Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 106 : Usaha Kami Bangkrut


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan pasca kepulangannya dari honeymoon. Edgar dan Mentari kembali menjalani hari-hari biasa. Namun, ada permintaan Edgar yang dihentikan. Yakni mengenai permintaannya untuk dibuatkan makan siang. Mentari sudah mewujudkannya beberapa kali, tetapi Edgar merasakan tidak tega ketika melihat sang istri yang ia anggurkan di dalam ruangan kerjanya, meskipun disana ada ruangan khusus untuk beristirahat. Sedangkan ia kerap melakukan kegiatan yang mengharuskan keluar dari kantor.


Di tengah-tengah pandangannya yang serius menatap layar televisi, ponsel Mentari berdering dari nomor yang tidak asing, tetapi bukan nomor suaminya. Mentari tersenyum tipis menyunggingkan sudut bibirnya.


''Hallo Ma, apa kabar?'' sapa Mentari ramah.


Mama mertua yang sudah cukup lama tidak menghubungi, kini, balik lagi.


''Kabar Mama baik, sayang. Kamu gimana?'' tanyanya balik.


''Aku juga baik Ma.'' jawab Mentari.


Tiba-tiba terdengar suara wanita itu terisak-isak. Mentari mengernyitkan keningnya dan mempertajam indera pendengarannya.


''Mama? Mama kenapa?'' tanya Mentari seolah khawatir. Mentari mengecilkan volume suara televisi agar semakin jelas mendengar apa yang dikatakan oleh mantan mertuanya.


Dan sebelum mempertanyakan itu, Mentari menekan tanda rekam. Untuk ia laporkan nanti kepada sang suami.


''Dira..'' wanita itu kembali terhenti.

__ADS_1


''Iya Ma, kenapa Mama menangis? Mama ada masalah apa?''


Mentari bukan Dira yang dulu. Yang dengan mudahnya kau bod*hi demi keuntungan pribadi. Tak ingin lagi kebod*hannya dulu terulang kembali demi sekeluarga yang tidak pernah menghargainya. Terasa sesak di dada ketika teringat momen itu. Mentari tetap berusaha untuk tenang, ia menghela nafasnya berkali-kali.


''Mama tenang dulu ya, tarik nafas. Cerita sama aku, ada apa?'' tanya Mentari.


Wanita itu disana tersenyum menyeringai. Seakan yakin dengan rencana yang sudah ia rancang akan berhasil.


''Dira.. Mama tidak tau lagi harus meminta tolong dengan siapa. Mama.. Mama sebetulnya juga malu bicara ini sama kamu, nak.. tapi, Mama sudah bingung.''


Mentari menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan pelan agar tidak terdengar oleh wanita itu.


''Katakan saja Ma, apa yang bisa aku bantu? dan apa masalah Mama? aku menjadi sangat khawatir mendengar suara Mama seperti itu.''


Ternyata masih tidak berubah, wanita paruh baya itu hanya menginginkan uang, uang, dan uang. Kali ini, ia kembali lagi setelah mengetahui mantan menantunya itu sudah menjadi istri orang kaya.


Mentari tak habis pikir, apakah sudah hilang rasa malu dalam diri wanita itu. Mentari berusaha sabar dan meladeni apa yang dikatakan oleh mantan mertuanya itu.


''Jadi, apa yang bisa aku bantu sekarang, Ma?'' tanya Mentari berakting seramah mungkin.

__ADS_1


Wanita itu tersenyum menyeringai dibalik ponselnya.


''Dira, e.. maksud Mama, Mentari.. bisakah kamu membantu Mama dengan memberikan pinjaman? E.. Mama janji akan mengembalikannya, Nak.'' tutur wanita itu meyakinkan.


''Aku akan mengusahakan ya Ma.. tapi, aku diskusikan dulu dengan suamiku terlebih dahulu.''


''Te-terimakasih banyak sayang. Mama tidak tau lagi harus meminta tolong kepada siapa. Mama sebenarnya malu.''


''Iya Ma, tidak apa-apa. Mama dan papa jaga kesehatan ya..''


''Iya, Nak.. terimakasih sudah mendengar keluhan Mama. Mama merindukanmu, Nak..''


Setelah berbicara dengan mantan mertuanya, Mentari menjalani hari-hari biasa dengan membantu dibawah. Bergabung dengan para asisten rumah tangga membuatnya senang, meskipun tidak dibiarkan melakukan pekerjaan yang berat. Ia juga menyadari, keberadaannya di dapur membuat para pekerja menjadi canggung ketika melakukan aktivitas.


Selesai membantu sekedarnya, Mentari bersiap-siap menyambut kedatangan Edgar yang sebentar lagi datang.


Benar saja, suara mobil memasuki halaman rumah. Mentari segera melangkahkan kakinya ke ruang tamu.


''I miss you, sayang..'' ucap Edgar langsung mengecup kening Mentari mesra.

__ADS_1


''Sama.'' jawab Mentari pelan. Malu jika di dengar oleh orang lain.


Edgar mengusap lembut rambut Mentari lalu kembali mengecupnya.


__ADS_2