
Setelah dua malam menginap di villa milik keluarga Raymond tanpa sepengetahuan dari Mentari. Pagi ini Edgar dan Mentari melanjutkan perjalanan langsung ke kantor.
''Tuan, siapa yang menyiapkan semua keperluan kita selama di villa kemarin? alat make up saya, dan termasuk..'' Mentari menghentikan perkataannya.
''Termasuk underwear kita.'' sahut Edgar paham.
''Iya.'' jawab Mentari cepat.
''Tentu saja Jimmy.''
''Ha? Tuan Jimmy?''
''Kenapa kau terkejut?''
''Tidak.'' jawab Mentari lalu kembali menatap ke arah samping.
Keduanya kembali terdiam, Edgar fokus dengan kemudinya, sedangkan Mentari fokus menatap pemandangan yang dilewati.
Tiba-tiba terbesit dalam hatinya, andaikan orangtuanya masih ada hingga sekarang. Menemaninya hingga dewasa, bertemu dengan jodohnya dan seperti orangtua lain yang mengharapkan kehadiran cucu.
Mungkin saja sosok ayahnya masih ada, tapi, ntah dimana. Mentari tidak mencari, namun, jika suatu hari nanti ditakdirkan untuk bertemu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membenci.
''Kenapa dari tadi pemandangan itu tidak bergerak?'' gumam Mentari heran.
''Tuan, kenapa berhenti?'' imbuhnya setelah menyadari ternyata Edgar menepikan mobilnya.
''Kenapa kau menangis?'' tanya Edgar dengan posisi duduk menyamping menghadap Mentari.
Mentari langsung membuang arah, ia mengusap wajahnya dengan cepat.
''Tidak, saya tidak menangis, Tuan salah lihat.'' ucap Mentari kemudian tersenyum.
__ADS_1
Edgar meraih kedua bahu Mentari agar menghadapnya.
''Kau pikir mataku sudah rabun?''
Mentari menggeleng.
''Tadi terlihat baik-baik saja, kenapa tiba-tiba menangis? apa yang sedang kau pikirkan?'' cerca Edgar.
Mentari menghela nafasnya dalam-dalam.
"Saya hanya terharu Tuan." jawabnya.
''Tuan, bolehkah saya tidak perlu ikut ke kantor? lagipula, saya merasa tidak memiliki kepentingan disana, yang ada nanti mereka mengira anda sedang mengajak asisten. Tuan bisa turunkan saya disini saja, saya tidak masalah kok, saya tidak akan marah, juga tidak akan menghukum Tuan karena sudah menurunkan saya di tengah perjalanan. Saya bisa naik kendaraan umum untuk sampai ke rumah. Saya berjanji tidak akan kabur lagi, saya akan langsung ke rumah anda, Tuan. Saya...''
Cup
Kedua mata Mentari langsung terbelalak ketika bibir Edgar menempel dengan cepat dibibirnya sehingga menghentikan perkataan yang sedang ia rangkai.
Keduanya saling bertatapan hingga beberapa detik.
''Mau ngoceh lagi?'' tanya Edgar pelan setelah melepaskan bibirnya meskipun masih sangat dekat.
Mentari yang masih dalam mode shock hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Edgar tersenyum melihat hal itu, kemudian membenarkan posisi duduk Mentari.
''Ikuti saja apa kata suamimu, kalau ngoceh lagi, ku pastikan kau tidak berpakaian, tidak ada kata ampun.'' ancam Edgar.
Mentari semakin terbelalak, ia langsung menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi tubuhnya.
''Tuan jangan macam-macam sama saya!'' gertak Mentari.
Edgar hanya menyeringai senyum, dan kembali melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
''Mengatakan hal itu sungguh membuatku keringat dingin, aku benar-benar bisa hilang kendali kalau selalu didekatnya. Tapi, kalau tidak didekatnya, aku seperti kehilangan separuh jiwaku.'' batin Edgar.
Mentari sesekali melirik ke arah Edgar, lirikan tajam itu seolah-olah memberikan ancaman supaya Edgar tidak macam-macam padanya.
°°
Kantor pusat Raymond Group
Semua mata tertuju pada kedatangan Edgar, ia yang sebelumnya sudah membuat janji dengan Jimmy untuk kedatangannya ke kantor, sehingga membuat mereka bisa tiba diwaktu yang sama.
Mentari menyadari hal itu, ia sangat gugup untuk menghadapi kenyataan ini. Ia bingung apa yang harus dilakukannya.
''Eh, Tuan..'' lirihnya. Ia terkejut saat Edgar meraih jari-jarinya dan menggenggam erat untuk melangkah masuk ke dalam gedung.
''Tidak usah gugup, ini milikmu juga. Jika ada yang macam-macam, kau katakan saja dan aku akan memecatnya.'' tutur Edgar.
Mentari hanya tersenyum tipis memperlihatkan giginya.
''Anda enak sekali bicara seperti itu, Tuan. Karena faktanya memang anda bosnya. Lah saya? saya hanyalah remahan rempeyek di dasar kaleng khong cuan (sengaja diplesetkan).'' batin Mentari.
Terlihat mereka yang melihat kedatangan Edgar langsung berbisik-bisik, terutama para pekerja wanita. Tentu saja hal itu menjadi pemandangan yang tidak biasa, karena biasanya Edgar selalu berdua dengan Jimmy.
''Siapa wanita itu?''
''Apa itu calon istrinya tuan Edgar?''
''Sepertinya tidak asing dengan wajah wanita itu?''
''Siapa ya?''
''Eh iya benar, kayaknya tidak asing, tapi, siapa?''
__ADS_1
Beberapa bisik-bisik dari pegawai perempuan disana saat melihat kedatangan Edgar dan Mentari, serta tidak lupa sosok Jimmy yang berada dibelakangnya.