Janda Kembang Pilihan CEO Duda

Janda Kembang Pilihan CEO Duda
Part 232 : Peresmian


__ADS_3

Peresmian cabang perusahaan Raymond sudah siap di mulai pada hari ini. Di lokasi acara, beberapa pasang tenda besar sudah terpasang dengan rapi di halaman yang luas itu. Meja-meja berjejer dan sudah di penuhi berbagai macam paket hadiah yang akan di bagikan untuk yang hadir. Tak ketinggalan yang paling utama adalah snack box dan nasi kotak yang akan dibagikan untuk semuanya yang hadir.


''Rombongan tuan Erick sudah take off.'' ujar ketua penyelenggara acara ini.


Semua tim siap dengan tugasnya masing-masing. Baik dari konsumsi, hingga keamanan.


Dari kota, rombongan tuan Erick sudah memasuki private jet. Mereka terdiri dari keluarga, orang-orang yang merupakan pemilik jabatan tinggi di perusahaan, dan tentunya beberapa pengawal yang tak luput dari acara penting ini.


''Kakak, duduk dekat aku ya.'' pinta Erin sedikit manja pada kakak iparnya itu.


Mentari hendak mengiyakan, tetapi tangannya sudah ada yang sigap menahannya.


''Kamu duduk dekat mami.'' sergap Edgar lalu menggandeng tangan Mentari.


Edgar langsung menatap bola mata Mentari dengan lekat agar menolak permintaan Erin itu. Akhirnya Mentari pun hanya bisa nyengir dan meminta maaf pada Erin.


''Ish, dasar kak Edgar pelit!'' omel Erin sembari menggerutu. Tapi, volume suaranya ia pelankan karena agar tidak terdengar oleh orang lain.


Jimmy yang juga berada di tempat yang sama pun hanya bisa tersenyum tipis melihat kelakuan kakak beradik itu. Ia duduk berdekatan dengan tuan Erick.


Private jet pun akhirnya siap mengudara di waktu pagi ini. Karena acara akan di mulai pada pukul 10.00 wib.


Setelah menjelajahi perjalanan di udara, rombongan pimpinan pun akhirnya tiba di daerah tujuan. Cuaca cerah semakin memperlancar perjalanan mereka.


Keluarga inti Raymond langsung menuju ke tempat singgah terlebih dahulu sebelum menuju ke lokasi acara. Sedangkan Jimmy bersama dengan yang lainnya langsung menuju ke tempat tujuan.


Erin merentangkan kedua tangannya melihat pemandangan perkebunan yang sangat luas dari jarak jauh. Sangat berbanding terbalik dengan pemandangan yang biasa ia lihat yaitu gedung-gedung tinggi.


Sedangkan Mentari mengedarkan pandangannya ke sekeliling arah yang ada di depan matanya. Bathinnya hanya bisa berkata dan mensyukuri betapa ia diuntungkan dengan hal duniawi seperti ini.


''Semoga apa yang dititipkan pada kami, kami tak pernah lupa untuk selalu berbagi pada sesama.'' bathinnya.


Mereka hanya singgah sebentar di rumah yang sengaja di bangun untuk keluarga ketika sewaktu-waktu akan mengunjungi tempat tersebut. Mereka pun langsung menuju ke tempat acara. Disana sudah tampak ramai.


Seluruh anggota keluarga dan petinggi lainnya sudah menempati posisi barisan paling depan. Pembawa acara pun sudah memulainya.

__ADS_1


Yang mereka kenakan hari ini adalah seragam batik. Terlihat elegan dan formal untuk acara hari ini.


Tiba pada waktunya, Edgar Raymond sudah dipersilahkan untuk maju ke depan memberikan sambutannya. Ia pun melangkah maju dengan gagah menggantikan posisi sang ayah yang sudah memberikan kepercayaan padanya.


Gemuruh suara tepuk tangan terdengar meriah saat mengiringi langkah Edgar. Ia pun langsung membungkukkan badannya setelah tiba di atas panggung yang sudah disediakan.


''Terima kasih, terima kasih.'' ucapnya.


Gemuruh suara tepuk tangan pun langsung berhenti ketika mendengar ucapan terima kasih.


Edgar menarik nafasnya dalam-dalam, sebelum memulai kalimat-kalimatnya.


''Selamat siang semuanya ... assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.'' ucap Edgar. Karena saat ia maju, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas siang.


''Siaaang''


''Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh''


Jawaban salam tak kalah serempak.


Pria paruh baya itu pun langsung berdiri dan menangkupkan kedua tangannya ke semua orang yang hadir.


"Karena ini semua hasil proses kegigihan dari orang tua saya. Saya hanyalah seorang anak yang bekerja untuk mereka yang usianya semakin bertambah."


Edgar menghentikan rangkaian kalimatnya sejenak karena mendengar suara gemuruh tepuk tangan.


''Setelah memakan waktu yang sangat tidak sebentar, mulai dari perawatan perkebunan yang berada di beberapa daerah di kabupaten X, dan proses pembangunan kantor administrasi ini serta tempat tinggal untuk para karyawan yang berada disini maupun di perkebunan, akhirnya pada hari ini, saya dan keluarga hadir bersama orang-orang hebat yang selalu mengiringi langkah Raymond group untuk terus bergerak maju, siap meresmikan bersama bapak-bapak, ibu-ibu, dan adik-adik yang telah meluangkan waktunya untuk hadir di acara peresmian ini.''


''Saya berharap, apa yang kami upayakan selama ini bukanlah semata-mata hanya untuk kesenangan pribadi dan dunia semata. Kami ingin apa yang kita hasilkan membawa manfaat bagi kita semua.''


Ungkapan panjang Edgar pun kembali menghasilkan gemuruh tepuk tangan.


''Kami harap, bapak-bapak, ibu-ibu, tidak perlu khawatir tentang tenaga kerja yang kami terima. Kami akan tetap mengutamakan tenaga kerja dari penduduk lokal, tentunya dengan persyaratan yang tidak saling merugikan.''


''Namun, kami tetap membawa tenaga kerja yang sudah memiliki pengalaman bersama kami. Karena seorang senior tetap akan dibutuhkan dalam membimbing mereka yang belum memiliki pengalaman.'' jelasnya.

__ADS_1


"Sepertinya saya tidak akan berlama-lama berada di atas panggung ini. Ternyata saya cukup grogi juga." candanya.


Gelak tawa langsung terdengar di bawah tenda.


"Spesial terima kasih untuk ibu saya."


"Tentunya juga istri saya tercinta, i love you, sayang." ucap Edgar sembari menatap Mentari dari atas panggung.


Mentari langsung terkejut.


Gemuruh suara tepuk tangan semakin keras ketika seorang Edgar bersikap romantis di depan banyak orang.


Sedangkan Mentari yang mendapatkan ucapan romantis itu langsung menangkupkan kedua tangannya sembari senyum-senyum.


Semua mata pun langsung tertuju pada sosok wanita yang berada dibarisan depan itu.


"Dan ada adik saya yang cantik. Ya, karena adik saya hanya satu, jadi saya terpaksa bilang dia cantik.'' canda Edgar lagi.


Erin langsung melotot dari kejauhan. Namun, dengan cepat ia merubah raut wajahnya menjadi senyum karena Edgar juga terkekeh sendiri.


''Tapi, warga sini tidak ada yang boleh menaksir adik saya ya, karena dia sudah memiliki calon suami.''


Jimmy juga langsung terkejut mendengar kalimat dari bosnya yang kemana-mana itu. Tapi, tak di pungkiri ia merasa bahagia karena artinya Edgar benar-benar sudah memberikan lampu hijau.


''Lanjutkan Tuan, biar tidak ada yang melirik calon istri saya.'' bathinnya.


''Saya juga heran, jaman sekarang anak-anak kecil sudah pada berani untuk menikah.''


"Kak Edgaaaaarrrr!" gerutu Erin dalam hati.


Dari kejauhan, Mentari memberikan tatapan lurusnya dan Edgar menangkap itu. Ia langsung peka bahwa tatapan itu merupakan kode untuk tidak membully sang adik.


"E.., baiklah, untuk menutup kalimat sambutan dari saya. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya.''


''Semoga bapak-bapak, ibu-ibu, dan juga adik-adik tidak kecewa dengan apa yang kami sediakan.'' tutup Edgar.

__ADS_1


Acara pun dilanjutkan dengan do'a bersama yang di pimpin oleh seorang tokoh agama di daerah tersebut. Lalu dilanjutkan lagi dengan pemukulan gong dan pemotongan pita.


__ADS_2