
Jimmy mengangkat ponselnya dan mendekatkan ponsel itu ke Rita. Rita langsung memasang indera pendengarannya dengan baik hingga suara itu selesai.
''Saya tidak tau mereka dapat informasi itu dari mana dan dari siapa.'' ujar Rita setelah selesai mendengar rekaman suara itu.
''Apa cerita itu benar?'' tanya Jimmy.
Rita terdiam, ia menatap Jimmy sekilas. Lalu menunduk dalam dan menghela nafasnya. Harusnya ia tak perlu mengeluarkan air mata lagi, tetapi buliran bening itu mengalir tanpa komando.
''Oke, nggak papa, lanjutkan saja menangismu. Kalau sudah lega, ceritakan semuanya kepada saya.''
Setelah Jimmy menunggu, akhirnya Rita bersedia menceritakan apa yang ada di rekaman itu. Dengan tambahan cerita yang memilukan.
''Dulu, saya diadopsi pas masih bayi. Orang tua kandung saya juga tidak tau kejelasannya ada dimana. Orang tua angkat saya sudah beberapa tahun menikah, tetapi belum dikasih keturunan, dan dari pemeriksaan medis, ayah memang memiliki kesulitan untuk itu. Akhirnya mereka memutuskan untuk adopsi saya. Itu yang di ceritakan sama mama waktu saya berusia remaja.'' terang Rita kemudian tersenyum getir membayangkan kisah itu.
''Tapi, ternyata pernikahan mereka tidak langgeng. Ayah dan mama bercerai ketika saya masih SD. Karena keluarga mama selalu menyalahkan ayah dari segi manapun. Mereka ingin mama punya anak kandung, bukan hanya merawat anak angkat yang tidak sedarah. Ayah dan mama sebenarnya sudah tiga kali mengupayakan program bayi tabung, tetapi selalu belum berhasil. Akhirnya ayah menyerah dan tidak sanggup dengan suara-suara menyakitkan dari keluarga mama.''
Rita menatap jendela sembari tersenyum, membayangkan masa indah memiliki orang tua lengkap, meskipun bukan orangtua kandung.
''Setelah dua tahun resmi bercerai, mama menikah lagi dengan anak rekan bisnis kakek. Tidak lama kemudian, mama hamil. Saya senang sekali karena akan memiliki adik, yang artinya saya akan mempunyai teman. Sampai akhirnya mama hamil lagi dan saya punya adik dua. Mereka perempuan dan laki-laki. Mereka sangat cantik dan tampan, kulitnya juga putih seperti mama.'' jelas Rita.
''Setelah kami sama-sama besar. Adik saya yang perempuan itu beranjak remaja. Ntah apa yang mempengaruhi pikiran dia. Dia tidak bisa menerima saya disana. Dia hanya mau berdua dengan adiknya. Apalagi dengan garis wajah yang tidak memiliki kemiripan sama sekali, dia terus terang mengatakan malu, dia juga tidak mau saya menerima warisan yang sama dengannya.''
Rita terdiam dengan kedua mata terpejam.
__ADS_1
''Saya tidak pernah berpikir untuk meminta warisan pada mereka.''
''Rumah itu dulu di beli ayah dan mama waktu masih bersama, dan menjadi hak mama. Sekarang dijadikan kenang-kenangan untuk saya, sebagai hadiah perpisahan kita yang sudah bukan lagi anggota keluarga.''
Sesekali Rita bercerita dengan mengusap air matanya. Ia juga terus menerus menarik nafas agar tidak terbata-bata dalam berbicara.
''Orang-orang disana mungkin juga tidak tau kalau suami mama sudah beda. Karena memang rumah itu belum sempat ditinggali waktu dulu. Beberapa tahun terakhir, kami sempat tinggal bersama disana, tapi, tidak lama karena perselisihan dengan adik-adik saya itu semakin runyam.''
Rita tersenyum lalu menatap Jimmy.
''Saya tidak pernah membenci mereka, Tuan. Bagaimanapun juga, mereka orang tua yang menyayangi saya dari saya masih bayi. Papa baru juga, beliau menerima mama yang sudah membawa saya. Mereka semua memberikan kasih sayang, fasilitas, juga kebahagiaan layaknya orang tua pada putrinya. Saya juga merindukan adik-adik waktu kita masih kecil, kami sering bermain bersama.''
''Ya, meskipun kalau diingat-ingat lagi, mereka memang berubah ketika sudah memiliki anak kandung, saya saja yang tidak peka.''
''Saya sadar betul posisi ini. Saya juga bingung dengan diri saya sendiri. Kenapa harus bersedih sampai berlarut-larut seperti ini. Saya terus menyalahkan diri sendiri yang tidak tau diri.''
Tak satu katapun Jimmy ingin memotong kalimat Rita. Ia masih terus siap menjadi pendengar sampai gadis itu menyudahinya sendiri.
''Maaf, Tuan. Saya sudah berbicara melebihi batas. Sangat membosankan pastinya.'' ucap Rita yang kemudian menghela nafas lega.
''Sudah selesai?'' balas Jimmy.
Rita mengangguk. ''Iya, sepertinya sudah.''
__ADS_1
''Sudah plong rasanya?'' tanya Jimmy.
''Saya rasa sudah lebih baik. Saya lega sudah mengeluarkan apa yang selama ini saya pendam.''
Jimmy tersenyum melihat senyum dan juga tangis Rita yang bersamaan itu.
''Syukurlah.'' kata Jimmy.
Rita yang masih duduk di ranjang itu saling menggenggam kedua tangannya dengan kuat. Ia ingin memeluk dan mengucapkan terima kasih. Tetapi ketika Jimmy berdiri dan menepuk pundaknya membuat Rita menahan diri agar tidak berlebihan.
''Terima kasih banyak, Tuan. Terima kasih.'' ucap Rita.
Jimmy mengangguk.
Setelah berkonsultasi dengan dokter dan juga psikiater pada sore ini. Rita memutuskan untuk kembali ke rumah terlebih dulu. Ia belum siap melakukan operasi. Ia ingin merampungkan pekerjaan yang sempat tertunda karena masa cutinya.
Jimmy menutup pintu gerbang rumah Rita. Lalu masuk ke dalam mobilnya yang sudah menanti. Tak terasa ia sudah menghabiskan waktu di rumah sakit. Sekarang waktunya ia kembali ke apartemen untuk beristirahat. Mempersiapkan kembali dirinya untuk beraktivitas seperti biasa bersama Edgar Raymond.
...^^^^^^...
Sembari menantikan update kelanjutannya, monggo baca novel pertama Cimai ya😁
Silahkan klik profil Cimai, novel dengan judul "Menikah Dengan Adik Sahabatku"
__ADS_1
Terima kasih 😍