masuk. Aku reflek lihat, dan tuan Jimmy langsung senyum-senyum gitu sambil natap hpnya.''


''Dan gblgnya aku tadi kelepasan malah kepo tanya apa itu pacarnya.'' sesal Rita.


''Hahaha''


Bukannya iba, Mentari justru tertawa terbahak-bahak membayangkan ekspresi wajah Rita yang sering diluar kendali versus ekspresi wajah Jimmy yang dingin.


''Dih kejam!''


''Maaf-maaf, aku khilaf haha''


''Eh Rit, uangnya beneran sudah di transfer kan?'' tanya Mentari memastikan dan membuat percakapannya beralih ke lain.


''Belum ku cek sih, sebentar.''


Rita mengambil ponselnya untuk melihat apakah ada pemberitahuan masuk atau belum. Edgar sudah meminta nomor rekening Rita untuk mengirimkan uang ganti yang dikeluarkan untuk membeli nasi Padang yang diminta oleh sang istri.


''Gilaa!!'' seru Rita langsung menutup mulutnya.


''Kenapa Rit? belum dikirim?''


''Sudah, sudah dikirim. Lihat nih.. mentang-mentang orang kaya, boleh deh tiap hari begini biar untung besar haha''


''Dih maumu begitu.. yaahh anggap aja rezeki anak Sholehah.''


''Nggak ikhlas banget ngomongin Rita anak Sholehah.'' protes Rita.


''Hahaha''


''Yaudah cepetan pulang sana, nanti dicariin yang lainnya.'' usir Mentari.


''Pokoknya makasih banget, akhirnya aku sangat kenyang.''


Mentari langsung memeluk Rita. Sudah lama mereka tidak terlibat komunikasi secara langsung seperti ini, makan bersama ataupun sekedar becanda.


Menunggu Edgar dan Jimmy tak kunjung kembali, akhirnya Rita meninggalkan gedung tersebut. Ia harus segera kembali ke tempat dimana dirinya bekerja. Gara-gara telpon dari Edgar yang tiba-tiba memberikannya tugas sehingga terpaksa menunda pekerjaan utamanya.

__ADS_1


__ADS_2