Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 242 : Ojo Dibanding-bandingke


__ADS_3

Memiliki saudara ipar yang bisa di ajak untuk berbagi cerita. Tentu saja dambaan bagi siapapun, termasuk Mentari dan juga Erin. Mentari sangat bersyukur bisa diterima dengan baik oleh keluarga suaminya. Begitupun sebaliknya, Erin bersyukur mendapatkan kakak ipar yang bisa mendengar ceritanya. Tak hanya membuat sang kakak jatuh cinta, tetapi Mentari berhasil membuat adik iparnya itu sangat menyayanginya.


''Kenapa mata Kak Mentari berkaca-kaca?'' tanya Erin khawatir.


''Pasti kak Edgar bikin ulah? iya 'kan, Kak?''


''Oke! Kak Mentari sekarang tenang dulu, jangan berpikiran yang macam-macam. Cerita sama aku.'' ujar Erin dengan suara yang menggebu-gebu. Ia menarik pelan tangan Mentari untuk masuk.


Mentari mengernyitkan keningnya sembari tertawa kecil.


''Kakak baik-baik saja, Erin. Kakak masih terharu karena ingat sama momen kamu semalam.'' jelas Mentari kemudian melanjutkan tawa kecilnya.


Erin langsung nyengir karena sudah salah mengira.


''Ku kira karena kak Edgar.'' balas Erin.


Mentari terkekeh lagi.


''Hmmm.'' Erin menyandarkan kepalanya sembari menatap langit-langit kamar.


Bibirnya tersenyum manis, lalu kemudian menatap kakak iparnya itu.


''Aku juga tidak nyangka, Kak. Rasanya masih seperti mimpi. Mimpi yang sangat indah.'' ujar Erin.


''Dan itu bukan mimpi.'' timpal Mentari.


Erin semakin memperlebar senyumnya. Ya, ini bukanlah mimpi. Jantungnya semakin berdebar-debar.

__ADS_1


''Dan sekarang aku sedang memikirkan bagaimana nantinya kalau pernikahan itu benar-benar terjadi. Kak Edgar tidak bisa jauh dari kak Jimmy, sedangkan papi juga berharap aku stay disana, mengurus perusahaan disana. Tapi, mana bisa kami menikah, tapi, tinggal dalam keadaan berpisah jauh.'' keluh Erin ketika membayangkan masa depannya sendiri.


Sangat menyedihkan bila tidak berada di sisi suaminya. Sedangkan kedua kakaknya bisa bermesraan setiap saat, sementara dirinya dan Jimmy gigit jari. Sebuah bayang-bayang yang Erin upayakan untuk di hempas jauh, karena semakin membuatnya sedih.


Mentari tersenyum tipis lalu menggenggam tangan Erin. Keduanya saling menatap satu sama lain.


''Kalau papi dan mami sudah merestui, itu artinya mereka sudah menyiapkan solusi untuk kalian berdua.'' ujar Mentari kemudian tersenyum.


''Kakak yakin, papi dan mami tidak mungkin tergesa-gesa memberikan kata restu tanpa memikirkan masa depan kalian nantinya.'' sambung Mentari.


''Perjalanan menunggu hari itu masih satu tahun lagi. Ada waktu yang pastinya akan papi persiapkan untuk anak-anaknya. Yang penting sekarang kamu fokus dengan apa yang papi percayakan.'' tutup Mentari.


Kekhawatiran yang tengah Erin rasakan bukanlah hal yang salah, tentu saja itu perasaan yang sangat wajar. Semua itu ia lihat dari berbagai sisi yang imbang. Namun, jawaban kakak iparnya itu berhasil membuat Erin cukup lebih lega. Dan berharap memang ada solusi terbaik untuk semuanya.


Erin semakin menyayangi kakak iparnya itu. Karena setiap respon yang keluar dari mulut Mentari, bisa membuat gadis itu merasa lebih tenang.


''Kak..,'' panggil Erin.


''Thank you so much.'' ucap Erin lalu memeluk kakak iparnya itu.


Mentari membalas pelukan itu sembari mengusap punggung Erin.


Setelah itu, Erin mengurai pelukannya dengan senyum yang masih bertahan di bibirnya.


''Aku harus bersyukur karena kak Edgar sudah berpisah dengan wanita itu!'' sungut Erin.


''Husstt.'' sahut Mentari.

__ADS_1


Erin langsung menoleh ke arah kakak iparnya itu dengan alis yang hampir menyatu. Sementara Mentari tetap tersenyum supaya adik iparnya itu tidak tersulut emosi ketika mengingat kisah masa lalu kakaknya.


''Bagaimana pun juga, dia pernah hadir di kehidupan kalian, 'kan?''


''Kakak juga tidak mau dibanding-bandingkan dengan siapapun, apalagi masalalunya. Karena Kakak akan tetap seperti ini.'' ujar Mentari.


Seketika Erin langsung merasa bersalah karena secara tidak langsung akan membawa pada sebuah perbandingan. Hal yang pastinya tidak akan di sukai oleh pasangan manapun.


''Aku minta maaf, Kak. Aku tidak bermaksud untuk membandingkan Kakak dengan siapapun. Karena aku sudah sangat mensyukuri dengan kehadiran Kakak ditengah-tengah keluarga kami.'' ucap Erin.


Mentari kembali tersenyum tipis.


''Ojo dibanding-bandingke, nanti Kakak bisa nangis, lho.'' canda Mentari kemudian mencubit gemas hidung mancung adik iparnya.


''Terima kasih, Kak. Beneran maafkan aku ya?'' pinta Erin yang butuh kepastian.


Mentari berubah menjadi terkekeh.


''Sudah jangan sedih-sedihan lagi, ayo keluar, jangan di kamar terus. Mami pasti sudah nunggu.'' ajak Mentari.


Erin langsung beranjak tanpa penolakan.


Mereka ke dapur untuk membuat sesuatu sebelum berpisah lagi. Disana sudah ada mami yang siap dengan celemek. Bahan-bahan kue juga sudah siap di atas meja.


''Hay, sayang.'' sapa mami.


''Maaf Mi, kami baru datang.'' ucap Mentari.

__ADS_1


''Ahh, justru seharusnya kamu istirahat saja, sayang. Ingat lho ya, jangan lakukan aktivitas yang berat-berat.'' ujar mami mengingatkan.


Mentari mengangguk sembari tersenyum.


__ADS_2