
Setelah mendapatkan izin dari keluarga bosnya, hari ini terasa sangat lama bagi Jimmy. Tanpa sadar ia kerap melihat jam di pergelangan tangannya, masih saja waktu belum bergeser ke sore hari.
''Tidak bisa kah ini waktu berjalan lebih cepaat??'' gumam Jimmy bercampur menggerutu.
Hal yang tidak jauh berbeda dari kegelisahan Jimmy di kantor, di rumah pun Erin juga merasakan hal yang sama. Ia mengunci dirinya di dalam kamar setelah membawa beberapa baju kakak iparnya.
Huuuuuuhhhhh
''Kenapa nggak bisa tenang sih?!!'' gerutu Erin setelah melepaskan tarikan nafasnya dengan kuat.
Waktu terus berjalan, siang hari yang terasa lama akhirnya menuju sore hari. Sinar matahari pun kian tenggelam atas pergeseran waktu.
''Cantiknya anak Mami.'' puji mami yang berdiri di tengah pintu kamar Erin.
''Mami..! bikin aku kaget aja.'' ujar Erin yang masih duduk di depan meja riasnya.
Sepertinya Erin lupa tidak mengunci pintu kamar, sehingga mami bisa langsung masuk ke dalam kamar putri bungsunya itu.
Erin langsung berdiri saat mami semakin melangkah maju ke arahnya.
Tiba antara ibu dan anak itu saling berhadapan. Mami tersenyum sembari menggenggam kedua tangan Erin.
''Jimmy sudah datang.'' ujar mami.
''Ha? jam berapa ini?'' pekik Erin lalu menatap jam di dinding.
Ooohh, ternyata memang sudah tepat waktunya, ia saja yang masih merasa gugup. Meskipun ini bukan kali pertama untuknya dan Jimmy pergi berdua. Mungkin, perbedaan kali ini karena momen berdua mereka sudah tidak ada yang disembunyikan lagi.
Erin langsung menatap mami dengan nyengir karena ketahuan sedang gugup.
''Iya, Mi, aku sudah siap kok.'' ucap Erin lalu menenteng tas berwarna hitam yang ia letakkan di meja rias.
''Aku cantik nggak, Mi?'' bisik Erin kemudian terkekeh kecil untuk menutupi rasa gugupnya.
''Anak Mami pasti cantik.'' jawab mami.
__ADS_1
Ibu dan anak itu langsung turun ke bawah. Ternyata disana sudah kumpul semuanya, termasuk Mentari. Pantas saja tidak menemui Erin yang sedang gugup di dalam kamar.
Pandangan Jimmy langsung tak teralihkan, ia pun juga merasakan rasa gugup yang sama.
Kemudian Erin duduk bersebelahan dengan mami di sofa tersebut.
''Erin, sudah siap?'' tanya papi.
''Hah?''
''Eh, iya, sudah.'' jawab Erin dengan gugup yang tidak bisa ditutupi itu.
Jimmy tersenyum tipis.
''Tuan ... Nyonya, sepertinya kami harus jalan sekarang supaya tidak terlalu malam pulangnya.'' ujar Jimmy.
''Ya, jalanlah. Hati-hati dan tetap jaga diri.'' balas papi.
Jimmy langsung mengangguk. ''Baik Tuan.'' jawabnya.
''Jangan macam-macam ..!" bisik Edgar ketika mereka jalan ke arah luar.
Jimmy mengangguk pelan.
''Jangan diulangi lagi ..!'' ancam Edgar pada Erin dengan suara lirih.
''He'em.'' jawab Erin, ia tau maksud sang kakak.
Mentari langsung meraih lengan Edgar dan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah. Ia paham bagaimana perasaan Jimmy dan Erin yang sedang gugup itu. Dan untung saja Edgar langsung nurut pada sang istri.
Bukan malam akhir pekan, tapi, jalanan kota tentu saja tidak pernah sepi. Jimmy melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju salah satu restoran yang ada di kota ini dan tidak terlalu jauh dari rumah Raymond.
Tidak sampai tiga puluh menit, mereka sudah tiba di restoran yang dituju. Jimmy keluar dari mobil terlebih dahulu, lalu dengan sigap membukakan pintu untuk Erin.
Gadis itu langsung menyimpulkan senyumnya, dan menerima uluran tangan dari Jimmy.
__ADS_1
''Hmm, boleh juga.'' gumam Erin dalam hati saat melihat restoran yang dipilih oleh Jimmy.
Salah satu restoran mewah yang berada di tengah-tengah kota.
''Ayo masuk.'' ujar Jimmy.
''Oh, iya.'' jawab Erin kembali fokus menatap lurus ke depan.
Keduanya tampak serasi, jika Edgar dan Mentari memiliki postur tubuh yang berbeda, karena Edgar yang tinggi, sedangkan Mentari mungil untuk suaminya. Lain halnya dengan Jimmy dan Erin, keduanya sama-sama tinggi. Namun, keserasian itu tentu saja bukan terletak pada bentuk tubuh maupun warna kulit. Tapi, keserasian akan terpancar ketika kedua pasangan saling mencintai dengan rasa yang tulus. Dan hal yang paling utama adalah takdir yang sudah menggariskan dua anak manusia untuk menjadi satu.
Kedatangan Erin dan Jimmy langsung disambut oleh pegawai restoran tersebut. Orang tersebut langsung mengarahkan langkah mereka ke sebuah meja yang berada di lantai dua, disana pun tampak kosong, padahal dilantai bawah sudah penuh.
''Silahkan Tuan, Nona ..,'' ucap pegawai itu.
''Terima kasih.'' ucap Jimmy.
Erin ikut membungkukkan kepalanya sembari tersenyum tipis pada pegawai itu.
Jimmy langsung menarikkan kursi untuk sang kekasih.
''Silahkan, Nona.'' ucap Jimmy dengan senyuman di bibirnya.
Erin langsung menutup mulutnya karena ingin tertawa mendengar panggilan itu.
''Terima kasih, Kak.'' ucap Erin lirih sambil mendongak karena Jimmy masih berada di belakangnya.
''Sama-sama, sayang.'' balas Jimmy kemudian pindah ke kursinya yang berhadapan dengan sang kekasih.
Tidak lama kemudian, pelayan datang mengantarkan minuman pembuka.
''Kakak booking lantai ini, ya?'' tanya Erin sedikit berbisik ketika pelayan tadi sudah pergi.
''Iya, Kakak nggak mau terganggu sama pengunjung lain.'' jawab Jimmy jujur apa adanya.
Sesuai dengan apa yang sudah diduga, karena tidak masuk akal restoran ini akan sepi, apalagi sudah jelas di lantai bawah sangat penuh.
__ADS_1
''Terima kasih, Kak.'' ucap Erin yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Jimmy.