Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 176 : My Little Girl


__ADS_3

''Papi ... Mami ..!''


Erin sedikit berlari menuju kedua orangtuanya yang sudah siap menyambut anaknya yang berhasil dalam pendidikannya itu. Apalagi nilai yang didapatkan Erin sangat memuaskan. Orangtua mana yang tidak bangga dengan pencapaian seperti ini. Hal itulah yang tengah dirasakan oleh pasangan suami istri senior itu.


Tuan Erick dan mami sudah berdiri dengan membawa bucket bunga, yang sesaat lagi bucket bunga tersebut akan beralih ke tangan putrinya.


''Congratulation ... my little girl.'' ucap papi dengan tangan yang sudah direntangkan.


Erin langsung menelusup ke dalam pelukan ayahnya, mami pun ikut memeluk putrinya itu dari samping. Ketiganya saling berpelukan lama tanpa kata-kata. Bahkan, pria paruh baya itu terlihat secepat kilat menyeka airmatanya agar tidak lolos dari pelupuk matanya.


''Selamat ya, Nak ... Mami sangat bangga dengan gadis kecil Mami ini.'' ucap mami lalu ketiganya pun sama-sama mengurai pelukan.


''Ahh, terima kasih, Papi, Mami ... meskipun aku selalu kesal karena masih terus dikatakan gadis kecil.'' balas Erin yang sekaligus mengungkapkan perasaannya itu.


Mereka pun langsung tertawa bersamaan.


Tuan Erick dan mami pun juga berbincang-bincang hangat dengan beberapa teman Erin yang disana setelah memberikan ucapan selamat.


Tidak terlihat jarak diantara mereka. Semua saling berbaur dan melakukan sesi foto bersama untuk mengabadikan momen kelulusan ini.


Dari jarak yang tidak begitu jauh, seseorang menyaksikan momen bahagia itu dengan senyuman yang tidak luntur dari bibirnya. Ia sengaja untuk tidak langsung mendekat, agar satu keluarga inti itu lebih dulu menikmati momen. Dan juga Erin bersama teman-temannya yang terlihat masih memanfaatkan momen itu sebelum terjadinya perpisahan.


''Saatnya aku kesana.'' gumam Jimmy lalu menarik nafasnya dalam-dalam.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Jimmy sudah bersiap untuk melangkah dengan yakin.


Langkahnya sangat gagah dan yakin. Ia mengenakan setelan batik yang senada dengan keluarga bosnya. Sudah pasti hal itu sudah di atur oleh Mentari. Ditangannya membawa sebuah bucket bunga yang indah. Senyumnya pun tak lepas dari bibirnya saat melangkah untuk memberikan kejutan.


''Semoga benar-benar terkejut.'' bathin Jimmy.


Erin masih berbicara dengan kedua orangtuanya. Teman-temannya juga sudah sibuk dengan keluarganya masing-masing. Sedangkan Jimmy berjalan dari arah belakang Erin. Sehingga kehadirannya benar-benar tidak terlihat dari pandangan Erin.


''Selamat atas kelulusan anda, Nona Erin.''


Erin langsung terdiam saat tengah berbincang seru dengan kedua orangtuanya.


''Pi, Mi, seperti ada suara kak Jimmy, ya? apa aku salah dengar?'' tanya Erin dengan menatap kedua orangtuanya secara bergantian. Karena ia tidak ingin hanya salah dengar atau berhalusinasi yang disebabkan oleh kerinduannya.


Kedua orangtuanya justru tidak menjawab iya atau tidak, mereka justru hanya tersenyum.


''Pi, Mi ... kok malah senyum-senyum?'' tanya Erin heran.

__ADS_1


Tuan Erick memegang kedua bahu putrinya, lalu diputarnya bahu Erin agar menoleh ke belakang.


Erin langsung terkejut, bahkan tidak menyadari mulutnya menganga dan kedua mata terbelalak. Hampir saja tubuhnya terjatuh ke belakang, untung saja kedua orangtuanya sigap menangkap punggung Erin.


''Kkk-Kak Jimmy!!'' pekik Erin menatap Jimmy dengan gugup yang membuatnya menjadi gagap.


Jimmy tersenyum lalu mengangguk. Ia menyerahkan bucket bunga yang ia bawa.


Erin pun menerimanya dengan wajah yang masih belum percaya atas kehadiran Jimmy.


''Once again ... selamat atas kelulusan anda, Nona Erin.'' ucap Jimmy.


Erin langsung nyengir terlebih dahulu, rasanya aneh dengan panggilan itu. Karena sudah sejak beberapa waktu terakhir ini panggilan Jimmy pada Erin sudah berubah.


''Ohhh, ya-ya, thank you ... terima kasih, Kak.'' balas Erin yang ditangannya sudah memegang 3 buah bucket bunga.


''Anda hebat.'' puji Jimmy.


Lagi-lagi, Erin hanya nyengir.


''Terima kasih.'' ucap Erin.


Jimmy mengangguk.


Erin kembali menghadap ke arah kedua orangtuanya. Dengan perlahan kesadarannya sudah kembali tertata, meskipun belum seutuhnya.


''Apakah ada yang bersedia memberikan aku penjelasan tentang ini?'' tanya Erin menatap kedua orangtuanya secara bergantian.


Pasangan senior itu justru kompak mengangkat kedua bahunya.


''Tanyakan langsung pada Jimmy, karena Mami dan papi pun juga dibuat terkejut tadi pagi setelah kamu masuk ke dalam.'' jawab mami.


Tentu saja jawaban dari mami tidak membuat Erin puas. Ia beralih menatap Jimmy untuk mendapatkan jawaban yang ia mau.


''Saya mendapatkan perintah dari kakak-kakak anda, Nona.'' jelas Jimmy yang menerima tatapan intimidasi dari kekasihnya itu.


Sebenarnya Erin juga sudah menebak kalau ini semua pasti ide dari kakak iparnya. Dengan kekuatan hamil, Edgar pasti menuruti apa yang terucap oleh Mentari. Hanya saja, Jimmy benar-benar sangat pandai menyembunyikan hal ini dan berhasil membuat Erin terkejut.


''Oohhhhh ... jadi ide dari mereka??!'' tanya Erin pura-pura cemberut.


''Kenapa?'' tanya papi, mami, dan Jimmy secara bersamaan. Karena melihat ekspresi wajah Erin terlihat seperti orang tidak suka.

__ADS_1


Mendengar kekompakan itu membuat Erin langsung tertawa.


''Haha ... kirain ide Kak Jimmy sendiri yang mau datang kesini. Hmmmm, ternyata ide mereka. Berarti kalau Kak Jimmy nggak dapat perintah dari mereka untuk datang kesini, Kak Jimmy nggak mau kesini, gitu?!''


''Bukan begitu, e ..,'' Jimmy menggantungkan kata-katanya karena takut salah ucap.


''Sudah-sudah.''


''Erin tidak boleh begitu, bersyukurlah dengan kehadiran satu kakakmu, walaupun nggak lengkap.'' timpal mami.


''Hehe iya Mamiku sayang ... aku tadi hanya becanda saja kok. Iya kan, Kak?'' Erin mengedipkan satu matanya untuk memberikan kode pada kekasihnya itu.


''Ah, iya, benar sekali.'' jawab Jimmy gantian gugup.


Erin tersenyum dan kembali menghadap kedua orangtuanya.


"Tentu saja aku sangat senang dengan kehadiran Kak Jimmy disini. Dan aku senang sekali karena kak Edgar dan kak Mentari tetap mengusahakan untuk ada yang hadir selain Papi dan Mami. Emm, lebih tepatnya ide dari kak Mentari." ujar Erin.


"Pasti ide itu datang dari kak Mentari, kan?" tebak Erin menatap Jimmy.


Jimmy pun langsung mengangguk.


"Benar, sa-"


"Benar sakali, Nona."


Erin sudah melotot karena Jimmy hampir saja keceplosan dalam memanggilnya. Untung saja Jimmy pun juga langsung tersadar atas kesalahannya dan belum mengucapkan kata itu sampai lengkap.


"Ya, ya ... kakak iparku benar-benar pengertian." puji Erin.


Acara hari ini akhirnya selesai setelah berjam-jam. Jimmy tadinya ingin kembali ke hotel tempatnya menginap, tetapi tuan Erick mengajaknya untuk ke rumahnya.


"Apa Edgar memberikanmu waktu yang singkat atau sedikit lebih longgar, Jim?" tanya tuan Erick.


"Tuan Edgar sudah memberikan batas sampai besok, Tuan. Jadi, jika tidak ada halangan, lusa saya akan kembali ke Indonesia." jawab Jimmy sembari meletakkan gelas kopi ke atas meja.


Tuan Erick pun mengangguk paham.


"Kamu sangat bekerja keras untuk kami, Jim. Terutama untuk putra saya." ujar tuan Erick.


Jimmy tersenyum tipis.

__ADS_1


"Sudah menjadi tanggung jawab saya, Tuan." jawab Jimmy.


Tuan Erick tersenyum, lalu kembali menyeruput kopi yang dibuatkan oleh sang istri.


__ADS_2