
Edgar sudah menghubungi nomor maminya kenapa pergi tidak izin terlebih dulu. Dan jawaban dari maminya hanya tertawa menggoda putranya itu, kedua orangtuanya tidak ingin mengganggu waktu berduaan pengantin baru.
''Mereka tidak akan lama, mungkin lusa sudah kembali kesini karena acara semakin mepet, banyak yang harus dikontrol langsung sama mami.'' ujar Edgar pada Mentari.
Mentari hanya mengangguk pelan. Keduanya sudah bersiap-siap untuk istirahat, sekarang sedang bersandar di ranjang sembari belajar mengobrol ringan.
''Kenapa kamu seperti cemas? ada masalah?'' tanya Edgar.
''Nggak, aku hanya khawatir Erin tidak menerimaku.'' jawab Mentari jujur.
''Kenapa kamu berfikiran seperti itu?''
''Itu hanya kekhawatiranku saja karena status sosial kita yang jauh berbeda.'' jawab Mentari dengan senyum getir.
''Tidak perlu khawatir, Erin tidak pernah mempermasalahkan soal itu. Dia juga anaknya cuek soal pilihan kakaknya.'' tutur Edgar berusaha menenangkan kekhawatiran Mentari.
''Benarkah?'' tanya Mentari.
Edgar mengangguk lalu mengusap rambut Mentari yang sudah di urai dan terlihat lurus sepinggang itu.
Mentari menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembusnya pelan.
''Sepertinya aku kurang nyaman dengan panggilan sayang, apa boleh diganti?'' tanya Mentari membuat Edgar mengernyitkan dahinya.
''Apa alasannya?''
''Tidak ada alasan selain kurang nyaman, mungkin kamu juga merasakannya.'' jawab Mentari.
''Lalu, kamu mah mengganti seperti apa?'' tanya Edgar.
''Bagaimana kalau aku manggilnya Mas aja? kamu panggil aku tetap dengan menyebut namaku, atau terserah kamu saja gimana baiknya..''
''Mas?'' Edgar mengulangi usulan Mentari.
''He'em, kamu nggak setuju ya? maaf.. aku akan belajar untuk membiasakan itu supaya nyaman.'' ujar Mentari.
Semula mereka bersandar dengan memberikan jarak hampir satu meter. Saat melihat Mentari kembali meminta maaf, Edgar langsung menggeser duduknya semakin mepet dengan sang istri.
Edgar menarik bahu Mentari dengan pelan dan menenggelamkan ke dadanya. Ia mengusap lembut rambut Mentari.
''Aku setuju kok, kalau kamu mau panggil aku Mas. Asalkan nggak balik ke panggilan Tuan lagi.'' ucap Edgar.
__ADS_1
Mentari langsung mendongak sehingga tatapan mata mereka saling bertemu.
''Beneran?'' tanya Mentari meminta kepastian.
''Iyaa..'' jawab Edgar gemas.
''Terimakasih Mas..'' ucap Mentari.
Hal sederhana seperti ini saja membuat Mentari sumringah. Tanpa disadari ia langsung melingkarkan tangannya di pinggang Edgar.
Beberapa detik kemudian setelah terbuai oleh momen yang manis, Mentari langsung tersadar apa yang ia lakukan. Dengan sigap ia langsung melepaskan tangannya.
''Maaf..'' ucapnya.
Edgar juga terkejut kenapa Mentari tiba-tiba melepaskan tangannya dan langsung bergeser.
''Kenapa?'' tanya Edgar.
''Aku gugup.'' jawab Mentari.
Edgar tersenyum tipis. Ia membenarkan posisi bantalnya.
Mentari mengangguk, ia langsung menata bantalnya sendiri. Sebelum ia menarik selimut, Edgar lebih dulu yang menarikkan dan menyelimutkan ditubuh keduanya.
''Mimpi indah, istriku..'' ucap Edgar lalu memberikan kecupan manis di kening Mentari.
Jantung Mentari semakin tidak karuan, ia merasakan ini secara sadar.
''Semanis inikah suamiku? oh jantung, tenanglah..'' batin Mentari.
''Terimakasih Mas..'' ucap Mentari.
Edgar mengangguk lalu ikut berbaring di sampingnya.
Jantung keduanya sama-sama berdegup sangat kencang. Antara percaya dan tidak dengan apa yang terjadi beberapa hari ini. Edgar semakin tidak bisa membohongi dirinya sendiri atas apa yang ia rasakan tentang Mentari.
''Sepertinya aku benar-benar mencintaimu, Mentari..'' gumamnya dalam hati.
Mentari tidur dengan membelakangi Edgar, sedangkan Edgar tidur menghadap Mentari. Baik Edgar maupun Mentari, keduanya masih larut dalam bayangan, mereka sama-sama belum bisa tidur.
Sudah satu jam berlalu, Mentari hanya sibuk memikirkan perasaannya yang tidak tenang. Ia membalikkan badannya sembari mengecek apakah suaminya sudah tidur atau belum.
__ADS_1
Mentari hampir saja menjerit karena ternyata Edgar juga masih membuka kedua matanya dengan sempurna dan sedang menghadap kearahnya.
''Be-belum tidur?'' tanya Mentari gugup.
''Belum, aku nggak bisa tidur.'' jawab Edgar sembari menjadikan tangannya sebagai penopang kepala.
''Ohh..''
''Kamu kenapa belum tidur?'' tanya Edgar tak kalah penasaran.
''Belum bisa tidur juga hehe..'' jawab Mentari seraya melirik sekilas ke arah Edgar, karena ia tak berani menatap suaminya itu dalam waktu yang lama.
''Sepertinya ada cara yang bikin kita cepat tidur.'' ucap Edgar.
''Gimana caranya?''
''Sini..''
''Jangan macam-macam!'' ancam Mentari.
Edgar tertawa gemas melihat ketakutan diwajah Mentari, akhirnya ia yang mendekati sang istri.
''Tu eh Mas mau ngapain?'' pekik Mentari.
''Meluk kamu, kita akan menggunakan cara ini untuk cepat tidur.''
''Ihh modus ini, cari kesempatan!'' protes Mentari.
''Nggak, kamu pasti juga membutuhkannya kan? buang gengsinya..'' bisik Edgar.
''Ta-tapi..''
''Udah santai aja..'' ucap Edgar pelan.
Edgar dan Mentari menghela nafas secara bersamaan untuk mengurangi rasa gugup di diri mereka. Menyadari hal itu, keduanya langsung tertawa.
''Dengan seperti ini, kita akan cepat tidur.''
Edgar kembali mendaratkan kecupan di kening Mentari cukup lama.
Sayup-sayup rasa kantuk menyerang Mentari, Edgar yang mengusapkan jari-jarinya di rambut Mentari juga mulai merasakan kantuk. Dan akhirnya mereka terlelap dalam tidurnya dengan berpelukan.
__ADS_1