Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 88 : Lebih Baik Kita Buat Adonan


__ADS_3

''Bukan begitu juga Mas..'' dilihatnya ponsel yang masih ada di genggaman tangannya.


Mentari maju selangkah hendak mencium punggung tangan suaminya yang baru pulang dari kantor.


Setelah menerima ciuman Mentari di punggung tangannya, Edgar langsung menarik Mentari ke dalam pelukannya.


''Mama yang menelpon, Mas.'' ungkap Mentari jujur.


''Ohh, mama..''


Bukan respon yang terkejut, Edgar justru menunjukkan respon yang santai sehingga membuat Mentari mengerutkan keningnya.


Mentari menjawab dengan anggukan. ''Iya Mas.''


''Aku merekam suara beliau.''


Mentari menyerahkan ponselnya kepada Edgar.


Edgar menerima ponsel Mentari dengan melangkahkan kakinya ke dalam. Mentari yang masih berada di dalam pelukannya pun sudah pasti otomatis mengikuti langkah suaminya dengan perasaan yang cemas. Meskipun respon dari Edgar terlihat biasa saja, Mentari masih saja menyimpan rasa cemas.


Sesampainya di dalam kamar, Edgar meletakkan ponsel Mentari ke sofa terlebih dulu. Lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Mentari dengan menatap mata sang istri penuh cinta.


Mendapatkan tatapan itu membuat Mentari kembali mengernyitkan keningnya.


''Kok belum di dengarkan, Mas?'' tanya Mentari.


''Nanti saja, aku masih sangat merindukan istriku yang cantik ini.'' Edgar mengeecup bibir Mentari sekilas.


Mentari menyimpulkan senyumnya.


''Coba dengar sekarang gih..'' titah Mentari.


Edgar hanya mengangguk. Ia lalu menarik sang istri untuk duduk di pangkuannya ketika duduk di sofa.


''Kita dengarkan sama-sama.'' ucap Edgar.

__ADS_1


Mentari menjawab dengan anggukan.


Edgar mencari aplikasi penyimpan hasil rekaman suara tadi, setelah mendapatkan, ia langsung menambah volume suaranya agar bisa didengarkan dengan jelas oleh keduanya.


Edgar memegang ponsel sang istri, mendengar suara rekaman hasil percakapan Mentari dengan mantan mertuanya. Sesekali Edgar menaikkan sudut bibirnya yang atas. Sedangkan Mentari sesekali mencuri pandang ke suaminya untuk melihat bagaimana reaksinya.


Setelah selesai, Edgar meletakkan kembali ponsel Mentari di sampingnya. Mentari sangat menantikan tanggapan dari sang suami.


''Kita memang bagus kalau selalu berfikir positif ke siapapun. Tapi, jangan lupa untuk menyisakan ruang agar kita tetap menjaga diri dari siapapun dan apapun. Kamu akan selalu baik-baik saja asalkan tidak ada yang kamu tutupi dari suamimu ini.'' Edgar mengucapkan dengan kalimat yang teduh. Tangan kanannya sembari membelai wajah Mentari.


''Terimakasih ya Mas..'' ucap Mentari lalu menenggelamkan wajahnya di dada Edgar.


Edgar mengusap lembut rambut Mentari.


°°


Tidak mau dipusingkan dengan mantan mama mertua. Mentari dan Edgar memilih untuk menyiapkan segala keperluan yang akan dibawa besok.


Koper-koper berukuran besar sudah berisi segala kebutuhan.


Bagi Edgar, bepergian ke luar negeri tentu saja hal yang biasa baginya. Tapi, beda dengan Mentari, ia sangat antusias untuk perjalanannya ini.


''Sayang..'' panggil Edgar yang sedang duduk di sofa. Ia melihat Mentari yang memeriksa kembali koper-koper yang sudah merasa tata dengan rapi.


''Hemm, kenapa Mas?''


''Sini..''


Mentari pun nurut, ia langsung mendekati sang suami dan duduk disebelahnya.


''Sudah, jangan capek-capek, perjalanan kita besok masih panjang. Disana kita akan bekerja lebih keras lagi untuk generasi penerus Raymond.'' goda Edgar dengan mengusap lembut perut sang istri.


''Apaan sih Mas..'' Mentari menarik tangan Edgar yang di perutnya. Ia masih merasa malu jika harus membahas hal itu.


Edgar semakin mendekatkan wajahnya, ia sangat menyukai melihat wajah Mentari yang sudah memerah.

__ADS_1


''Maaaasss..'' Mentari menutupkan telapak tangannya di wajah Edgar.


''MAS!''


Mentari spontan berteriak karena Edgar sangat jahil. Ia tidak kehabisan akal untuk menggoda istrinya, saat kedua matanya tidak bisa menatap wajah Mentari yang memerah. Edgar justru menangkupkan kedua tangannya di dua gunung kembar milik sang istri, sehingga membuat pemiliknya terkejut.


Hahahaha


Edgar justru langsung tertawa mendengar teriakan Mentari, ia langsung memeluk Mentari dengan erat dan meminta maaf.


''Maaf, maaf..''


Karena ulahnya, bibir Mentari pun langsung mengerucut sempurna dan melengos. Hal itu membuat Edgar semakin merasa gemas. Tapi, masih berusaha menahan untuk tidak melanjutkan isengnya.


''Udah jangan ngambek, lebih baik kita buat adonan yuk..'' bisik Edgar dengan meniupkan nafasnya di telinga Mentari.


''Hobi jail, ujung-ujungnya minta jatah.'' sungut Mentari yang langsung mendapat gelak tawa dari Edgar. Edgar tau jika Mentari sedang tidak benar-benar marah.


Edgar menjatuhkan tubuh Mentari di sofa tersebut, ia mengurungnya disana.


''Kamu juga merindukanku, kan?''


Mentari langsung melengos agar sang suami tidak melihat wajahnya yang kembali memerah. Edgar tau jika Mentari sedang menahan senyumnya dengan menggigit kuat bibir bawahnya.


Edgar menatap setiap lekuk tubuh Mentari, lalu semakin mendekatkan wajahnya hingga hanya berjarak sekitar satu sentimeter saja.


Deru nafas Mentari langsung semakin kencang, begitupun dengan detak jantungnya.


''Let's go..'' bisik Edgar lagi dan langsung memulai permainannya.


...•••••••...


...Author Cimai mohon maaf untuk beberapa hari ini bolong-bolong update nya🙏...


...Dikarenakan ada anggota keluarga yang meninggal dunia pada hari Minggu kemarin, dan sekarang author masih berada dirumah duka, rencananya sampai selesai 7 hari. Disini author jarang pegang hp karena harus membantu-bantu semua persiapan. Dan author juga merasa tidak sopan jika masih berkumpul, tapi, malah sibuk dengan ponselnya....

__ADS_1


...Alhamdulillah malam ini bisa up meskipun tidak banyak🙏...


...Author Miss kalian semuanya ❤️...


__ADS_2